batampos.co.id – Perlombaan sampan layar memeriahkan Pesta Anak Pantai yang ditaja Kecamatan Sekupang dalam rangak peringatan HUT RI ke 74 di Perairan Tanjung Riau Minggu (25/8/2019). Sebanyak 25 sampan layar warna-warni ikut dalam lomba tersebut.

Lomba ini dilepas Walikota Batam Muhammad Rudi.Pesertanya tidak hanya warga Tanjungriau namun juga dari pulua-pulau.

Tidak sampan layar, kesenian melayu lain yakni joged dangkung dan dendang anak juga tampil dalam kegiatan ini . Ada juga permainan tradisonal lain seperti gebuk bantal. Selain itu, kesenian dari daerah lain, sepetri kesenian dari Flores, Lombok hingga Kuda Lumping dari Jawa juga semakin menyemarakkan kegiatan ini.

“Tanjungriau ini orangnya beragam, banyak orang Ambon juga. Tadinya mau ditampilkan bambu gila dari Ambon ini. Tapi tak ada yang bisa main,” kata Ketua Panitia, Celcon Carliston.

Camat Sekupang, M Arman mengatakan Pesta Anak Pantai ini juga sudah diajukan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk masuk ke agenda wisata Kota Batam.

“Ini agenda rutin tahunan. Sekaligus silaturahmi masyarakat Sekupang. Insya Allah akan ditingkatkan di tahun-tahun berikutnya,” kata dia.

Lomba perahu layar menyemarakan pesta rakyat Kecamatan Sekupang, Minggu (25/8).Berbagai kegiatan lomba dan kesenian ditampilakn pada pesta rkyat tersebut.
Foto: batampos.co.id / Cecep Mulyana

Sementara itu Wali Kota Batam Muhammad Rudi menyampaikan, pihaknya terus berupaya melakukan yang terbaik untuk masyarakat. Termasuk upaya meningkatkan potensi daerah.

“Salah satu program yang akan masuk ke Tanjungriau program kota tanpa kumuh (KOTA Ku)dari Kementerian PUPR. Tahun depan harus selesai. Saya akan support sepenuhnya. Kalau anggaran pusat kurang, anggaran daerah akan saya tambah,” ujarnya.

Jika program ini sukses, Tanjungriau akan menjadi contoh kampung tua untuk seluruh Kota Batam. Agar sukses, butuh keikhlasan masyarakat setempat. Khususnya bagi pemilik bangunan yang terdampak penataan wilayah.

“Tadi mau masuk ke dalam sini macet. Dua mobil saja macet. Kalau Kotaku, maka kota tanpa macet juga. Supaya tak macet, jalannya harus dilebarkan. Ikhlas tak mengorbankan harta bendanya jadi jalan umum. Supaya pahala terus mengalir,” tutur Rudi.

Menurutnya apabila urusan lahan untuk penataan ini tak selesai, program Kotaku tak bisa berjalan. Jika tak segera dilaksanakan, dana Rp35 miliar ini bisa ditarik kembali ke pusat.

“Daripada dikembalikan ke Jakarta, bagus saya pindahkan ke kampung tua lain,” pungkas Rudi. (iza)