Selasa, 21 April 2026

Premium Kembali Langka di Batuaji dan Sagulung Kota Batam

Berita Terkait

batampso.co.id – Bahan bakar minyak jenis premium kembali langka di Batuaji dan Sagulung. Pengendara kewalahan mendapatkan BBM bersubsidi tersebut sepekan belakangan ini.

Seperti biasa kelangkaan terjadi karena pasokan premium tidak merata di semua SPBU dalam waktu yang bersamaan.

Jika satu atau dua SPBU memiliki stok, maka SPBU lainnya kosong. Masyarakat harus berjuang lebih keras mendapatkan premium di SPBU.

Antrean panjang yang memakan waktu hingga sejam harus dilalui pemilik kendaraan untuk mendapatkan premium.

Ini jadi keluhan serius masyarakat di sana sebab untuk mendapatkan premium harus meluangkan waktu lebih lama untuk antre di SPBU.

Masyarakat yang buru-buru atau hanya memiliki sedikit waktu luang harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengisi pertalite atau premium eceran di pinggir jalan.

“Selalu seperti ini di sini, premium itu bisa dibilang barang langka,” keluh Sandro, pekerja galangan di Tanjunguncang, Jumat (16/8/2019).

Para pengendara sepeda motor mengantre di salah satu SPBU di kawasan Batuaji, Kota Batam. masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapatkan premium di SPBU yang ada di Batuaji dan Sagulung. Foto: Eja/batampos.co.id

“Nasib-nasib untuk bisa dapat isi premium karena cepat kali habisnya. Dua tiga jam saja sudah ludes jadi kalau datang terlambat ya tak dapat,” jelasnya lagi.

Meskipun premium di SPBU langka, namun premiun di pedagang eceran tetap stabil. Pedagang eceran selalu memiliki stok premium sepanjang waktu.

Informasi yang berkembang di lapangan, stok premium di pedagang eceran ini umumnya didapat dari SPBU dengan cara melansir.

Modus melansir beragam, ada yang menggunakan surat rekomendasi untuk kaum nelayan serta masyarakat pulau, ataupun dengan cara antre berulang-ulang di SPBU yang memiliki stok premium.

Dugaan ini benar, adanya sebab pantauan Batam Pos di lapangan, kendaraan yang antre mendapatkan premium umumnya kendaraan siluman.

Kendaraan siluman ini memiliki tanki modifikasi yang jauh lebih besar dari ukuran normalnya. Mereka menyedot premium sangat hanyak.

SPBU simpang Tobing dan Tanjunguncang misalkan, pembelian menggunakan wadah yang diklaim sebagai penyalur BBM untuk nelayan sangat banyak.

Sehari bisa 80-an pemegang surat rekomendasi yang antre di SPBU. Benar atau tidak disalurkan ke nelayan, namun pembelian menggunakan wadah ini sangat berdampak pada kelangkaan premium di wilayah tersebut.

Satu pemegang surat rekomendasi diizinkan mendapatkan premium di atas 3.000 liter dalam jangka waktu yang ditetapkan.

Sekitar 60 persen stok premium di SPBU dialokasi ke pemegang surat rekomendasi.

“Kami tak bisa melarang karena surat itu memang untuk nelayan dan masyarakat pulau,” ujar Pengawas SPBU Tanjunguncang, Rofiq.

Keadaan ini semakin rumit dengan kedatangan kendaraan bertanki besar. Kendaraan siluman ini menyedot premium dua kali lipat dari kapasitas normal tanki kendaraaan.

Ini juga tak bisa dilarang petugas SPBU sebab tidak pembatasan pembelian premium bagi kendaraan umum.

Disinggung terkait pasokan premium, hampir semua SPBU di sana klaim masih stabil dengan waktu pengantaran yang berbeda setiap hari.

Kelangkaan terjadi justru karena pendistribusian yang tidak serentak sehingga saat satu SPBU ada, SPBU lain kosong.

“Seperti itulah kondisinya. Kami di sini sengaja memang minta pasokam agak sore karena keterbatasan tanki penampung,” kata Rofiq.(eja)

Update