Seorang siswa sekolah dasar (SD) berteriak kegirangan saat memasuki area pameran Dino Quest di Science Centre Singapura (SCS), akhir pekan lalu.

Ia disambut kerangka dinosaurus berukuran raksasa yang berdiri tegak di depan pintu pameran.

“Apakah ini asli?” tanyanya kepada seorang petugas. Tentu saja itu bukan asli. Tapi menurut petugas di sana, rep-lika kerangka dinosaurus itu dibuat sangat mirip dengan aslinya.

Baik dari segi ukuran maupun bentuk tulang, ekor, gigi, dan tengkorak kepalanya.
Kepala Eksekutif Science Centre Singapura (SCS), Prof Lim Tit Meng, menjelaskan pameran Dino Quest merupakan upaya SCS untuk menghadirkan alternatif wisata sekaligus sarana belajar bagi pengunjung.

Melalui pameran ini, SCS ingin mengajak pengunjung mengeksplorasi lebih dalam tentang kehidupan dinosaurus di masa lampau, khususnya dinosaurus yang ditemukan di Benua Australia.

“Kami ingin memperkenalkan ide-ide tentang evolusi, kepunahan dan konservasi,” kata Prof Lim.

Lim menjelaskan, pameran yang digelar di dalam ruangan seluas 2.000 meter persegi ini dibagi dalam tujuh zona tematik.

Santi, turis asal Kota Batam, Provinsi Kepri melihat pameran Dino Quest di Science Centre Singapura, beberapa waktu lalu. Pameran ini akan berlangsung hingga 31 Agustus 2019. Foto: Suparman/batampos.co.id

Di setiap zona, pengunjung bisa menikmati aktivitas dan dan menemukan pengalaman yang berbeda.

Sebelum masuk ke dalam area pameran, setiap pengunjung akan dibekali lampu senter dan kartu identitas, RFID i-DinoTag.

Lampu ini akan berfungsi sebagai penerang, karena sebagian ruangan pameran sengaja dibuat gelap.

Sementara kartu identitas berguna untuk mengumpulkan hasil temuan ‘fosil’ dari beberapa kuis yang disediakan di setiap zona pameran.

Memasuki Zona I: Hut Explorer, pengunjung akan diperkenalkan dengan panduan holografik, Profesor V dan asistennya Rex, melalui pertunjukan proyeksi diorama tentang bagaimana fosil dinosaurus pertama kali ditemukan di Australia.

“Di zona ini pengunjung juga bisa mendaftarkan RFID i-DinoTag untuk memulai pencarian untuk mengungkap dinosaurus di Australia,” kata Lim.

Memasuki Zona II: Dinosaurus of Darkness, pengunjung akan disuguhi video animatronik 4 dimensi.

Melalui video itu pengunjung diajak melakukan perjalanan ke Australia pada jutaan tahun silam. Melalui video animatronik itu, pengunjung akan mempelajari perilaku, habitat, hingga makanan dinosaurus Australia.

Seperti Koolasuchus, Ankylosaur, Pterosaur, Timimus, dan lain sebagainya. Berlanjut ke Zona III: Extinction Theatre, pengunjung akan disuguhi teater 4D yang menggambarkan peristiwa bencana alam yang memusnahkan dinosaurus.

Pertunjukan dibuat seolah seperti kejadian nyata karena menggunakan tampilan apokaliptik.

Sehingga letusan gunung merapi dan asap yang tersaji terlihat seperti nyata. Di Zona IV: Dig Site, pengunjung dapat melihat lebih banyak tentang ilmu paleontologi.

Tak hanya itu, pengunjung juga bisa praktik proses fosilisasi. Melalui pertunjukan hologram, pengunjung bisa berakting menjadi penemu fosil dinosaurus.

Di zona berikutnya atau Zona V: Laboratory, pengunjung bisa menyaksikan proses persiapan para arkeolog menemukan fosil dinosaurus di Australia.

Yang tak kalah menarik, di zona ini pengunjung juga bisa mengebor batu dari Dinosaurus Cove untuk mendapatkan fosil yang sebenarnya.

Memasuki Zona VI: Dinosaurus Dreaming, pengunjung akan disambut replika kerangka dinosaurus yang ditemukan di Dinosaurus Cove dari rekonstruksi Timimus terbaru yang ditemukan pada 1994.

Di zona keenam ini pengunjung juga bisa melihat beberapa fosil dinosaurus asli. Juga mempelajari jenis-jenis satwa yang dimungkinkan merupakan keturunan dinosaurus di masa kini.

Pada masing-masing zona ini, pengunjung bisa mengikuti kuis dengan tampilan hologram di dinding ruangan.

Pertanyaan kuis ini bisa ditemukan dengan lampu senter. Pertanyaan kuis ini beragam. Namun, utamanya seputar jenis dinosaurus yang ditemukan di Australia.

Ada juga pertanyaan yang meminta penunjung menyocokkan potongan fosil dengan nama-nama dinosaurus di Australia.

Jawaban setiap kuis inilah yang akan menjadi bahan kegiatan di zona terakhir, yakni Zona VII: Activity Zone.

Di zona ini pengunjung bisa melihat, hasil temuannya di keenam zona sebelumnya. Apakah pengunjung berhasil menemukan fosil Timimus, Koolasuchus, Ankylosaur, Pterosaur, atau yang lainnya.

Namun, pengunjung bisa memberi nama baru (rename) terhadap dinosaurus temuannya itu. Bisa pakai nama pribadi, atau nama lainnya yang dibuat sekreatif mungkin.

“Lalu pengunjung bisa menge-print gambar dinosaurus hasil temuannya itu,” kata Prof Lim. Selanjutnya, gambar hasil print out itu di-scan.

Selanjutnya, hasil scan tersebut akan muncul di layar proyeksi dalam bentuk animasi. Dinosaurus tersebut akan ‘hidup’ di dalam layar.

Lim menjelaskan, pameran ini akan digelar hingga 31 Agustus ini. Harga tiket 18 dolar Singapura untuk pengunjung dewasa dan 15 dolar Singapura untuk anak-anak.

Ada harga khusus untuk rombongan berempat yang terdiri dua dewasa dan dua anak, yakni hanya 52 dolar Singapura.(Suparman)