Di samping sarat adegan silat, dalam setiap jilid cersilnya, Kho Ping Hoo juga selalu menyematkan ajaran bijak kehidupan serta nilai nasionalisme dan cinta tanah air.

MENURUT Bunawan sang menantu, proses kreatif Kho Ping Hoo dalam menulis setiap cersilnya sangat mengagumkan. Ketika sudah berada di depan mesin ketik, Kho Ping Hoo yang terbiasa menulis tanpa konsep langsung mengetik dengan sepuluh jari di kertas berkarbon rangkap dua. Satu diberikan kepada penerbit, satu lagi digunakan sebagai arsip.

“Kalau sudah ngetik, beliau cepat sekali dan tidak pernah salah. Suara ketikannya seperti berondongan senapan mesin yang nggak berhenti-berhenti,” tambah Bunawan, mengungkapkan kesaksiannya.

Setyowati (Kho Djoen Lien), adik bungsu Kho Ping Hoo, pernah mendapat cerita dari sang ibu bahwa waktu kecil sepuluh ujung jari Koh Ping pernah lama menderita cantengan. Sang ibu saat itu hanya bisa berdoa agar musibah tersebut kelak mendatangkan berkah. Ternyata terbukti di kemudian hari. Sepuluh jari Koh Ping begitu terampil mengetik dengan cepat dan melahirkan karya-karya hebat.

Sepanjang proses kreatif menulisnya, Kho Ping Hoo hanya pernah sekali melakukan kesalahan. Yaitu, dalam salah satu kisah, ada tokoh yang sudah mati, tapi di jilid lanjutannya diceritakan masih bertarung. Untung, kesalahan karena lupa itu ditemukan anaknya saat membaca seusai cerita diketik, sehingga bisa segera dikoreksi.

Meski mampu menggambarkan keadaan Tiongkok dengan sangat detail di setiap tulisannya, saat itu Kho Ping Hoo belum pernah berkunjung ke negeri Tiongkok. Untuk bahan referensi, setiap menulis Kho Ping Hoo selalu membuka buku History of China dan peta Tiongkok di sebelahnya. Itulah kenapa penggambaran lokasi, era, dan tahun yang tercantum tidak sembarangan. Hanya ditambah dan diperkaya dengan imajinasinya.

Kho Ping Hoo adalah pengagum ajaran Konfusius. Selanjutnya, dia juga mendalami ajaran filsuf India Jiddu Krishnamurti dan ajaran lain. Itulah kenapa dia menyelipkan banyak petuah bijak tentang kehidupan, alam semesta, nasionalisme, dan cinta tanah air yang terinspirasi dari ajaran tokoh-tokoh tadi, di setiap jilid cersil karyanya.

Gerakan dan nama jurus-jurus silat terkenal yang diciptakan murni imajinasi Kho Ping Hoo. Sebab, dia tidak bisa bermain silat. Dia hanya terbiasa melihat ayahnya mengajar silat sejenis kungfu kepada warga di sekitar rumahnya di Sragen. Bahkan, menurut Bunawan sang menantu, di antara gerakan-gerakan silat yang tertulis di cersil tersebut, banyak yang tidak benar. “Jika diperagakan, bisa-bisa malah keseleo,” candanya lalu tertawa.

Dalam menulis, setelah muncul nama tokoh dan nama jurus silat, barulah Kho Ping Hoo mulai mencatat satu per satu nama tokoh tersebut, usia, nama jurusnya, dan seterusnya. Seusai jilid pertama, biasanya Kho Ping Hoo meminta putra-putrinya untuk membaca dan merangkum cerita tadi menjadi semacam sinopsis pendek. Agar esoknya, ketika melanjutkan, dia tinggal membaca sinopsis tersebut untuk membantu mengingat lagi dan menulis lanjutan ceritanya. Sebab, perlu diketahui, pada masa-masa produktifnya di tahun ’70-an, Kho Ping Hoo sering menulis dua bahkan tiga judul sekaligus dalam satu waktu. Luar biasa!

Lina Setyowati, adik bungsu Kho Ping Hoo, dan sang suami B.E. Tanto bersama Wahyu Kokkang (kiri) di Sragen. (Wahyu Kokkang/Jawa Pos)

Gan Kok Liong, maestro penerjemah cerita silat Tiongkok, pernah berujar, “Dia lebih hebat dari saya. Dia tidak dapat membaca aksara Tionghoa, tetapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Ceritanya asli dan khas, sangat sulit ditandingi. Ide-idenya besar, napas ceritanya panjang. Dia seperti tidak kehabisan bahan. Latar yang dia bangun dan ciptakan pun kuat.”

Tahun 1967, Kho Ping Hoo mengganti namanya menjadi Asmaraman Sukowati. Itu bentuk kepatuhannya sebagai warga negara menyusul dikeluarkannya Keputusan Presiden (Keppres) No 240 Tahun 1967 yang menganjurkan warga keturunan asing mengganti namanya menjadi nama Indonesia.

Asmaraman sendiri adalah hasil malih kata asma samaran. Asma dalam bahasa Jawa krama berarti nama. Sedangkan Sukowati adalah nama lain Sragen, kota kelahirannya. Karena sebelumnya sudah tenar dengan nama Kho Ping Hoo, akhirnya dia tambahkan nama baru itu di depannya, menjadi Asmaraman S. Kho Ping Hoo, di setiap kover cersil karyanya.

Beberapa istilah yang dipopulerkan oleh Kho Ping Hoo masih digunakan masyarakat umum hingga sekarang. Contohnya dunia persilatan, manusia setengah dewa, dan lain-lain. Manusia Setengah Dewa bahkan digunakan Iwan Fals sebagai judul lagu sekaligus judul album pada 2004. Iwan juga pernah memasukkan nama Kho Ping Hoo pada lirik lagu berjudul Teman Kawanku Punya Teman di album Wakil Rakyat pada 1987.

Penerbit Narasi pada 2005 juga memasukkan nama Kho Ping Hoo dalam buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia. Kho Ping Hoo dengan karya-karyanya dinilai sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah Indonesia di abad ke-20.

Dari pernikahannya dengan Rosita Sukowati (Ong Rose Hwa), Kho Ping Hoo dikaruniai 11 anak, 8 perempuan dan 3 laki-laki. Pria bijak penggemar olahraga badminton itu meninggal dunia di Tawangmangu dan dimakamkan Solo pada 22 Juli 1994 di usia 68 tahun. Selain meninggalkan keluarga besar, Kho Ping Hoo juga meninggalkan satu karya berjudul Hancurnya Kerajaan Tang, lanjutan kisah Pedang Pusaka Thian Hong Kiam yang belum selesai diketik hingga tamat, sehingga tidak pernah diterbitkan.

Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo mendapat beberapa penghargaan. Di antaranya, piagam penghargaan seni sastra dari bupati Sragen tahun 2005 dan anugerah kesusastraan dari Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) tahun 2012. Juga anugerah tertinggi bidang kebudayaan, yaitu Satya Lencana Kebudayaan, pada 2014 yang diserahkan oleh Presiden Joko Widodo kepada musisi sekaligus presenter kocak Desta, yang merupakan cucu Kho Ping Hoo. (WAHYU KOKKANG, Solo-Sragen, Jawa Pos)