batampos.co.id – Sebagai salah satu kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas di Indonesia, Batam, membutuhkan rumah sakit yang representatif dan mampu menjawab tantangan zaman.

Saat ini, RSBP Batam memiliki kapasitas tersebut. Kesan klasik sudah lama ditanggalkannya.

Sekarang, digitalisasi sudah merambah di segala lini pelayanannya. Contohnya, saat ini sudah tidak terlihat lagi antrean pasien yang mengular untuk mendaftar berobat di rumah sakit pelat merah tersebut.

Sekarang suasana cukup tenang. Meja informasi hanya sesekali saja dikunjungi pasien yang mencari informasi.

Saat ditemui di ruangannya, Kamis (5/9/2019), Direktur RSBP Batam dr Sigit Riyarto menerangkan bahwa saat ini pendaftaran bisa dilakukan secara online lewat aplikasi RSBP Batam Mobile App.

“Kalau sekarang terlihat sepi, itu bukan karena tak ada pasien. Tapi sebelumnya pasien itu daftar lewat online,” jelansya.

“Jadi, pas ke ruĀ­mah sakit langsung berobat ke dokter masing-masing,” paparnya.

Terus berinovasi merupakan salah satu kerangka kerja yang diterapkan Sigit di RSBP. Pria kelahiran Solo, 16 September 1965 ini merupakan lulusan S2 di bidang manajemen rumah sakit dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1999.

Sebelum di Batam, Sigit sempat menjadi Direktur di RS Hidayatullah, Yogyakarta pada 2001.

Tapi hanya berlangsung sebentar karena harus mengikuti penelitian. Kemudian pada 2002, ia berhenti karena ditarik menjadi asisten dosen di bagian penelitian manajemen rumah sakit di UGM.

Direktur RSBP, Sigit Riyarto. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

“Baru setelah itu dari 2006 hingga 2010 menjadi direktur lagi di RS Happy Land Yogyakarta. Kemudian dari 2010 hingga 2012 jadi dosen di UGM,” jelasnya.

Setelah itu, ia menjadi direktur di RS Restu Ibu Balikpapan dari 2012 hingga 2014. Karirnya kemudian berlanjut menjadi wakil direktur (Wadir) di RS JIH Yogyakarta.

Kemudian, ada tawaran ke Batam. “Mulai 2017 saya berkarir di RSBP jadi direktur,” ungkapnya.

Dengan segala pengalaman yang ia miliki di berbagai rumah sakit maupun kampus, hal yang pertama diubah Sigit adalah budaya kerja di RSBP Batam.

Misalnya, dulu, layanan kesehatan itu untuk kar-yawan BP saja. Tapi sekarang juga melayani masyarakat umum agar bisa bersaing.

“Alasan tersebut juga yang dulu mendorong pimpinan BP Batam mencari orang-orang profesional untuk RSBP,” katanya.

Selain itu, dahulu budaya kerja RSBP hanya menunggu pasien datang. Tapi sekarang RSBP juga ikut mempromosikan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan, baik itu ke dalam maupun luar negeri.

“Kami juga dikasih tugas khusus untuk mencari pelanggan. Bangun jaringan dalam dan luar negeri,” ujarnya.

“Ubah budaya kerja dari pasif jadi aktif. Tantangan berikutnya adalah buat unit RS ini jadi unit mandiri, jadi tidak tergantung lagi dari subsidi,” paparnya.

Langkah pertama dimulai dengan integrasi data pasien. Prosesnya mirip dengan sistem perizinan investasi terpadu satu pintu, Online Single Submission (OSS).

Tapi yang di RSBP Batam lebih kepada OSS versi layanan kesehatan dan disebut dengan sistem Blockchain.

Untuk mewujudkannya, RSBP menjalin kerja sama dengan investor di bidang kesehatan asal Singapura, dClinic International.

Sigit mengatakan, dClinic menggunakan salah satu ruangan dan sumber daya manusia (SDM) di RSBP Batam untuk melakukan instalasi dan transfer teknologi layanan integrasi data pasien terpadu.

Gedung RSBP Batam tampak dari atas. Foto: Dkoumentasi BP Batam untuk batampos.co.id

Data-data pasien tersebut akan disimpan di Gedung Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI) BP Batam.

“Instalasi ini butuh waktu penyelesaian sekitar tiga bulan, baru kemudian bisa diterapkan,” ungkapnya.

Integrasi data ini bersifat real time. Satu data pasien untuk seluruh rumah sakit di Batam, termasuk pasien BPJS Kesehatan. Bahkan data pasien di rumah sakit luar negeri akan ikut terintegrasi.

Penerapan teknologi ini terjadi karena dahulu pihak rumah sakit sering kesulitan mencari data berupa catatan medis pasien dari rumah sakit yang lainnya.

“Tentunya data disimpan di masing-masing rumah sakit sehingga sering kesulitan untuk mengecek catatan medis pasien,” katanya.

Dengan sistem Blockchain, maka catatan medis pasien berupa penyakit, obat, dokter yang menangani dan prosesnya bisa segera diketahui karena sudah direkam di sistem tersebut.

“Dengan cara itu, kerja kami jadi lebih mudah. Dengan data centre, maka semua sistem informasi akan tersimpan. Semakin cepat semakin mobile,” harapnya.

dClinic akan memulai kegiatannya di RSBP pada September ini. Perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan berbasis digital ini juga akan membuka pusat kebugaran atau welness centre di RSBP.

Sigit mengatakan, Batam merupakan sasaran pertama lokasi penanaman modal oleh dClinic International. Sedangkan di Jakarta dan Bali masih berupa rencana saja.

“dClinic ini merintis pelayanan kesehatan berbasis digital. Contoh produknya adalah Block Chain. Ibaratnya seperti Go-Jek versi kesehatanlah,” katanya.

Sigit menuturkan dClinic menggandeng mitra luar negerinya seperti Deloitte South East Asia sebagai konsultan di Batam.

Bersama Deloitte, dClinic akan membangun kantornya di Batam tahun ini yang dikelola oleh sepuluh karyawan.

Kemudian pada tahun depan, dClinic akan merekrut ratusan pekerja untuk bekerja dalam proyek mereka dengan RSBP Batam.

Rencananya, dClinic akan menggunakan setengah lantai ruangan di gedung baru RSBP Batam.

“Masih dalam pembahasan mengenai rencana detailnya. Tapi pasti buka cabang di RSBP Batam. Ada pemisahan, tapi kami akan bekerja sama agar pasien bisa saling rujuk,” jelasnya.

Pusat kebugaran yang akan dibangun dClinic ini akan menyediakan pelayanan medis terbaru yang belum ada di Batam, seperti layanan untuk bayi tabung, layanan kecantikan dan wisata medis.

“Jadi, orang luar datang ke Batam untuk semakin sehat dan juga bisa tambah cantik. Sekaligus bisa juga berbelanja,” jelansya.

Dengan wacana RSBP Batam dan wilayah sekitarnya akan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan, maka kehadiran dClinic akan menjadi nilai tambah untuk meningkatkan daya saing.

“Kita harapkan kehadiran dClinic dapat meningkatkan perekonomian Batam. Bagi masyarakat juga penting, karena ada lowongan kerja baru nanti,” paparnya.(Rifki Setiawan)