batampos.co.id – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan akan memulangkan (reeskpor) seluruh material plastik impor di Batam yang terkontaminasi sampah dan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3). Namun, reekspor akan dilakukan setelah seluruh proses pemeriksaan rampung.

Kepala Biro Hubungan Ma­syarakat KLHK Djati Wicaksono Hadi mengatakan, proses reekspor tidak bisa dilakukan sedikit demi sedikit. Harus dilakukan sekaligus dalam jumlah yang banyak.

“Jadi begini, satu kontainer atau 100 kontainer semua harus reekspor, tapi lebih baik sekaligus,” kata Djati, Selasa (10/9/2019).

Ia menjelaskan, proses reekspor nantinya akan dieksekusi oleh Bea Cukai (BC). Pihaknya hanya melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap impor material yang mengan­dung B3 atau sampah.

“Petugas yang terkait impor (Kemendag dan BC, red) mereka yang menolak, kami tidak merekomendasikan (limbah B3 masuk),” katanya.

Djati mengatakan, masuknya limbah B3 dalam material plastik impor tersebut bisa disebabkan banyak hal. Salah satunya karena pengawasan yang kurang ketat. Ia menduga, pihak surveyor hanya menerapkan sistem sampling saat memeriksa material plastik yang akan diimpor ke Indonesia itu.

“Bukan masalah lihai tidak lihai, mereka (surveyor) gunakan sistem sampling. Misal se­ribu kontainer, kan tidak se­mua diperiksa. Itu berlaku internasional,” katanya.

Sementara soal gelar perkara terkait limbah B3 yang masuk ke Indonesia yang direncanakan sejak Jumat (6/9) lalu dan ditunda Selasa (10/9) kemarin, kembali di-tunda. Djati belum bisa memastikan, kapan gelar perkara tersebut akan dilak-sanakan.

“Belum ada kepastian. Belum ada aba-aba dari Dirjen,” imbuhnya.

Sementara Kepala Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) Bea Cukai Batam Sumarna kembali mengakui masuknya ratusan kontainer material plastik impor ke Batam melalui Pelabuhan Batuampar. Saat ini sebagian kontainer material plastik tersebut disimpan di gudang milik importir sebelum diperiksa petugas KLHK dan BC.

“Ada beberapa kontainer plastik impor itu itu pemeriksaannya di luar kawasan pabean, digeser ke tempat atau gudang milik importir plastik tersebut,” kata Sumarna, Senin (9/9) malam.

Menurut Sumarna, hal ini atas permintaan para importir. Alasannya, untuk meng-hindari biaya pelabuhan membengkak.

Ditanya soal maraknya impor limbah plastik ke Batam, Sumarna mengatakan, sebenarnya kegiatan tersebut legal. Sebab Kementerian Perdagangan memang memberikan izin. Selain itu ada aturan yang membolehkan material plastik dari luar negeri itu diimpor ke Indonesia, Permendag Nomor 31 Tahun 2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Non B3.

Selain itu, selama ini impor material plastik tersebut sudah mendapatkan rekomendasi dari pihak surveyor resmi yang ditunjuk pemerintah. Hanya saja, belakangan ditemukan adanya kandungan limbah beracun dan berbahaya (B3) dalam material plastik impor tersebut.

“Jadi, Bea Cukai tidak bisa menolak impor material plastik itu. Karena secara dokumen semuanya lengkap,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah importir kembali mengimpor material plastik untuk bahan baku industri pengolahan plastik di Batam. Jumlahnya mencapai ratusan kontainer. Namun, setelah diperiksa petugas KLHK dan DLH Batam, terdapat beberapa kontainer yang mengandung limbah B3. Selain itu, beberapa di antaranya terkontaminasi sampah sehingga KLHK meminta untuk direekspor. (iza)