Selamat untuk Kaltim, khususnya Kutai Kartanegara (Kukar) dan Penajam Paser Utara (PPU) yang telah memenangi kontes pemilihan ibu kota negara.

Indonesia pun heboh. Presiden RI Joko Widodo mengumumkan bahwa Kaltim terpilih menjadi ibu kota negara yang baru. Pengganti Jakarta.

Meskipun menjadi hak prerogatif pria beralias Jokowi selaku kepala negara, pro dan kontra tetap saja menyelimuti. Ada yang setuju, namun ada juga yang tidak. Itulah demokrasi. Menarik sekali.

Memindahkan pusat pemerintahan bagi sebuah negara sah-sah saja. Boleh-boleh saja. Posisi ibu kota baru di Kaltim memang sangat strategis. Berada di tengah-tengah Indonesia. Ini menjadi nilai plus.

Akan sangat menarik membayangkan wajah negara ini. Pusat ekonomi di Jakarta, sedangkan pusat pemerintahan berada di Banua Etam. Mirip kayak Batam dengan Tanjungpinang atau Balikpapan dengan Samarinda.

Infrastruktur di Kaltim juga menunjang. Ditopang dua kota besar, Balikpapan dan Samarinda yang berada di satu daratan. Yang dua-duanya punya bandara berkelas internasional. Lokasinya juga diapit kota strategis lainnya, Makassar dan Banjarmasin.

Infrastruktur lain juga tersedia. Pelabuhan besar hingga jalan tol juga ada. Tinggal dipoles atau tambah sedikit saja. Saya yakin mampu menjawab ekspektasi masyarakat Indonesia akan lahirnya ibu kota baru yang keren.

Infrastruktur lain yang harus dibenahi adalah jalan. Tidak mungkin akses jalan dari dan menuju ibu kota sempit. Kalau bisa, poros Balikpapan-Samarinda dilebarkan. Kayak jalan-jalan di Batam.

Dengan demikian, tidak terkena macet. Apalagi kalau sudah tiba di simpang tiga Kariangau. Selain itu, tidak ada salahnya jika wacana jembatan Balikpapan-PPU digaungkan lagi. Pasti jadi nilai lebih.

Bagaimana dengan eks galian tambang. Bisa saja dijadikan waduk atau tempat penampungan air. Atau bisa juga dijadikan kawasan wisata. Jadi kalau pegawai pusat jenuh, tinggal main-main ke lubang tambang. Kwakakakakak.

Namun, persoalan yang dihadapi adalah anggaran. Duit ratusan triliun rupiah harus disiapkan untuk membangun ibu kota baru. Dari mana sumbernya juga saya kurang tahu. Hanya pemerintah yang tahu.

Apakah harus sebesar itu anggarannya? Menurut saya wajar. Karena setahu saya, lokasi ibu kota baru masih berupa lahan kosong. Masih hutan yang konon dulunya berstatus Hak Pengusahaan Hutan (HPH).

Yang namanya ibu kota itu, ikon. Sudah barang tentu desainnya elegan. Tidak boleh sembarangan. Karena ibu kota adalah wajah negara. Tidak mungkin nantinya dibangun asal. Macam gubuk di sawah. Atau permukiman kumuh. Tidak boleh sembarangan.

Ya memang untuk membangunnya butuh dana besar. Ditata dan dikonsep dari awal. Jangan asal. Agar ibu kota negara bisa menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Saya sempat melihat desain ibu kota yang tetap mempertahankan “kehijauannya”. Agar menjadi ibu kota yang sejuk. Benar-benar membuat saya terkesima. Bahkan, saya sudah membayangkan saat pulang kampung ke Kaltim, bakal menginjakkan kaki di ibu kota baru itu.

Semoga saja ibu kota baru segera terealisasi. Meskipun berganti presiden, tentu saya berharap pemindahan tidak dibatalkan. Agar yang sudah dirancang bisa menjadi kenyataan.

Selamat datang ibu kota baru. ***

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos