Jumat, 3 April 2026

Ketegangan di Ruang Kontrol AirNav Hang Nadim

Berita Terkait

Industri Penerbangan di Indonesia, tidak bisa dipisahkan dari AirNav. Lembaga ini melayani serta menjamin keamanan pesawat yang akan berangkat, sedang mengudara, maupun mendarat. Tugasnya tak mudah. Membutuhkan para petugas yang berdidikasi tinggi, teliti, bertanggungjawab dan mau berkorban

FISKA JUANDA, batampos.co.id

Hujan mengguyur deras nyaris di seluruh Batam, Selasa (27/8/2019) siang. Khususnya di kawasan Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Para petugas ATC (Air Trafic Control) AirNav Hang Nadim tampak siaga. Beberapa pesawat tetap harus terbang juga mendarat, kendati sedang hujan. Hal ini membuat mereka mesti lebih waspada.

Ada tiga pesawat yang berhasil mereka pandu untuk terbang siang itu. Namun ketika satu pesawat jenis ATR, dengan baling-baling hendak mendarat, suasana mendadak tegang.

Di ruangan berbentuk segi sembilan itu terdapat tiga orang yang sedang bertugas, tiga lainnya sedang off. Tapi mereka tetap berjaga-jaga menjadi cadangan dan tetap di sana.

Hujan deras disertai angin kencang membuat jarak pandang minim. Landasan juga basah. Seorang petugas bahkan sigap mengambil teropong untuk memastikan pesawat yang mulai turun di ujung landasan. Dari gerak-gerik pesawat baling-baling itu, salah satu petugas menduga pesawat tak akan mendarat.

Tebakan itu benar. Pilot pesawat melaporkan kepada petugas ATC bahwa mereka tak jadi mendarat.

We are making go around…” ucap sang pilot lewat alat komunikasi yang terhubung dengan petugas ATC.

Maintain runaway heading climb to 2.000 feet,” jawab petugas ATC.

Pesawat ATR itu pun kembali terbang, memutari kawasan Bandara Hang Nadim beberapa kali. Lalu mencoba kembali mendarat, tapi kembali gagal. Karena angin yang cukup kencang.

Tak ada lagi wajah-wajah yang rileks. Para petugas yang mengontrol kemudian berkoordinasi dengan petugas ATC di Tanjungpinang.

Ketegangan itu bertahan cukup lama. Hingga akhirnya pesawat itu dapat mendarat dengan selamat. wajah para petugas tampak cerah. Senyumnya pun sumringah.

Memandu pesawat ternyata tak semudah kelihatannya. Bagi sebagian orang yang hanya melihat, memandu pesawat sepertinya gampang-gampang saja. Kenyataanya mendebarkan juga tegang.

Menurut salah satu petugas ATC, Dedi Dermawan, memandu pesawat tak mudah. Butuh kejelian, kelitian dan pengamatan yang tajam. Oleh karena itu, tak semua orang bisa duduk di kursi pengontrol di ruangan itu. Butuh keahlian dan ilmu yang spesifik.

Ia mengatakan, petugas di posisi Ground Movement Control, Assisten dan Tower, tidak boleh beranjak di kursi mereka dalam waktu yang ditentukan. Karena, tanggungjawab yang mereka emban sangat besar. Memastikan ratusan jiwa yang berada di dalam pesawat mendarat dan terbang dengan selamat.

Selama di kursi kontrol, tiga petugas yang berjaga harus berkonsentrasi penuh. Melihat situasi dan mendengarkan setiap informasi yang masuk. Tower Hang Nadim sudah dilengkapi dengan Voice Communication Control Sistem (VCCS) dan ATIS (Automatic Terminal Information Service). VCCS membantu tower berkomunikasi dengan pilot, sedangkan ATIS berisi segala macam informasi mengenai cuaca.

ATC Hang Nadim, memiliki wilayah pengontrolan cukup unik. Bentuknya kotak. Ketinggian pengontrolan dilakukan ATC Hang Nadim hingga 1.500 feet. Setelah itu dihandel oleh ATC Tanjungpinang, lalu pihak Singapura.

