batampos.co.id – Banyak kenangan ketika beberapa kali saya meliput Ketua Otorita Batam Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie di Batam. Paling tidak di era 90-an.

Suatu ketika, dalam tugas peliputan Presiden ke-3 Republik Indonesia itu di Bandara Hang Nadim di Batam, saya bersama wartawan Kompas mendiang, Abun Sanda, dan wartawan Tempo, Bambang Setyadi, melontarkan pertanyaan mendadak, ketika beliau bersama rombongan berjalan di Apron Bandara Hang Nadim ke arah pesawat nonkomersil yang akan membawanya.

Pada saat berjalan menapaki jarak ke pesawat dari ruang VVIP, kami bertiga mendekatinya lalu mengajukan pertanyaan.

Beliaupun masih menyisakan waktu untuk menjawab di sisi wak­tu yang me­pet, di tengah suara bising me­sin pesawat yang standby untuk take off.

Dengan gayanya yang khas dan tatapan bola mata melotot tajam, beliau langsung menjawab cepat kebenaran ekspor dari Batam yang kami tanyakan.

Mungkin karena tidak hafal angka ekspor dari Batam, dengan suara khas dan tegas beliau meminta data tentang ekspor yang baru dirilis dalam pidatonya beberapa saat sebelumnya di Gedung Otorita Batam (sekarang gedung BP Batam) di Batam Center.

Presiden ke 3 Republik Indonesia BJ Habibie. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

“Anda bilang barang yang ke luar dari Batam bukan ekspor?” ujarnya dengan suara agak serak.

Dalam posisi doorstop, di tengah deru mesin pesawat di kejauhan 25 meter, ditemani sekitar lima stafnya, tanya jawab antara beliau dengan kami semakin seru.

Ya, itu tadi, mengenai definisi ekspor atas barang rakitan elektronik yang akan direekspor.
Bukan hanya materi wawancara reekspor itu yang kami ajukan ke mantan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu.

Juga masalah keamanan Batam yang semakin hari kualitas kriminalitasnya semakin tinggi.

Ada dua kasus pembunuhan terbaru ketika itu. Keduanya warga Singapura dalam interval waktu yang berlainan.

BJ Habibie memang sangat peduli soal faktor keamanan di Batam. Begitu pertanyaan angka kriminalitas itu kami ajukan, masih dalam posisi yang sama, tiba-tiba almarhumah Ainun Habibie yang dari tadi sudah duluan masuk ke pesawat, turun kembali ke apron.

Dengan derap langkah agak cepat, Ibu Ainun mendekat ke BJ Habibie dan spontan menarik lengan suami tercintanya itu sambil mengajak, “Ayo, Pak, pesawat sudah menunggu.”

Memang Ainun dan BJ Habibie seperti biasanya, setiap kali ke Batam selalu bersama rombongan dari bermacam institusi negara.

Ajakan Ibu Ainun tadi tak sertamerta diiyakan. BJ Habibie masih asyik menjawab kami.

Mantan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu pun langsung memanggil Kapolda Riau (ketika itu Batam masuk wilayah hukum Polda Riau) yang tengah dalam posisi berbaris bersama unsur Muspida Batam, di kejauhan sekitar 50 meter.

Begitu berdialog sebentar, diapun langsung menghubungi Kapolri by phone dan meminta agar Kapolres Batam (saat itu) diganti dengan Kapolres terbaik se-Indonesia, untuk bisa menjamin aspek keamanan di Batam.

Sejurus kemudian, Habibie pun memasuki pesawat buatan Nurtanio N21 itu untuk bertolak ke Jakarta.

Deretan para pejabat yang sedang sikap berdiri di apron keberangkatan VVIP, menjadi gusar. Baik Wali Kota Batam Abdul Azis, Kepala Satuan Pelaksana (Kasatkak) Otorita Batam Sudjatmiko, Kapolres dan yang lain menjadi gusar seketika tak tentu arah.

Mereka tidak tahu persis apa materi yang dibahas wartawan dengan BJ Habibie karena posisi mereka agak berjauhan dengan posisi doorstop wawancara itu.

Begitu cepat tindakan yang diputuskan Habibie saat itu demi kemajuan Batam sebagai kawasan ekonomi strategis yang dimimpikan akan terbesar di Asia Pasifik.

Dua hari kemudian Kapolres Batam pun diganti dengan Kapolres baru.
Habibie memang bisa dikatakan super kuat saat itu. Memerintah Kapolri pun beliau tak segan.

Begitulah BJ Habibie, selain memiliki power pada saat itu, beliau pun super sibuk meng-urus negara. Karena kesibukannya, kadang hanya beberapa jam saja di Batam.

Banyak dokumen yang harus diteken. Karena itulah tak jarang pundak stafnya pun menjadi meja kerja untuk sementara.

Itulah sekelumit kenangan seorang wartawan mengejar Habibie sampai ke apron lapangan udara di Bandara Hang Nadim Batam, yang dia bangun itu.
Bandara yang jauh hari beliau mimpikan menjadi hub di Asia Pasifik.(*)

Marganas