JACARANDA mimosifolia atau yang akrab disebut jagaranda adalah tanaman dari Amerika Selatan yang bentuknya menyerupai trompet. Bunganya berwarna ungu. Di Surabaya, pohon itu ditanam di jalan-jalan protokol.

NUR FITRIATUS SHALIHAH, Surabaya

Kabid Ruang Terbuka Hijau dan PJU Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Hendri Setianto menjelaskan, tanaman itu ditanam di Surabaya sejak lima tahun lalu. ’’Ide awalnya, Bu Wali (Wali Kota Tri Rismaharini, Red) ingin tanaman yang unik dan langka serta kota lain nggak ada yang punya,’’ ungkapnya.

Hendri mengatakan, harga satu pohonnya Rp 1 juta–Rp 5 juta. Pohon tersebut ditanam di jalan-jalan protokol. Di antaranya, di Jalan Sedap Malam, Jalan Gubeng, taman-taman, dan dekat rumah wali kota. Meski harganya mahal, warga Surabaya tidak ingin mencurinya. Memang, saat awal-awal ditanam, ada saja tangan iseng yang ingin memilikinya. Namun, ulah itu kini sudah tidak ada lagi Warga sekarang lebih menjaga tanaman tersebut.

’’Jadi, ketika ada orang yang mau ngambil, warga langsung menghalanginya,’’ tuturnya.

Kepala Rayon Taman Pusat Sugeng Agung Widodo menambahkan, jacaranda tidak ditanam dari bibit. Pohon yang ditanam sudah besar. Minimal setinggi 2,5 meter.

’Bu Wali menghendaki tanaman ditanam langsung gede supaya bisa langsung dinikmati sama warga. Kalau kecil 50 cm atau 1 meter, nanti orang lewat kena tendang, ketabrak kendaraan,’’ ucapnya.

Awalnya, jacaranda muncul melalui proyek pengadaan pemerintah alias pelelangan. Pemerintah menghendaki tanaman yang sudah besar. Selain itu, ada kriteria lain. Misalnya, tinggi dan warnanya.

’’Jacaranda kami beli dari Malang,’’ ucapnya.

Bagaimana perawatannya? ’’Kuncinya ada di penyiraman dan pemupukan,’’ ujarnya. Penyiraman dilakukan minimal sekali sehari. Namun, agar tetap terjaga dan bugar, DKRTH menyiramnya dua hingga tiga kali sehari. ’’Pagi pasti kami siram. Setelah itu, sore atau malam, bergantung tempatnya. Ada yang bisa disiram sore. Ada juga yang malam,’’ kata Sugeng.

Mengenai pemupukan, aturannya dipupuk setiap sepuluh hari sekali. Namun, pihak terkait melakukan pemupukan lima hari sekali untuk antisipasi. Ada pupuk yang disemprotkan. Ada juga yang ditaburkan. Selain itu, pengolahan tanahnya perlu diperhatikan. Misalnya, seberapa dalam membuat lubang agar akarnya kuat. ’’Kami gali sampai 30 sentimeter lebih,’’ paparnya.

Jacaranda yang berbunga menjadi aksen cantik di Jalan Sedap Malam. (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

Selain mempercantik kota, jacaranda menyerap polusi. Karena itu, tidak heran jika tanaman tersebut diperbanyak setiap tahun. Sugeng mengungkapkan, terdapat lebih dari 100 pohon di Surabaya. Tujuannya, menjaga paru-paru kota dan kualitas udara di Surabaya.

Sugeng kerap mendapat pertanyaan dari warga. Terutama ketika Surabaya viral gara-gara tabebuya beberapa waktu lalu. Tanaman jacaranda pun disangka tabebuya oleh warga. Sebagaimana diketahui, bunga tabebuya menyerupai sakura dan warnanya lebih variatif. Ada pink, kuning, ungu, merah, dan lain-lain. Sementara itu, bunga jacaranda berwarna ungu. Soal harga, jacaranda lebih mahal.

Sugeng berpesan kepada masyarakat agar menjaga semua tanaman. Bukan hanya jacaranda.

’’Walaupun (tanaman) milik pemerintah, kalau letaknya di depan persil rumah warga, mbok ya dibantu menyiram dikit-dikit. Warga nanti juga kami bantu ketika perantingan,’’ paparnya.

Saat ini jacaranda berbunga. Salah satunya bisa ditemui di Jalan Sedap Malam atau sekitar Balai Kota Surabaya. Kemarin (31/8) jacaranda tampak mekar di sana. Meski belum selebat tabebuya, pemandangannya bisa menyejukkan mata. (JPC)