Walaupun memiliki wilayah kontrol cukup sempit, landasan panjang dilengkapi sensor Instrument Landing System (ILS). Pekerjaan ATC Hang Nadim cukup sulit. Di daerah lain, pesawat bisa diarahkan kemana saja sesuai fligt plan yang telah disetujui. Namun tak begitu di Hang Nadim. Pesawat yang akan landing, hanya dapat mengarah ke bagian Selatan Batam, tepatnya arah Pulau Galang. Walaupun, pesawat itu nantinya akan mengarah ke Utara seperti Medan atau daerah lainnya.

Mengapa tidak bisa? Sebab di arah utara Batam telah memasuki wilayah udaranya Singapura. Tak mudah mengontrol wilayah udara yang berdampingan dengan tetangga. Butuh kecermatan tersendiri.

cep

Ruang ATC di Bandara Hang Nadim.
foto: batampos.co.id /cecep mulyana

Kehadiran AirNav di Batam, terbilang cukup muda bila dibandingkan di wilayah lainnya di Indonesia. Saat AirNav dibentuk dan telah hadir di beberapa bandara di Indonesia, 2012, AirNav baru muncul dan hadir di Batam, di penghujung 2014. Walaupun terbilang muda, tapi pengalaman petugas yang ada tak perlu dipertanyakan. Petugas-petugas pengontrol, teknis maupun bagian lainnya di AirNav, telah memiliki pengalaman mumpuni.

Kesulitan dalam berbagai kejadian dan halangan lain telah membuat petugas ATC Hang Nadim tumbuh menjadi pengontrol yang baik. Tentunya mereka juga semakin bijak, karena kenyang akan pengalaman. Kendati demikian banyak pula pengorbanan yang telah dilakukan petugas ATC demi memberikan baktinya untuk negeri khususnya dalam bidang transportasi penerbangan.

Salah satunya, saat momen liburan hari besar seperti Lebaran dan Natal misalnya. Jika masyarakat banyak yang pulang kampung bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Tidak dengan para petugas ATC Hang Nadim.

“Kami jarang bisa dapat libur, saat Lebaran,” tutur Dedi.

Dedi mengaku telah berulang kali mendengar takbir Idul Fitri berkumandang saat mengontrol di ATC. Tentu, hal ini menjadi pergulatan batin. Sering kali, keluarganya menanyakan menapa tidak pulang saat Lebaran. Tapi, karena sering diberikan pemahaman. Akhirnya, mereka mengerti dengan pekerjaan Dedi.

Petugas ATC dan pilot hampir memiliki pekerjaan yang mirip. Bekerja kala semua orang menikmati liburan. “Kadang saat takbir berkumandang di mana-mana, sang pilot di alat komunikasi mengucapkan selamat Idul Fitri ke kami semua. Kami membalas hal yang sama. Untuk sama-sama menghibur diri,” ungkapnya.

Sebagai orang yang berasal dari Sumatera Barat. Ada satu hal yang dirindukan Dedi, kala mengontrol saat Lebaran. Yaitu lontong ketupat.

Beberapa tahun lalu, saat General Manager AirNav mengadakan open house. Saat diberitahu ada lontong ketupat pada salah satu menunya. Dedi merasa senang sekali.

“Sudah terbayang lezatnya lontong itu. Saya ke sana setelah shift kerja berakhir. Sampai sana ternyata lontongnya sudah habis, kecewa. Tapi mau gimana lagi,” kenangnya sambil tertawa.

Pengalaman-pengalaman melakukan pengontrolan saat Lebaran, Natal atau momen hari besar lainnya, kata Dedi sudah menjadi bagian sehari-hari bagi para pekerja di AirNav.

Ada satu hal nan penting yang ingin mereka pastikan. Para penumpang yang mudik Lebaran atau Natal, bisa terbang, mendarat hingga tujuannya. “Doa kami hanya satu. Semua yang berangkat sampai dengan selamat, semua yang datang mendarat dengan baik. Tak muluk-muluk,” tuturnya.

Hal yang senada diucapkan oleh Manager Operasinal AirNav Batam, Edward F Marpaung. Ia mengatakan walaupun sebagai manager Edward mengaku selalu standby di setiap musim mudik Lebaran dan Natal.

