Melalui program Kawasan Ekonomi Masyarakat (KEM), PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) 1 mengajak move on nelayan di Kampung Madong, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri. Dulu mereka merupakan nelayan tangkap tradisional. Namun kini sudah bertransformasi menjadi nelayan budidaya yang sukses.

SUPARMAN, batampos.co.id

Matahari tepat di atas kepala saat Muhammad Aris mulai melanjutkan pekerjaannya merajut jaring di teras rumahnya, Kampung Madong, Kota Tanjungpinang, Sabtu (24/8/2019) lalu. Dengan cara dijahit manual dengan tangan, empat lembar jaring berbahan polyethylene itu ia rangkai menjadi sebuah kantong jaring berukuran 2 meter persegi.

Siang itu, masing-masing sisi jaring sudah terangkai. Tinggal bagian bawahnya yang belum tertutup. Sehingga kantong jaring itu masih terlihat berlubang.

“Ngerjainnya hanya saat santai saja. Jadi gak selesai-selesai ini,” kata Aris saat ditemui batampos.co.id di rumahnya, akhir pekan lalu.

Jika sudah jadi, jaring ini nantinya akan dipasang di keramba jaring apung (KJA) yang dikelola kelompok nelayan Rezeki Pesisir. Aris merupakan ketua kelompok nelayan yang memiliki 10 anggota ini.

Di KJA itu, terdapat 10 kolam atau lubang jaring apung. Namun jenis ikan yang dibudidayakan sama, yakni kerapu cantang.

Aris kemudian menceritakan awal mula usaha budidaya ikan kerapu cantang yang dikelola kelompok Rezeki Pesisir ini. Usaha budidaya ini dirintis berkat bantuan PT Pertamina MOR 1 pada medio 2016 lalu. Saat itu, kelompoknya mendapat bantuan berupa jaring, pelampung, drum, mesin pencuci jaring, bibit ikan kerapu cantang, dan pakan ikan.

“Bibit ikannya 2.000 ekor, kemudian pakannya dapat bantuan 50 karung,” kata Aris.

Bermodal bantuan dari PT Pertamina MOR 1 itu, Aris dan sembilan anggotanya mulai membangun keramba jaring apung. Lokasinya tak jauh dari rumah Aris. Karena posisi rumah Aris memang berada di tepi laut.

Singkat cerita, budidaya kerapu cantang yang dikelola kelompok Rezeki Pesisir berjalan mulus dan panen perdana 10 bulan kemudian. Hasil panen perdana ini diputar lagi untuk membeli pakan, jaring, dan bibit ikan. Sisanya dibagi rata untuk 10 anggota kelompok Rezeki Pesisir.

“Kami beli bibit ikan dari Situbondo, Jawa Timur. Jadi ke Batam ikannya naik pesawat,” kata Aris sambil tergelak.

Hingga saat ini, Rezeki Pesisir sudah tiga kali panen ikan kerapu cantang. Nilai rupiah yang dihasilkan dalam setiap kali panen berbeda-beda.

“Terakhir kami panen sebelum Lebaran Idulfitri lalu. Kami dapat 350 kilogram kerapu cantang,” kata Aris.

Dengan harga kerapu cantang yang saat ini berada di kisaran Rp 100 ribu per kilogram, maka dalam panen terakhir itu Rezeki Pesisir mampu meraup rupiah sebesar Rp 35 juta. Hasil tersebut kembali dibelanjakan untuk modal baru dan sisanya dibagi rata untuk para anggota.

ANGGOTA kelompok nelayan Rezeki Pesisir mengecek keramba jaring apung (KJA) bantuan Pertamina MOR 1 di Kampung Madong, Tanjungpinang, Sabtu (24/8/2019) lalu.

Menurut Aris, sejauh ini usaha budidaya ikan kerapu cantang dari bantuan Pertamina ini cukup membantu ekonomi para nelayan di Kampung Madong. Tak hanya itu, adanya budidaya kerapu dengan sistem KJA ini juga membuat para nelayan di Kampung Madong, khususnya yang tergabung dalam kelompok budidaya, mengurangi intensitas melaut. Sehingga risiko pekerjaan para nelayan juga otomatis berkurang.

“Sekarang ini kami melaut untuk cari ikan yang dimakan sehari-hari saja. Sementara hasil budidaya ini bisa untuk tabungan dan memenuhi kebutuhan lain,” kata Aris.

Kondisi ini tentu berbeda dengan sebelumnya. Di mana para nelayan di Madong harus melaut siang dan malam demi memenuhi kebutuhan makan dan keperluan sehari-hari. Jika cuaca bersahabat, mungkin tidak jadi soal. Tapi ketika kondisi cuaca sedang buruk, misalnya saat datang musim angin utara, para nelayan tradisional itu harus berjibaku melawan ombak dengan ketinggian hingga tiga meter, bahkan lebih.

