batampos.co.id – Pabrik mobil Esemka milik PT Solo Ma­nufaktur Kreasi (SMK) akhirnya diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo ( Jokowi) di Sambi-Boyolali, Ja­wa Tengah, Jumat (6/9/2091).

De­ngan resminya pabrik tersebut, otomatis Esemka akan langsung memasarkan produk per­­ta­manya, yakni Bima 1.2 dan 1.3.

Keduanya datang sebagai mobil niaga ringan untuk perdesaan. Menariknya, ternyata harga off the road dari Bima cukup menggiurkan, yakni Rp 95 juta.

Dengan banderol harga tersebut, Jokowi optimistis Esemka akan segera dibanjiri pemesanan.

“Namanya produksi mudah tapi memasarkannya sulit kalau harga tidak sesuai keinginan konsumen,” kata Jokowi.

“Saya melihat harganya kompetitif, saya tanya itu Rp 95 juta off the road. Feeling saya laku keras,” ujarnya lagi.

Tidak hanya itu, Jokowi juga mengatakan secara kualitas, Esemka Bima cukup baik. Apalagi sebagai mobil yang diproduksi pertama.

“Ya, ini produksi pertama, tapi sudah bagus untuk produksi pertama, baik secara desain,” kata Jokowi.

Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi, Eddy Wirajaya, membenarkan soal harga tersebut.

Menurut Eddy, pihaknya sebagai pabrikan memang mematok harga Bima sebesar Rp 95 juta untuk off the road.

Sementara untuk harga on the road, Eddy menjelaskan itu nantinya akan menjadi ranahnya jaringan penjualan Esemka.

Karena semua produk Esemka akan dipasarkan melalui diler, sementara pabrik hanya sebagai menyuplai produk saja.

“Kami menjual off the road, diler nanti yang menentukan itu berapa, kita tidak bisa intervensi diler. Pak Presiden juga tadi sudah tanya, kita bilang Rp 95 off the road, untuk Bima jadi nanti akan ada skema-skema tertentu dari diler bagi konsumen,” ujar Eddy.

Presiden Joko Widodo meresmian pabrik Mobil Esemka di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9). Dalam setahun, pabrik ini diperkirakan mampu memproduksi 18 ribu unit mobil berbagai tipe. Foto: dokumentasi JAWA POS

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, juga cukup optimistis dengan hadirnya Esemka, apalagi bila harga masih di bawah Rp 200 juta.

“Peluang pasti ada, jadi untuk semua mobil yang harga jualnya di bawah Rp 200 juta di Indonesia itu peluangnya sangat baik,” ucap Airlangga.

Setelah diresmikan Presiden Jokowi kemarin, pabrik Esemkan akan memproduksi 18 ribu unit mobil per tahun, 1.500 per bulan atau 50 unit per hari.

Pabrik Esemka dikelola oleh PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK). Berperan sebagai pemegang merek.

Dibangun di atas lahan 115 meter persegi dengan fasilitas seluas 12.500 ribu meter persegi.

Proses produksi dilakukan di pabrik ini, seperti perakitan kendaraan, pengecatan, sampai pengetesan.

Di lahan seluas 11,4 hektare milik kas Desa Demangan, Kecamatan Sambi itu juga ada showroom megah yang berada di paling depan bagian pabrik.

Di dalam showroom seluas mencapai 450 meter persegi ada beberapa mobil yang dipajang.

Sedangkan mobil sport utility vehicle (SUV) seperti yang isunya pernah berembus di media sosial dipajang di dalam bangunan pabrik.

Di sebelah ruang acara peresmian. Bupati Boyolali Seno Samodro menyatakan siap menyukseskan produk mobil Esemka ini.

Apalagi lokasi pabriknya berada di Boyolali. Dukungan Seno ini dibuktikan dengan mengajak gathering para kepala desa.

Utamanya desa-desa di Boyolali yang telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), bisa memiliki mobil Esemka untuk operasionalnya.

Khususnya mobil jenis niaga jenis pikap merek Esemka Bima yang harga on the road-nya ditaksir sekitar Rp 103 juta ini.

“Nanti kami fasilitasi. Kita ambil contoh mobilnya, kita presentasi. Di satu sisi kesiapan dari PT SMK juga harus bagus, spare part belinya di mana, kalau ada kerusakan servisnya di mana dan sebagainya, nah nanti kita ketemu,” ujar Seno.

Pihaknya yakin, dengan harga Rp 103 juta itu, BUMDes akan mampu membeli, karena harganya cukup terjangkau.

Apalagi dengan sistem kredit dengan cicilan Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan, desa dipandang mampu.

Sedangkan untuk Pemkab Boyolali, Bupati berjanji juga akan membeli mobil tersebut. “Ya nanti kita beli satu atau dua oke sajalah,” katanya.

Bupati menambahkan, pabrik ini mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak. Saat ini sudah ada 200–300 orang lulusan SMK.

Hal ini jelas sejalan dengan visi misi proinvestasi. “Ini per hari (kapasitas produksinya) katanya bisa sampai 20 (unit),” ujar Seno.(wid/bun/jpg)