“Saya sudah sering ditanyakan keluarga, kapan Natalan di Medan. Pertanyaan mereka selalu sama, kok tak pulang. Tapi mau gimana lagi, ini sudah menjadi tugas kami, memastikan keselamatan penerbangan,” ungkapnya.

Selama bertugas, Edward mengaku sudah terbiasa tak pulang di kala Natal. Tak hanya itu saja. Dia juga beberapakali tetap harus bertugas kendati keluarganya ada yang sakit.

“Tetap standby di atas. Apapun konsekuensinya. Biasanya kalau sudah urgent, lapor ke atasan. Baru dicarikan pengantinya, syukur-syukur dapat cepat. Kalau tidak, ya tunggu. Karena ini pekerjaan yang tidak bisa ditinggal begitu saja, walau apapun alasannya,” ucapnya.

Setiap petugas ATC, kata Edward sudah paham konsekuensi pekerjaan yang mereka geluti. Sehingga tak ada waktu untuk mengeluh atas semua resiko dalam pekerjaan yang takmengenal siang atau malam tersebut.

“Petugas yang bekerja bergantian, per shift. Tapi kami selalu ada orang yang berjaga 24 jam di tower. Mau jam 2 pagi, atau tengah malam, ada petugasnya,” tutur dia.

Edward menjelaskan memang tidak setiap hari Bandara Hang Nadim, memilik penerbangan hingga dini hari. Tapi sejak musim haji, ada penerbangan di malam hari. Bahkan dini hari dan subuh.

“Pesawat yang datang malam hari. Lalu pesawat yang feeder, dari yang membawa jamaah debarkasi antara (Pekanbaru, Jambi, Pontianak),” ucapnya.

Walaupun pekerjaannya terbilang berat. Edward mengaku sudah melakoninya cukup lama, dan menjalani dengan nyaman. “Enjoy saja,” kata dia.

AirNav Hang Nadim, dalam sehari melayani 120 pesawat yang terbang maupun mendarat. Namun, sesekali juga melayani beberapa pesawat asing yang mendarat darurat di Hang Nadim.
Sekadar informasi, Bandara Hang Nadim menjadi salah satu tujuan divert pesawat maskapai asing yang tidak bisa mendarat di Singapura.

Apa bedanya mendaratkan pesawat asing dan domestik? Edward mengaku tidak ada bedanya. Karena metoda pendaratan pesawat domestik maupun luar negeri, semuanya sama di setiap negara. Sehingga tidak ada masalah dalam mendaratkan pesawat asing.

General Manager AirNav Batam Miwan menambahkan, dalam satu semester ini, beberapa kali pesawat asing mendarat darurat di Hang Nadim. Ada alasan tersendiri mengapa maskapai luar negeri menjadikan Hang Nadim tempat divertnya.
Landasan yang terbilang panjang, memiliki ILS dan tentunya penuntun yang mumpuni (petugas ATC).

“Secara umum, kerja AirNav dapat diringkas menjadi 3 poin. “Sefety, Security dan Service,” tuturnya.

AirNav adalah nama umum yang dikenal banyak kalangan. Tapi nama resminya yang terdaftar adalah Perum Lembaga Penyelenggaraan Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia. “Disingkat Perum LPPN PI. Tapi orang sering sebut AirNav,” ucapnya.

Ia mengatakan kini pekerjaan ATC Hang Nadim sedikit mulai berkurang. Karena dulunya, petugas ATC cukup terbatas. Sehingga beban para pekerja setiap shiftnya cukup besar. Kini, jumlah petugas bertambah. Sehingga mengurangi beban kerja setiap petugas.

“Merasa sedih tidak merayakan Lebaran dan Natal dengan keluarga. Wah, kalau ditanya ke semua petugas AirNav, rata-rata semuanya pasti merasakan itu. Tapi ini adalah tanggungjawab dan tugas sebagai orang yang memastikan keselamatan penerbangan,” ucapnya.

AirNav Bandara Hang Nadim, sangat menjaga agar tak terjadi Breakdown of Separation. “Kami selalu berusaha tidak BOS. Makanya para petugas selalu bekerja extra hati-hati dan teliti,” ucapnya. (*)

Update