batampos.co.id – Kabar rencana masuknya impor ayam dari Brasil, buntut kekalahan Indonesia pada sidang WTO mendapat tanggapan kontra dari peternak lokal. Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin) mengaku keberatan jika keran impor daging ayam dari Brasil terbuka. Sebab, sampai saat ini peternak mengklaim bahwa kebutuhan ayam karkas di Indonesia sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri.

Kepala Bidang Hukum dan Humas Arphuin Cecep M Wahyudin mengatakan bahwa impor daging ayam Brasil ini berdampak besar terhadap penyaluran ayam dari peternak dalam negeri.

”Berbagai elemen pelaku perunggasan menyatakan kekhawatirannya terhadap situasi ini sebab berpotensi besar mengganggu peternakan unggas rakyat,” ujar Cecep.

Cecep menegaskan bahwa peternak unggas Indonesia sudah mampu menyuplai kebutuhan daging ayam yang berkualitas untuk masyarakat. Menurut Cecep, kebutuhan daging ayam di Indonesia sendiri harus sesuai dengan latar belakang masyarakat Indonesia yang sebagian besar muslim, yakni membutuhkan daging ayam yang halal.

”Seluruh anggota Arphuin mampu menyuplai kebutuhan daging ayam yang aman, sehat, utuh dan halal bagi seluruh masyarakat Indonesia. Selain itu, seluruh anggota Arphuin sangat memperhatikan sistem rantai dingin mulai dari fasilitas produksi hingga ke pelanggan atau konsumen,” beber Cecep.

Cecep memaparkan, Indonesia telah melakukan swasembada dalam produksi karkas ayam (ayam potong utuh). Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, potensi produksi karkas ayam sebanyak 3,38 juta ton yang diproyeksikan mumpuni untuk kebutuhan konsumsi sebanyak 3,05 juta ton.

ilustrasi

”Indonesia telah swasembada dalam produksi karkas ayam. Berdasarkan data BPS, potensi produksi karkas ayam pada 2018 adalah 3,38 juta ton sementara proyeksi kebutuhannya hanya di angka 3,05 juta ton,” pungkasnya.

Di lain pihak, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi menilai masuknya ayam Brasil dapat membuat harga ayam peternak lokal di pasar tradisional kembali jatuh.

“Hal ini berpotensi menghentikan produksi peternak rakyat,” ujarnya.

Menurut Sugeng, biaya pokok produksi ayam lokal lebih tinggi ketimbang dari Brasil.
Menurut hitungannya, perbedaan harganya bisa mencapai Rp 6.000 per kilogram (kg) dengan biaya pokok produksi ayam lokal yang sebesar Rp 18 ribu per kg. Karena itu, menurut dia, pemerintah sebaiknya membantu meningkatkan dulu kualitas industri ayam lokal sebelum membuka keran impor.

Sugeng menjelaskan bahwa salah satu caranya, adalah dengan menyesuaikan harga jual sarana produksi peternakan (Sapronak). Harga jagung, yang menjadi material utama pakan dan mencakup 70 persen biaya budidaya ayam, perlu diturunkan.

“Jika harga pakan turun, pasti harga ayamnya mengikuti,” pungkasnya.

Daging Butuh Impor, Stok Beras Aman

Sementara itu, Kementerian Perdagangan memastikan akan mengimpor daging sapi 50 ribu ton tahun ini supaya harga di dalam negeri semakin kompetitif. Tiga BUMN, yakni Bulog, PT Berdikari, dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, ditunjuk sebagai pengimpor.

Sekjen Kemendag Oke Nurwan menegaskan bahwa impor tersebut diputuskan dalam rapat koordinasi (rakor) di Kemenko Perekonomian. Impor daging sapi dari Brasil itu bertujuan membuat harga dalam negeri yang rata-rata Rp 120 ribu–Rp 160 ribu bisa turun.

”Agar di sini pasar lebih sempurna, ada persaingan karena ada daging kompetitif,” ujar Oke kemarin (16/8).

Pemerintah juga memastikan bahwa daging sapi yang masuk dari Brasil benar-benar aman dikonsumsi. Artinya, terbebas dari penyakit. Menurut dia, Kementerian Pertanian akan mengirimkan tim Ditjen Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) untuk mengecek.
Mengenai kuota, Oke menambahkan, izin impor sebanyak 30 ribu ton bakal diberikan kepada Perum Bulog, sedangkan PPI dan Berdikari mendapat kuota masing-masing 10 ribu ton.

Soal komoditas beras, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso alias Buwas menyatakan Indonesia tidak perlu mengimpor hingga 2020. Saat ini stok beras di Perum Bulog sangat melewati batas aman. (agf/vir/c12/oki)