Pelan tapi pasti, masyarakat Batam mulai menyadari pentingnya gaya hidup bersih dan ramah lingkungan. Hal itu salah satunya ditunjukkan dalam penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menunjang mobilitas dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat urban Batam kini ramai-ramai beralih menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan. Suatu upaya untuk menjaga keberlangsungan generasi yang akan datang.

RATNA IRTATIK, batampos.co.id

Agus, 46, salah seorang pengusaha kuliner di Batam itu memegang sendiri kemudi mobilnya, Toyota Rush keluaran tahun 2017 lalu. Kala itu, ia hendak menuju ke daerah Batam Centre untuk menemui rekan bisnisnya.

Setelah beberapa menit melaju dengan menjaga kestabilan kecepatan mobilnya, kini ia mulai menekan pedal gas lebih dalam.

Ia ingin menyalip truk kontainer yang berjalan pelan di sisi kanan jalan yang menanjak. Mobil berjenis medium sport utility vehicle (SUV) tipe otomatis yang dikendarainya itu melaju mulus di jalan tanjakan tersebut. Tak terdengar suara mesin mobil yang menderu. Agus tersenyum.

“Itu kelebihan Pertamax, tarikan mesin lebih ringan dan enteng, enak bawa kemudinya,” kata Agus kepada batampos.co.id, yang saat itu diperkenankan naik di dalam mobilnya untuk mengetahui kesannya menggunakan BBM jenis Pertamax.

Sudah sekitar satu tahun belakangan ini Agus mengaku menggunakan Pertamax. Pria dengan dua orang anak itu mengaku awalnya kepincut menggunakan Pertamax karena terpengaruh bujukan kawan-kawannya.

“Mereka bilang enggak bakal rugi pakai Pertamax, soalnya sangat berpengaruh terhadap kinerja mesin yang lebih bagus,” ucap Agus, menirukan omongan rekan-rekannya kala itu.

Jika sebelumnya ia mengisi tangki mobilnya dengan BBM jenis premium atau kadang-kadang Pertalite, kini ia mengaku benar-benar merasakan dan mengetahui perbedaan saat menggunakan BBM jenis Pertamax.

“Selain tarikan mesin enteng, tentu juga ramah lingkungan. Kebetulan anak saya aktif di komunitas yang konsen menjaga lingkungan hidup, jadi dia support banget saya pakai Pertamax ini,” tutur Agus.

Seperti diketahui, Pertamax memiliki kadar RON 92. Bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum BBM terbakar secara spontan.

Di dalam mesin, campuran udara dan bahan bakar (dalam bentuk gas) ditekan oleh piston sampai dengan volume yang sangat kecil dan kemudian dibakar oleh percikan api yang dihasilkan busi.

Dua pengendara sepeda motor membeli BBM jenis pertamax plus di salah satu SPBU di Kota Batam, beberapa waktu lalu. Konsumsi BBM dengan RON tinggi di Provinsi Kepri, khusunya Kta Batam terus meningkat sepanjang 2019 ini. Dalil Harahap/foto: batampos.co.id 

Dengan kata lain, semakin tinggi oktan suatu bahan bakar, maka akan semakin tahan terhadap kompresi dalam ruang bakar.

Sehingga, hasil pembakaran juga sempurna dan menghasilkan emisi gas buang yang minim. Efeknya, selain kinerja mesin lebih bagus, tentu saja juga lebih ramah lingkungan.

Selain Agus, warga Batam lainnya yang memilih bahan bakar ramah lingkungan adalah Evie.

Ibu dua orang anak itu pilih menggunakan BBM jenis Dexlite untuk bahan bakar mobilnya, Ford Everest yang bermesin diesel.

Menurut Evie, pilihan itu dinilai tepat lantaran performa kendaraannya jauh lebih andal dibanding saat menggunakan Bio Solar.

“Tarikan enteng dan mesin juga lebih awet, soalnya saya ke bengkel hanya untuk tune up rutin saja, tak ada keluhan mesin rewel seperti sebelumnya,” ujar Evie.

Menurut dia, sebagai wanita yang sering berkendara sendirian, performa mobil yang bagus dan tidak gampang rusak sangat dibutuhkan.

Pasalnya, jika sewaktu-waktu mobil rusak apalagi saat perjalanan jauh, dia mengaku langsung panik.

“Saya enggak tahu (merawat) mesin mobil, jadi ya bawaannya cemas saja kalau mobil rewel. Tapi untungnya sekarang enggak rewel lagi,” kata Evie, yang mengaku sudah beralih menggunakan Dexlite sejak sekitar 1,5 tahun terakhir.

Wanita keturunan Tionghoa itu juga mengaku pilihan beralih ke Dexlite lantaran BBM tersebut lebih ramah lingkungan.

Dexlite memiliki cetane number (CN) minimal 51 dengan kandungan sulfur minimal 1.200 part per milion (ppm). Secara kualitas, Dexlite lebih bagus dari Bio Solar yang menjadi varian terendah solar Pertamina yang punya cetane number 48 dengan kandungan sulfur 3.500 ppm.

“Paling tidak, aktivitas kita sehari-hari tidak menyumbang banyak emisi gas buang, sebisa mungkin harus yang ramah lingkungan,” ucapnya sembari tersenyum.

