batampos.co.id – Anas Aditya sedang memainkan tetikus komputernya di co-working space di lantai dua, Nongsa Digital Park (NDP), Nongsa, Batam, Rabu (4/9) lalu. Panah tetikus itu ia arahkan ke gambar di layar komputernya. Ia tengah menyelesaikan gambar dirinya sendiri dalam bentuk kartun, sebagai bagian dari tugas yang akan ia presentasikan dalam rapat mingguan di perusahaan tempat ia bekerja, Neu Entity, sebuah perusahaan start-up asal Singapura.

Anas berasal dari Bekasi. Ia lulusan dari SMA Negeri 1 Banjar, Ciamis. Namun, sejak SMA, ia sudah menunjukkan ketertarikannya dengan dunia teknologi informasi (IT). Lulus tahun 2014, ia mengikuti kursus yang berkaitan dengan IT dan sambil bekerja membantu orang tua.

“Dibilang otodidak, nggak juga. Karena teknologi ini selalu berkembang. Makanya saya terus belajar untuk itu, meski pun bukan lewat sektor formal seperti kuliah,” ujar Anas.

NDP dibuka pada Maret 2018 lalu, Anas pun mendaftarkan diri. Pelatihan di NDP gratis. Ia hanya perlu memikirkan biaya hidup selama tinggal di Batam.

“Saya terbang dari Bekasi ke Batam. Saya nggak mau sia-siain kesempatan ini, belajar di Nongsa Digital Park,” ujarnya.

Anas pun belajar selama tiga bulan di sana. Enaknya belajar di sana, selama 10 minggu dibekali materi teknologi. Materi ini diajarkan sesuai kebutuhan klien, perusahaan-perusahaan dari negara tetangga, seperti Singapura. Dua minggu terakhir, Anas beserta teman-temannya, akan membuat tugas akhir, mempresentasikannya langsung di hadapan penguji dan juga audience yang kebanyakan bos- bos perusahaan.

“Ketika kami presentasi, perusahaan klik dengan apa yang kita presentasikan, saat itu mereka langsung menerima kita. ‘We want you‘. Begitu. Nah inilah yang saya rasakan. Usai presentasi, tiba-tiba perusahaan datang menawarkan pekerjaan. Di sinilah saya sekarang, bekerja di perusahaan start-up Singapura. Bekerja sebagai web developer,” jelas Anas.

Sudah delapan bulan Anas bergabung di NDP. Sehari-hari, ia mengerjakan berbagai platform digital dan teknologi komputer sesuai pesanan dari perusahaan induk di kawasan Changi Road, Singapura.

“Perusahaannya asal Singapura, tapi berkantornya di Batam, dan pekerjanya asal Indonesia,” jelasnya sambil tersenyum.

Jadwal kerja Anas bersama tiga rekannya, dimulai pukul 08.00 WIB dan pulang pukul 17.00 WIB. Namun, itu kadang tak tentu, tergantung orderan dari Singapura.

“Setiap minggu kami juga meeting bersama karyawan yang ada di Singapura. Membahas strategi, merancang dan membangun merek atau situs web. Pokoknya yang berhubungan dengan desain, dengan klien dari multinegara. Meeting-nya melalui layar komputer. Virtual meeting. Kita cukup duduk manis di sini,” jelasnya.

Mentri Luar Negeri RI Retno Marsudi bersama Menlu Singapura, Gubenur Kepri, Kepala BP Batam, Walikota Batam, Komisaris Utama Citra Mas Group Kris Wiluan dan undangan berswafoto usai peresmian Nongsa Digital Park di Nongsa , Selasa (20/3/2018). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Demikian halnya dengan Rangga Yudhistira Pratama. Pria kelahiran Pekanbaru, 9 Juni 1996 ini mengungkapkan banyak anak-anak muda Indonesia yang unggul bekerja di perusahaan luar negeri.

“Sebenarnya, kita tak kalah saing, bahkan lebih maju dari para pekerja-pekerja dari negara lain kok. Saya sudah buktikan di Nongsa Digital Park ini,” ujar Rangga, demikian ia dipanggil.

Rangga saat ini bekerja sebagai Mobile Developer di perusahaan start-up asal Singapura, Chendol. Di perusahaan ini, Rangga bertugas dan bertanggung jawab mengerjakan berbagai aplikasi untuk smartphone.

”Saat ini, saya sedang fokus mengerjakan aplikasi asuransi smartphone,” ungkapnya.

Saat ditemui wartawan koran ini, Rangga tengah mengerjakan java script untuk aplikasi yang ia sebutkan tersebut.

Rangga lahir dan besar di Pekanbaru. Ia anak pertama dari empat bersaudara. Merantau pertama kali sejak memutuskan kuliah di Politeknik Negeri Batam dengan mengambil jurusan multimedia. Sejak kuliah, ia sudah mandiri. Bekerja sendiri untuk membiayai kuliahnya. Awalnya sebagai teknisi internet. Lulus, ia pun melanjutkan pelatihan kerja di LPK Infinite Learning di Nongsa Digital Park, Batam.

Selama pelatihan di Nongsa ini, waktu luangnya ia isi dengan latihan dan memperkaya pengetahuannya tentang teknologi dan bahasa pemograman. Tak hanya itu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Batam, putra dari pasangan Ruswindra dan Ernita ini juga bekerja sebagai tukang cuci piring di salah satu cafe di Nongsa.

”Selagi halal, saya kerja. Ini menjadi tantangan sekaligus komitmen saya. Memperbaiki taraf hidup menjadi pekerja yang unggul, yang nggak kalah saing dengan para pekerja-pekerja dari negara lain. Di NDP ini, telah lahir ratusan anak-anak bangsa yang unggul yang mampu bersaing global. Sebenarnya tantangan revolusi industri 4.0 ini kita sudah sangat siap banget. Kita sudah menjalaninya sekarang,” tegasnya.

Baik Anas dan Rangga kini menjadi dua dari 270 SDM yang bekerja di Nongsa Digital Park (NDP), Batam. Kalau Anas berkantor di co-working space, Rangga di Incubator, karena pekerjaannya termasuk rahasia dan membutuhkan keakuratan.

NDP sendiri merupakan realisasi dari pernyataan Presiden Jokowi dalam pidatonya saat Peringatan 50 tahun hubungan bilateral Indonesia-Singapura yang dilaksanakan di Marina Cruise Centre, Kamis (7/9), dua tahun lalu. Kala itu, dalam Singapore-Investment Forum, Jokowi di hadapan Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan sejumlah menteri kabinet kerja yang hadir menyebutkan Batam akan dijadikan digital hub antara Singapura dan Indonesia.

Dalam pengembangan kerja sama bisnis kedua negara, Jokowi menekankan, Batam menjadi pintu gerbang utama Indonesia dalam memajukan berbagai sektor, dan menekankan kerja sama dua negara yang berbasis digital, menyesuaikan dengan perkembangan teknologi.

“Kalau dulu Batam sebagai kota industri, sekarang harus mampu bersinergi dengan Singapura, menjadi jembatan industri teknologi, manufaktur, dan pariwisata berbasis digital,” jelasnya.

Mengukuhkan pentingnya posisi Batam, pihak Citramas Group pun membangun Nongsa Digital Park menjadi penyedia dan pemberi layanan melahirkan SDM unggul, sebagai bagian dari menjawab tantangan era 4.0. Adalah Kris Taenar Wiluan, Komisaris Utama Citramas Group, sosok yang berada di balik NDP ini.

Kala Batam Pos berbincang singkat dengannya di Singapura beberapa waktu lalu, ia menyebutkan, NDP merupakan jawaban dari pengembangan SDM Indonesia dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 ini.

”Untuk memiliki SDM yang berkualitas, diperlukan pendidikan mumpuni sebagai bekal utama. Itu faktor pentingnya yang pertama. Kalau sudah ada itu, maka SDM Indonesia sudah mampu bersaing secara global. Tak perlu minder lagi,” ujarnya.