Aris masih ingat betul saat perahu kayunya diempas ombak di laut lepas, pada suatu malam di laut Bintan. Saat itu, tiba-tiba datang angin ribut dari arah Laut China Selatan. Angin kencang itu menimbulkan gulungan ombak yang menghantam perahunya. Beruntung Aris berhasil menyelamatkan diri dengan membelokkan haluan perahunya ke balik sebuah pulau tak berpenghuni.

“Saat itu memang cuaca lagi mendung. Tapi pas mau berangkat lautnya teduh (tenang, red). Dan pas sudah di tengah, tiba-tiba cuaca buruk,” kata Aris.

Karena itu, kakek empat cucu ini mengatakan kehadiran kelompok budidaya kerapu melalui bantuan Pertamina ini sangat membantu para nelayan di Madong. Sebab kini mereka tak perlu lagi melawan ganasnya ombak dan gelombang di samudera untuk sekadar menangkap ikan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Aris mengatakan, Rezeki Pesisir bukan satu-satunya kelompok nelayan yang mengembangkan budidaya kerapu cantang binaan PT Pertamina. Saat ini ada empat kelompok nelayan lainnya yang melakukan budidaya yang sama. Seperti kelompok Bawal Bintang, Maju Mandiri, dan Berkelana.

Ia berharap, program bantuan budidaya ikan kerapu ini terus berkelanjutan. Tak saja dari Pertamina, tetapi juga dari pihak lain. Misalnya pemerintah daerah.

Menurut Aris, yang paling dibutuhkan para nelayan budidaya kerapu di Madong saat ini adalah bantuan berupa bibit ikan. Sebab untuk membeli bibit ikan ini butuh modal yang besar. Satu ekor bibit kerapu cantang berukuran 3 inchi, harganya mencapai Rp 18 ribu. Itu termasuk biaya pengiriman melalui jalur udara dan pengurusan karantina.

Jika ada bantuan bibit, para nelayan bisa menabur benih dalam jumlah yang banyak. Sehingga peluang panennya pun besar.

“Kalau bantuan Pertamina memang di awal saja. Tapi setelah itu mereka tetap melakukan pembinaan,” katanya.

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I, M Roby Hervindo, mengakui bantuan melalui progam KEM ini memang hanya dilakukan di awal saja. Sebab tujuan sebenarnya dari program ini adalah menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat.

WARGA melintas di lokasi budidaya ikan kerapu bantuan Pertamina MOR 1 di Kampung Madong, Tanjungpinang, Sabtu (24/8/2019).

Dalam program ini, kata Roby, ada tiga tahapan. Yakni tahap pembentukan, pengembangan, dan kemandirian. Di tahap pembentukan, Pertamina yang bekerja sama Forum Iptek Masyarakat (Flipmas) memberikan bantuan modal bagi para nelayan. Seperti bantuan jaring, pelampung, mesin pencuci jaring keramba, bibit ikan, dan pakan ikan.

Selanjutnya, setelah kegiatan budidaya berjalan, Pertamina akan melakukan pengembangan dengan melakukan pembinaan dan pendampingan. Menurut Roby, usaha budidaya oleh nelayan di Kampung Madong saat ini masih dalam tahap pengembangan. Namun jika dilihat dari hasil panennya selama ini, ia menyebut budidaya ikan kerapu di Kampung Madong sudah cukup sukses.

“Nanti setelah mandiri akan kami lepas,” kata Roby, Selasa (27/8/2019).

Kemudian, Pertamina akan membentuk kelompok baru di lokasi yang berbeda. Jenis usahanya bisa sama atau berbeda. Sebab tergantung potensi yang bisa dikembangkan di lokasi baru itu.

Menurut Roby, sasaran dari program KEM ini adalah warga di wilayah pesisir atau terpencil. Selain untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat, program ini bertujuan memanfaatkan lahan-lahan tidur yang sebenarnya memiliki potensi ekonomi.

“Seperti saat saya bertugas di Sulawesi, program ini kami fokuskan di daerah Kendari karena di sana banyak lahan tidur,” katanya.

Khusus di Kepri, program KEM Pertamina ini sudah berjalan di beberapa daerah. Selain di Kampung Madong, Tanjungpinang, program KEM Pertamina sudah dirasakan puluhan nelayan di Kabupaten Natuna dan Kabupaten Karimun.

“Dan kami akan terus menjalankan program ini untuk menciptakan lebih banyak lagi kemandirian ekonomi di masyarakat,” kata Roby. (*)