Tak hanya masyarakat umum, pilihan menggunakan BBM dengan mutu yang lebih bagus juga dilakukan oleh pegawai di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Batam. Termasuk, beberapa pejabatnya.

Ardiwinata, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam mengaku menggunakan Pertamax untuk bahan bakar mobil dinasnya yang berjenis Toyota Kijang Innova.

Menurut Ardi, mobil dinasnya yang sudah berumur hampir 10 tahun itu masih terasa nyaman dikendarai.

Tarikan mesinnya juga masih mulus. Salah satu alasannya, kata dia, karena menggunakan bahan bakar Pertamax yang memiliki bilangan oktan lebih baik ketimbang BBM jenis lain.

“Pasti terasa bedanya, akselerasinya juga bagus dan nendang. Pas lah pokoknya,” puji Ardi.

Selain itu, Ardi melanjutkan, menggunakan BBM dengan RON tinggi juga diyakininya merupakan bagian dari kampanye untuk menjaga lingkungan hidup.

“Wali Kota Batam juga selalu menekankan kepada kita semua agar menjaga lingkungan kita bersih dan sehat, dengan memakai BBM ramah lingkungan itu salah satu upaya kita mewujudkan hal tersebut,” imbuhnya.

Lebih dari itu, Ardi juga menyebut penggunaan BBM dengan RON tinggi merupakan upaya untuk menjaga dan merawat lingkungan demi masa depan generasi selanjutnya.

“Makin banyak yang sadar dan pakai BBM ramah lingkungan, tentunya juga makin bagus kualitas hidup kita nanti,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Kota (Setdako) Batam, Efrius. Menurutnya, Pemkot Batam memang menerapkan kebijakan agar para pegawai di instansi pemerintahan tersebut menggunakan bahan bakar dengan bilangan oktan tinggi dan ramah lingkungan.

“Rata-rata Pemkot Batam sudah menggunakan Pertalite untuk operasional mobil dinas, dan untuk pejabat dan pimpinan pakai Pertamax atau Pertamax Turbo,” tutur pria yang akrab disapa Feri tersebut.

Selain diminati pengguna mobil, BBM yang ramah lingkungan juga banyak digunakan para pemilik sepeda motor di Batam.

Bahkan, sebagian di antaranya merupakan generasi muda yang sadar pentingnya menjaga lingkungan dengan BBM yang ramah lingkungan.

Misalnya, Lia, pemilik sepeda motor matic Honda Scoopy. Warga yang tinggal di Tanjungsengkuang, Kecamatan Batuampar ini mengaku mulai beralih dari Premium menjadi Pertalite untuk kendaraannya.

“Rata-rata sekarang sudah Pertalite. Biasanya kalau tanggal muda (setelah gajian, red), sesekali pakai Pertamax, kalau sudah pertengahan atau akhir bulan, balik lagi ke Pertalite,” katanya sembari tertawa.

Menurut dia, menggunakan BBM jenis tersebut punya efek yang bagus terhadap performa sepeda motornya. Salah satunya, pada ketahanan mesin dan daya tarik yang dirasakan.

“Kalau pakai Pertamax jelas pas narik gas terasa ringan banget, Pertalite juga kurang lebih, sih. Selain itu, mesin juga enggak gampang bermasalah. Bagus pokoknya,” ujar wanita berhijab tersebut.

Selain itu, sebagai generasi muda ia mengaku ingin berkontribusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan.

Terutama, dari emisi gas buang yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar kendaraan.

“Malahan saya pengaruhi teman-teman saya untuk beralih pakai BBM yang ramah lingkungan, memang lebih mahal sedikit, tapi enggak bakal rugi kok,” tuturnya.

Peningkatan konsumsi BBM RON tinggi atau yang digolongkan sebagai Bahan Bakar Khusus (BBK) seperti Perta Series dan Dex series itu juga berimbas terhadap naiknya permintaan BBK di wilayah Batam dan Kepri.

Pihak Pertamina Merketing Operation Region (MOR) I wilayah Sumatera Bagian Utara membenarkan adanya kenaikan penjualan produk BBK.

Unit Manager Communication and Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina MOR I, Roby Hervindo, mengatakan, untuk wilayah MOR I secara keseluruhan terjadi tren kenaikan penjualan produk BBK atau Perta Series.

Tercatat di Kepri pada periode Januari hingga Juli 2019, penjualan BBK menunjukkan peningkatan 2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Konsumsi 2019 sebesar rata-rata 354 ribu liter per hari, dibanding 2018 sejumlah rata-rata 346 ribu liter per hari,” sebutnya.

Ia menjelaskan, peningkatan ini sinyal positif bahwa lebih banyak konsumen yang menyadari keunggulan BBM berkualitas.

Pertamina juga menyatakan terus mengedukasi konsumen, bahwa BBM berkualitas lebih hemat untuk kantong dan ramah untuk lingkungan.

“Masih perlu kita dorong, karena secara pangsa pasar, Premium masih mendominasi hingga 71 persen dibanding BBM berkualitas 29 persen,” ungkapnya.

Sejauh ini, sambung Roby, kebutuhan konsumen masih dapat terpenuhi dengan baik. Pihaknya juga mengupayakan agar stok yang tersedia di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Saat ini, rata-rata stok tersedia cukup memenuhi kebutuhan hingga 13 hari ke depan,” tutupnya.(*)