Dunia digital dan industri 4.0 sebuah keniscayaan yang tak dapat dielakkan Indonesia dan dunia. Salah satu upaya ditempuh untuk menyokong ini semua, sehingga Indonesia dapat mempersiapkan diri dan melaju di Industri 4.0 ini, NDP hadir menjawabnya.

Di kawasan NDP ini, telah dirintis sebuah lembaga pelatihan keterampilan yang menyiapkan para pemuda Indonesia untuk bisa menghadapi arus digitalisasi dan industri 4.0. Lembaga ini telah beroperasi sejak Maret 2018 lalu. Meski pun baru beroperasi tahun lalu, tapi persiapannya telah dimulai dari awal millenium, tahun 2000 lalu. Dan kini, telah tumbuh menjadi kawasan terpadu di bidang industri digital.

NDP sendiri berada di Jalan Hang Lekiu, Nongsa. Selain Infinite Learning Centre, di sini juga tersedia kawasan perkantoran yang dibagi menjadi tiga bagian. Yakni office block, incubator, dan co-working space. Terbaru, hadir Apple Academy.

Nongsa Digital Park ini merupakan bagian dari kawasan industri, properti, resort dan lapangan golf dengan omzet triliunan rupiah di bawah naungan Citramas Group yang luasnya mencapai 166 hektare. Menuju ke sini dari Pelabuhan Batam Center, jaraknya 20 Km, dan dibutuhkan berkendara sekitar 30 menit. Ada dua bangunan yang sudah beroperasi. Bagi pengunjung, tulisan warna-warni NONGSA digITalpark yang menempel di dinding putih dan tamannya menjadi penanda.

Kawasan NDP ini mengingatkan akan Silicon Valley di Palo Alto, California, Amerika Serikat (AS). Silicon Valley di AS kini menjadi pusat teknologi karena di sana berkumpul berbagai perusahaan-perusahaan raksasa teknologi yang menguasai pasar dunia. Sebut saja Google, Hewlet-Packard, eBay, Apple Inc, Intel, Yahoo, dan puluhan perusahaan lainnya.

Demikian halnya dengan Nongsa Digital Park. Kawasan ini menjadi perintis tempat berkumpulnya berbagai perusahaan yang bergerak di bidang teknologi sejak Maret 2018 lalu.

”Kami sudah merencanakan ini sejak lama. Tekadnya Indonesia harus bisa dan menguasai. Kalau tidak bisa, (kita) semuanya bisa dikuasai luar negeri,” ujar Kris Taenar Wiluan, Senin (2/9) lalu.

Indonesia, kata Kris, telah memasuki era digital. Sehingga anak-anak Indonesia harus menguasai dunia digital dan industri 4.0.

Kris mengatakan, demi memperlihatkan itu semua ke pemuda Indonesia, ia telah membangun sebuah tempat pelatihan. LPK Infinite namanya. Tapi yang dibangunnya bukan hanya tempat pelatihan semata.

”Ibarat main bola, kalau training saja tanpa memberikan kesempatan bermain di pertandingan aslinya, yah gak ada hasilnya,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Kris menuturkan telah mengajak para pegiat digital internasional masuk ke Kawasan Digital Terpadu Nongsa yang lebih dikenal dengan nama NDP (Nongsa Digital Park). Sejak dibangun, NDP telah berhasil menggaet sebanyak 50 perusahaan start-up yang memiliki nama mentereng di kancah internasional. Sebut saja CPR Vision, Webimp, Stendard, Vouch, Glints, Neu infinity dari Singapura, Oursky dan Clare.ai dari Hongkong, dan Maple dari Korea.

”Saat ini ada sekitar 50 perusahaan internasional yang bergerak di dunia digital itu telah hadir disini. Dan yang bekerja di dalamnya adalah anak-anak kita, putra-putri terbaik bangsa Indonesia,” ujarnya.

