Senin, 6 April 2026

Subsidi untuk Sektor Produktif

Berita Terkait

batampos.co.id – Alokasi subsidi energi diharapkan bisa lebih efisien dan tepat sasaran. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, menuturkan, sudah Rp 1.200 triliun dana di APBN yang digunakan untuk subsidi energi selama periode 2011–2014.

’’Subsidi, orang selalu ramai bicara ini. Dibandingkan periode sebelumnya, sekarang empat tahun terakhir (2015–2018) subsidi sektor energi dipangkas menjadi hanya Rp 477 triliun,” kata dia.

“Ini kurang lebih hanya sepertiga dari yang sebelumnya. Agar lebih tepat sasaran,” ujar Jonan akhir pekan lalu.

Jonan menjelaskan, subsidi 2019 ditargetkan Rp 160 triliun. Namun, dia memprediksi jumlah subsidi tak sebanyak itu. Hal tersebut disebabkan banyaknya komoditas energi yang juga turun harga.

’’Paling di angka Rp 120 triliun sampai Rp 130 triliun. Sebab, banyak harga komoditas energi yang turun. Hingga semester I tahun ini, angkanya Rp 59,4 triliun,” ucap alumnus FE Unair itu.

Menteri ESDM Ignatius Jonan saat melakukan konferensi pers di Kantor Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos, Banten, beberapa waktu lalu. Foto: Juneka/JAWA POS

Jonan memandang, pemerintah lebih memilih memangkas subsidi energi untuk dialihkan ke belanja yang lebih produktif dan prorakyat ketimbang menghabiskan anggaran untuk subsidi energi yang tidak tepat sasaran.

Selain itu, mayoritas pemanfaatan anggaran Kementerian ESDM yang tahun ini dialokasikan Rp 4,9 triliun ditujukan untuk infrastruktur dan program prorakyat.

’’Untuk bangun pembangkit tenaga surya, jaringan gas, dan sebagainya,” imbuh mantan Dirut PT KAI itu.

Jonan mencontohkan beberapa program prorakyat yang kontribusinya nyata dan dirasakan secara langsung oleh rakyat.

Salah satunya, program pembagian converter kit LPG untuk nelayan kecil. Dengan menggunakan bahan bakar LPG, biaya operasional yang harus dikeluarkan nelayan untuk melaut jadi semakin murah.

Selain itu, belanja produktif lain adalah pembangunan jaringan gas kota, pembagian lampu surya gratis untuk rumah belum berlistrik, penerangan jalan umum, dan pengeboran sumur air tanah.

Jonan menyebut berbagai kebijakan itu sebagai bukti nyata adanya kedaulatan energi.

’’Banyak saudara kita makin mampu beli, makin terjangkau. Kita juga akan paksa dengan segala peraturan supaya sektor ini menjadi lebih kompetitif,” katanya.

Sebelumnya, pemerintah dan DPR memutuskan subsidi solar turun Rp 500 menjadi Rp 1.500 per liter tahun depan.

Penurunan itu dilakukan untuk mengalihkan dana subsidi ke sektor yang lebih produktif. Hal tersebut juga sejalan dengan perkiraan penurunan harga minyak dunia.

Jonan menyebutkan, ada potensi kenaikan harga solar subsidi Rp 1.000 per liter dari harga saat ini Rp 5.150 jika subsidi dikurangi menjadi Rp 1.000 dengan harga minyak mentah seperti saat ini USD 59 per barel.(dee/c7/oki/jpg)

Update