Senin, 20 April 2026

Airnav Berikan Layanan Keselamatan Penerbangan Tanpa Memikirkan Profit

Berita Terkait

Nagivasi udara menjadi penentu keselamatan di dunia penerbangan. Dengan adanya navigasi, pilot akan dipandu petugas Air Traffic Control (ATC) saat hendak terbang, mendarat bahkan saat akan memarkirkan pesawatnya di Bandara.

Messa Haris – batampos.co.id

Rabu (21/8/2019), General Manager AirNav Cabang Batam, Mi’wan Muhammad Bunay, terlihat sibuk memantau pergerakan pesawat yang dilaporkan para petugas ATC melalui telepon genggamnya.

Kata dia, setiap petugas ATC memiliki catatan sendiri atau yang biasa mereka sebut personal book.

Dalam buku catatan itu, setiap petugas ATC akan mencatat seluruh gangguan yang terjadi. Salah satunya gangguan binatang atau animal hazard.

“Tugas kami (AirNav) memberikan prioritas pelayanan penerbangan dan memberikan layanan fasilitas navigasi,” jelasnya.

Mi’wan menjelaskan, AirNav merupakan Perum khusus non profit oriented. Orientasi AirNav lanjutnya memberikan pelayanan dan keselamatan penerbangan yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2012.

Maksud dan tujuan pendirian Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav ialah melaksanakan penyediaan jasa pelayanan navigasi penerbangan sesuai dengan standar yang berlaku untuk mencapai efisiensi dan efektivitas penerbangan dalam lingkup nasional dan internasional.

Menurutnya, wilayah kerja AirNav cabang Batam bentuknya kotak mendatar atau flat.

Kata dia, saat pesawat akan mendarat pihaknya akan menuntun sang pilot dengan fasilitas navigasi.

Menurutnya meski saat ini seluruh pesawat memiliki Global Positioning System (GPS), namun dengan alat bantu yang dimiliki AirNav akan memudahkan sang pilot untuk mendarat.

Dengan alat bantu yang di miliki AirNav, sang pilot akan mengetahui dengan mudah saat akan heading dan berapa derajat Bandara yang dituju.

Personel TNI AU menjaga pesawat sukhoi dengan latar belakang tower ATC yang berada di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Alat tersebut kata dia, akan memberikan azimut buatan. Sehingga pilot mengetahui berapa derajat sasaran bandara yang dia tuju.

“Kalau sudah dekat Bandara kita juga ada ILS (Instrumen Landing
System) dengan ini pesawat akan dituntun di centre line dan slotnya,” kata Mi’wan.

Mi’wan menjelaskan, tugas lainnya dari AirNav ialah mengatur sparasi setiap pesawat.

Sehingga tidak terjadi Breakdown of Separation (BOS). Kata dia, apabila jarak pesawat berdekatan salah satunya akan diminta untuk menaikan ketinggian.

“KPI (Key Performance Indicator) kami adalah zero BOS,” tegasnya.

Mi’wan menjelaskan, meski di Bandara Internasional Hang Nadim Batam belum ada penerbangan saat malam hari, namun petugas ATC menjalani pekerjaannya 24 jam penuh.

Karena kata dia, Bandara Hang Nadim menjadi alternatif dari maskapai penerbangan tujuan Singapura, ketika cuaca di negara tetangga itu buruk.

“Kita berbatasan dan jarak kita sangat dekat dengan singapura, Sehingga cukup banyak maskapai asing yang mendarat di sini (Bandara Hang Nadim, red) saat di sana bad weather (cuaca buruk, red),” jelasnya.

 Cuaca Menjadi Tantangan Utama

Airnav cabang Kota Batam bekerjasama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mengetahui data terbaru terkait cuaca.

Karena kata Mi’wan, cuaca adalah tantangan utama para petugas ATC. Hal itu sangat diperlukan karena Provinsi Kepri khususnya Kota Batam termasuk dalam salah satu daerah di Indonesia yang memiliki cuaca ekstrem.

Bahkan BMKG Kelas I Hang Nadim Batam memiliki akses khusus untuk memberikan informasi terkait keadaan cuaca.

“Batam tidak memiliki musim, beda dengan wilayah lain yang fase musim hujan dan kemaraunya sudah jelas, sementara di sini kapan pun bisa hujan,” ujarnya.