Kenapa harus membawa perusahaan asing? Ia menilai hal ini sangat penting demi membuka wawasan anak-anak muda. Karena perusahaan asing yang telah memiliki jaringan di mana-mana, tentu bisa menjadi referensi pemuda Indonesia bagaimana arus digital internasional berjalan.

”Kami buat training dan ciptakan lapangan kerja yang kelasnya internasional. Dengan begitu, mereka tidak takut bersaing lagi,” katanya.

Semua ini dinilai Kris sangat penting. Karena pemuda Indonesia yang menguasai digital dan bekerja di perusahaan internasional. Menjadi bukti nyata, anak muda indonesia itu bisa dan mampu bersaing di kancah di dunia digital global. ”Saya mau Indonesia menjadi leading. Harapan ini harus disokong dengan SDM yang mumpuni. Dan kami akan berusaha mencipatkan kawasan yang dapat mendukung perkembangan anak muda di bidang digital,” tuturnya.

Proyek LPK Infinite ini telah dimulai sejak tahun lalu. Hingga kini sudah menghasilkan ratusan lulusan yang bekerja di perusahaan internasional.

***

Direktur LPK Infinite, Nara Dewa, mengatakan Nongsa Digital Park dan LPK Infinite ini merupakan program lanjutan dari pengembangan Kinema Studio Nongsa di bawah PT Kinema Systrans Multimedia, pusat industri kreatif yang telah menghasilkan ratusan film dan kartun yang telah tayang di berbagai negara.

Sekda Kota Batam Jefridin (tiga dari kiri) besama Presiden Direktur PT Citra Tubindo Kris Wiluan, (empat dari kanan) CEO Infinite Studios PT Kinema Sysrrans Multimedia, Mike Wiluan (dua dari kanan) dan tamu undangan melakukan groundbreaking ceremoni Nongsa Digital Park di Nongsa, Kamis (8/6/2017). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Kinema ini lahir dari sebuh mimpi Mike Wiluan, yang ingin menjadikan Batam menjadi pusat industri kreatif berkelas dunia. Hadir menjadi studio animasi terbesar di Asia Tenggara sejak 2005, Kinema terus berkembang. Beberapa karyanya yang telah masuk ke pasar mancangera, salah satu di antaranya Garfield Show. Di sini juga berbagai spesial effect dapat dikerjakan. Dan paling penting, semuanya dikerjakan oleh anak-anak Indonesia.

Setelah kinema lahir dan eksis, Kris Wiluan tak lantas puas. Proses mewujudkan Kawasan Terpadu Digital mulai bergulir. Pemikiran ini sudah dimulai dari 2013 lalu. Apalagi meningkatnya pesanan kebutuhan industri, SDM yang tersedia pun harus ditingkatkan. Membaca potensi bisnis yang luar biasa, dimana hasil produksi berkualitas harus lahir dari SDM yang berkualitas dan menguasai bidang, maka Kinema awalnya membuka pelatihan animasi bagi para anak muda Indonesia khususnya Batam.

Tepat pada September 2017, di hadapan Jokowi, Kris menyampaikan ia tengah membangun kawasan Nongsa Digital Park, untuk pemenuhan SDM berkualitas dan unggul dalam mengembangkan Kinema Studio, serta mengajak perusahaan-perusahaan internasional berinvestasi di Batam. Enam bulan setelahnya, tepatnya Maret 2018, NDP pun resmi beroperasi. Diresmikan langsung Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakhrisnan.

Dalam peresmian itu, Retno Marsudi menyebutkan, NDP ini menjadi salah satu bagian dari rencana Indonesia dalam membangun seribu perusahaan rintisan digital baru bernilai USD 10 miliar hingga 2020 mendatang.

Kini, NDP menjadi sebuah ekosistem untuk perusahaan luar dan dalam negeri di bidang digital. Tapi, untuk menggerakkan ekosistem ini, butuh SDM yang ahli.

Tak mudah mencari orang-orang tersebut di dalam negeri. Tapi mudah mencari SDM berasal dari luar negeri.

