batampos.co.id – Kejaksaan kini membahas teknis pelaksanaan kebiri terhadap M. Aris, terpidana kasus pencabulan 12 bocah di Mojokerto.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Jatim, Richard Marpaung, menyatakan, kejati berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) mengenai teknis pelaksanaan hukuman tersebut.

Pembahasan dilakukan karena tidak ada satu pun rumah sakit di Mojokerto yang bersedia menjadi eksekutor kebiri.

Kejari Mojokerto sempat kesulitan sampai kemudian meminta petunjuk teknis (juknis) ke Kejati Jatim.

Hukuman kebiri terhadap Aris harus dilaksanakan karena putusannya telah berkekuatan hukum tetap (inkracht).

Ilustrasi

Vonis itu dijatuhkan Pengadilan Tinggi Jatim di tingkat banding. Selain dikebiri, Aris dipidana 12 tahun penjara dan didenda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Pembahasan teknis tersebut membuka peluang pengebirian bisa dilakukan pihak lain selain rumah sakit.

”Kami masih berkoordinasi dengan Kejagung bagaimana juknis pelaksanaannya,” jelas Richard, Minggu (25/8/2019).

“Apa melalui rumah sakit yang ditunjuk atau dikebiri kimia dengan cara bagaimana, perlu diatur dengan juknis,” jelasnya.

Hukuman kebiri itu cukup rumit karena baru kali pertama terjadi di Indonesia. Selama ini kejaksaan belum pernah membahas teknis pelaksanaannya.

Richard tidak memastikan kapan jaksa selaku eksekutor putusan tersebut melaksanakan putusan kebiri kimia itu.

”Kapan eksekusinya, nanti setelah ada juknisnya. Karena hukuman kebiri ini juga baru,” katanya.(gas/c9/oni/jpg)