Karena cuaca yang kerap berubah-ubah, kata dia, pihaknya harus menunggu informasi resmi dari BMKG sebelum mengeluarkan Notice To Airmen (Notam).

“Yang sering terjadi itu karena proses permohonan Notam membutuh waktu dan saat Notam datang cuaca sudah bagus atau normal. Jadi kami akan menunggu dulu dari BMKG,” katanya.

Hal lain yang sangat diperhatikan AirNav cabang Kota Batam adalah angin. Terutama angin yang datang dari arah samping dan sangat dikhawatirkan membahayakan pesawat ketika akan mendarat.

Keadaan cuaca yang tidak menentu diamini oleh Kepala Seksi Data dan Informasi (Kasi Datin) BMKG kelas I Hang Nadim, Suratman.

Ia mengatakan cuaca di Kota Batam kerap berubah-ubah dalam waktu yang cukup singkat.

Menurutnya, BMKG Kelas I Batam memiliki jalur khusus khusus untuk menyampaikan kondisi terkini cuaca kepada petugas ATC.

Kata dia, informasi keadaan cuaca selalu disampaikan pihaknya kepada petugas ATC dengan durasi setiap setengah jam atau yang biasa mereka sebut Metar.

“Kalau cuaca buruk kita disebut specy dan kita sampaikan melalui AFTN,” jelasnya.

AFTN lanjutnya adalah jaringan telepon lokal khusus antara BMKG dengan petugas ATC.

Gunakan Frekuensi Cadangan

MI’wan mengatakan, AirNav harus memiliki frekuensi cadangan untuk mempercepat layanan apabila terjadi gangguan khususnya dari pemancar radio.

Frekuensi cadangan kata Mi’wan sangat diperlukan untuk menjaga komunikasi antara petugas ATC dengan pilot agar tidak terputus.

Ia mengatakan, sejauh ini kualitas komunikasi penerbangan di AirNav cabang Kota Batam cukup bagus dan tidak ada masalah.

Pihaknya juga memiliki alat yang dapat mengubah data dari BMKG dijadikan dalam bentuk suara dan langsung disampaikan petugas ATC kepada pilot.

Ia menambahkan, cadangan frekuensi menjadi hal wajib yang dimiliki Ainarv Indonesia.

Karena hal tersebut menyangkut keselamatan para penumpang dan awak maskapai penerbangan.

“Jadi apabila ada gangguang frekuensi, sambil ditangani kami sudah bisa melayani lagi dengan secondary frekuensi, karena komunikasi kita dengan pilot tidak boleh putus,” paparnya.

Pihaknya juga memiliki kerjasama dengan berbagai pihak untuk melancarkan penerbangan.

“Kami memiliki LOCA (Letter of Operational Coordination Agreement) dengan BMKG, Balmon, Bandara, dan airline,” ujarnya.

Berikan Layanan Hingga ke Bandara Matak, Natuna

Tidak hanya di Bandara Hang Nadim, Batam, AirNav Cabang Batam juga memberikan informasi lalulintas udara dan navigasi hingga ke Matak, Kabupaten Natuna.

Mi’wan menjelaskan, Matak, merupakan Bandara khusus yang dikelola oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

“Bandara Matak sampai saat ini masih di bawah kami dan petugas ATC dari TNI, tapi fasilitasnya dari kita,” jelasnya.

Pada tahun 2019 AirNav Indonesia meningkatkan kualitas layanan navigasi penerbangan antara lain adalah pembangunan dan peremajaan menara pengendali lalu lintas penerbangan (ATC Tower) di beberapa Bandara di Indonesia.

Salah satunya di Letung, Kabupaten Anambas, Provinsi Kepri. Nilai investasi seluruh program tersebut senilai Rp 2,6 triliun dan diharapkan dapat meningkatkan layanan navigasi penerbangan secara merata di seluruh ruang udara Indonesia.

AirNav melayani navigasi penerbangan di 285 titik layanan di seluruh Indonesia serta  melakukan pelayanan navigasi penerbangan di sejumlah ruang udara negara lain.

Luas ruang udara Indonesia adalah 1.476.049 NM, sementara AirNav melayani Flight Information Region (FIR) seluas 2.219.629 NM.(Messa Haris)

Update