”Namun Pak Kris maunya NDP ini digerakkan anak-anak bangsa. Untuk itu didirikanlah Infinite Learning Centre (LPK Infinite). Hadirnya LPK ini dapat mendukung NDP, melatih langsung kerja,” tuturnya.

LPK Infinite merupakan sebuah konsep pelatihan tanpa memungut bayaran, untuk dapat menghasilkan pekerja-pekerja muda yang paham dan mumpuni di bidang digital. ”LPK Infinite kemudian lahir di 2018, dan telah menghasilkan 270 tenaga terampil di bidang teknologi dan digital,” ucapnya.

Sejak 2018 hingga 2019 berjalan ini, LPK Infinite telah menyelenggarakan sebanyak lima kali pelatihan. ”Kami menyebutnya batch. Sudah ada 5 batch, dan kini ada juga yang sedang berlangsung,” tuturnya.

Namun, tak semua orang dapat masuk dan belajar di LPK Infinite. Ada proses yang harus dilalui. ”Apabila lulus tes, bisa dapat mengikuti seluruh program belajar di LPK Infinite,” ungkap Nara Dewa.

Para pelatihnya, lanjut Nara Dewa, memiliki keahlian skala internasional. Ada sekitar 4 hingga 6 pelatih, yang memberikan pelajaran di setiap batch. Pelatihan dilaksanakan 10 minggu plus 2 minggu. ”Gratis, cuman mereka nanti harus mengikuti ikatan dinas,” ucapnya.

Penyebaran informasi LPK Infinite ini, melalui website dan juga road show yang dilaksanakan NDP di berbagai daerah lainnya di Indonesia.

LPK Infinite memberikan dampak signifikan bagi negara. Tak hanya dari segi pendapatan. Tapi juga memberikan peluang sebesar-besarnya bagi anak muda Indonesia belajar dan bekerja di perusahaan luar negeri. ”Kami memanfaatkan bonus demografi,” ucapnya.

Di LPK infinite, anak-anak muda belajar mengenai IT, software, coding, design, web developer dan berbagai pemograman lainnya. ”Intinya kami mempersiapkan diri menerima tantangan untuk masa depan. Techno Park beserta SDM unggul yang diinstruksikan presiden, sekarang sudah ada di Batam,” ungkapnya.

Saat ini, NDP telah mempekerjakan 270 anak-anak muda Indonesia di 50 perusahaan internasional. ”Target kami di 2020, mempekerjakan 1.000 talent muda. Meski ini baru berjalan satu setengah tahun, tapi kami tetap fokus. Persiapan untuk menerima perkembangan teknologi di masa depan. Pembangunan kawasan masih tetap berlangsung sembari menjawab tantangan global,” ujarnya.

Sementara Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra Irawadi, mengatakan investor baik itu dari lokal maupun asing mulai menjejakkan kaki di Batam. Dari lokal, mulai dari Ilthabi, Sarinah dan PPI akan masuk ke Batam. Sementara dari asing, Apple membangun Akademi Apple di Nongsa Digital Park.

”Sekarang memang konsentrasi industri digital 4.0. Batam sudah ada baik itu industri maupun pendidikan. Contohnya ada Akademi Apple,” ujar Edy.

Alasan Apple membangun akademi di Batam, karena untuk memenuhi peraturan TKDN di Indonesia. Peraturan tersebut menyebabkan eksportir smartphone asing harus membangun pabrik yang bermitra dengan perusahaan lokal, atau membangun fasilitas pendidikan. Dengan begitu, maka Apple bisa memasarkan produknya dengan mudah di Indonesia.

Apple telah membuka kelas baru yang pendaftarannya dimulai sejak Juli lalu. Produsen smartphone premium ini merekrut 100 siswa terpilih yang akan dididik kurang lebih sembilan bulan untuk menjadi developer program smartphone.

”Selain itu, ada juga pen­didikan penerbangan di Pol­tek. Dengan begitu, Batam ini sebenarnya sudah punya nilai tambah yang tinggi. SDM yang unggul sudah sangat siap menghadapi era 4.0,” katanya. (cha/ska/leo)