batampos.co.id – Batam adalah salah satu kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura.
Namun dibalik keramaiannya, ternyata ada salah satu tempat di Kota Batam yang sudah berhenti bernapas. Tempat itu adalah Marina City.
Pada tahun 2000, kawasan Marina City seakan tidak pernah berhenti bernapas. Area tersebut selalu penuh sesak dengan berbagai aktivitas.
Bahkan para pedagang kaki lima di Marina City kala itu menjalankan usahanya hampir 24 jam atau sehari penuh.
Hal itu berlangsung hingga 11 tahun. Perekonomian masyarakat di area tersebut juga sangat baik.
Namun hal itu berubah drastis pada 2011. Hiruk pikuk di Marina City, hilang seperti ditelan bumi.

Ketua RW Marina City, Atik, menuturkan, kawasan tempat tinggalnya itu pernah dijadikan casino atau tempat perjudian pada tahun 2000 hingga 2011.
“Dulunya Marina City banyak dikunjungi turis asing asal Singapura,” ujarnya.
Kedatangan para wisatawan asing tersebut untuk bersenang-senang dan berjudi.
Pada 2011 satu persatu pemiliknya meninggalkan kawasan tersebut. Keadaan pun berubah 360 derajat.

Marina City kian sepi. Ditambah lagi sebagian kondisi bangunan di sana sudah banyak yang rapuh.
Namun kata dia, masih ada sekitar 30 penyewa di ruko di sekitaran Marina City. para penyewa lanjutnya rata-rata membuka warung kopi, karaoke dan tempat biliard.
“Harga sewanya sekitar Rp 30 juta setahun,” jelasnya.
Terkesan Angker
Meski masih ada beberapa aktivitas di ruko Marina City, namun kesan menyeramkan terlihat jelas dari bangunan-bangunan tersebut.
Hal ini pun diamin salah seorang warga yang kerap melintasi kawasan tersebut. Salah satunya Asmadi.
Asmadi, mengaku kerap merasakan hal-hal ganjil ketika melintas di ruko-ruko di sekitar Marina City.
“Agak seram aja kalau lihat gedung-gedung itu. Kadang-kadang seperti ada bayangan-bayangan yang melintas dan hilang dalam sekejap mata,” ujarnya.
Ia berharap kawasan itu dapat kembali digunakan agar kesan menyeramkan dari gedung-gedung berlantai tiga tersebut hilang.(nto)
