batampos.co.id – Demonstrasi warga Hongkong alias Hongkongers belum berakhir. Jumat (16/8) kemarin wartawan Jawa Pos (grup Batam Pos) memantau lang-sung aksi di Chater Garden, Central, tersebut.

Sekilas, demonstrasi itu mirip acara entertainment. Ada penyanyi papan atas, film pendek, dan tentu saja orasi.

Temanya penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi. Berlangsung dua jam, aksi tersebut berjalan damai.

Sebelum acara dimulai, di lokasi terlihat panitia berbaju hitam yang sibuk menata panggung.

Mulai membuat background, merangkai layar, dan mengatur sound system. Beberapa orang lain berkoordinasi untuk pengamanan.

Ryan, anggota panitia, sibuk mengatur rekan-rekannya. Dia wira-wiri memastikan semua sesuai rencana.

Handphone di genggamannya kerap berdering. Di sela-sela kesibukan itu, Jawa Pos (grup Batam Pos) mewawancarai Ryan.

”Ini bentuk protes serius kami yang berharap demokrasi. Tidak peduli apa pun caranya,” katanya.

Dia sadar bahwa menggoyang keputusan pemerintah memang tidak mudah. Apalagi, mayoritas pendemo hanya kalangan pelajar dan mahasiswa.

Namun, jika RUU Ekstradisi dibiarkan, papar Ryan, peraturan tersebut mengancam kemerdekaan, hak asasi, dan keadilan rakyat Hongkong.

Warga menggelar demo simpatik di Chater Garden, Central, Hongkong untuk menolak RUU Ekstradisi, Jumat (16/8/2019). Foto: ATSYAYANA/AFP

”Hanya demokrasi yang akan mengakhiri protes ini,” tegasnya. Selama demokrasi belum terwujud, Ryan dan kelompoknya akan melanjutkan protes.

”Saya pikir itu hal yang paling penting,” ucap dia.

Di Hongkong, aksi protes biasanya berlangsung pada akhir pekan. Sabtu dan Minggu. Dua hari itu sangat efektif untuk mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya.

Jika aksi protes dilakukan setiap hari, Ryan khawatir malah mengganggu kondisi ekonomi masyarakat Hongkong.

Sebab, masyarakat Hongkong juga butuh bekerja, kuliah, dan bersekolah.

”Makanya, cara termudah untuk mendapatkan pemrotes terbanyak setelah pukul 20.00 seperti hari ini (kemarin, red). Agar kami selalu bisa mendapatkan dukungan maksimal dari pengunjuk rasa,” jelas pria 25 tahun itu.

Acara mereka persiapkan dengan sangat detail. Ryan melakukan briefing dua jam menjelang acara dimulai.

Bersama sekitar 20 orang, dia berkeliling area Chater Garden. Menjelaskan titik-titik yang harus dikondisikan oleh tim keamanan.

Katie Tang dan Krystal Lee adalah dua mahasiswi yang bergabung dengan tim tersebut. Mereka kuliah di Fakultas Administrasi Bisnis Hang Seng University.

Menurut mereka, mengikuti aksi protes merupakan bentuk dukungan terhadap demokrasi.

”Sebab, ini tentang masa depan Hongkong. Juga, saya pikir kami punya pendapat yang harus diungkapkan,” kata Katie.

”Lagi pula, isu ini bukan soal gender. Tapi isu umum. Jadi, kenapa tidak?” imbuh Krystal.

Sekitar pukul 19.00 waktu setempat, massa berbaju hitam berangsur-angsur memenuhi area Chater Garden.

Kehadiran penyanyi papan atas Hongkong Denise Ho seakan menjadi magnet yang menarik masyarakat untuk datang.

Para pekerja yang hendak menuju Stasiun Central berhenti sejenak. Mereka mengaktifkan kamera smartphone untuk memotret persiapan aksi. Puluhan orang mengibarkan bendera Inggris dan Hongkong.

”We are British, not Chinese! (kami orang Inggris, bukan Cina, red),” seru kelompok tersebut.

Film pendek ditampilkan kurang lebih 15 menit. Menggambarkan aksi demo, kerusuhan dengan polisi, hingga pengunjuk rasa yang menjadi korban peluru nyasar.

Video dukungan dari masyarakat Inggris dan Amerika Serikat juga ditampilkan untuk memompa semangat mereka.

Orasi juga dilakukan layaknya konferensi pers. Termasuk Denise Ho. Dia dengan terang-terangan menolak RUU Ekstradisi.

Perempuan 42 tahun itu khawatir, di bawah kekuasaan Tiongkok, masya-rakat Hongkong diperlakukan semena-mena.

Dikhawatirkan pula, Tiongkok melakukan intervensi berlebih kepada pemerintah sehingga imbasnya tentu menodai kemerdekaan Hongkong sebagai sebuah negara.

Stand with Hongkong. Power the people!” seru dia.(han/c11/oni/jpg)