batampos.co.id – Selain mengusung konsep Benelux di Eropa menjadi Sijori (Singapura-Johor-Riau), Habibie juga mengenalkan Teori Balon BJ Habibie dalam membangun ekonomi Batam.

Yakni sebuah teori yang menggambarkan kondisi perekonomian di sebuah kawasan sebagai suatu sistem balon yang dihubungkan oleh satu dengan yang lain.

Dalam hal ini, Habibie membagi Batam menjadi tiga zona balon, yak-ni Balon I Batam, Balon II Rempang, Balon III Galang.

Teori Balon pertama kali dipaparkan di hadapan Perdana Menteri Lee Kuan Yew, pada saat kunjungan resmi perdananya ke Batam, Maret 1979.

Teori Balon merupakan sebuah teori yang menggambarkan kondisi perekonomian di sebuah kawasan sebagai suatu sistem balon yang lain dengan katup/pentil.

Ketika Balon I semakin besar dan terkena tekanan, anginnya akan tertiup ke Balon II. dan begitu selanjutnya.

Jika tidak ada katup/pentil, angin itu tidak akan sampai ke balon lainnya. Teori ini menjadi acuan BJ Habibie membangun Batam.

Penerapan teori balon inilah yang membuka kesempatan bagi Singapura untuk mengembangkan Pulau Batam sebagai Balon II.

Balon II ini berfungsi sebagai pencegah agar tidak terjadi letusan pada Balon I ketika terdapat tekanan yang berlebihan.

Balon II dengan sendirinya dapat membesar tanpa menyebabkan Balon I kempes. Balon II akan terus membesar hingga mencapai tekanan kritis.

Pada saat itulah, udara yang berlebihan itu akan mengalir ke Balon III dan seterusnya, kepada balon yang lain.

Misalnya, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru. Batam merupakan sebuah pulau yang terletak di gugusan Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia serta berada di jalur pelayaran internasional yang strategis Selat Malaka.

Perencanaan Batam dibangun oleh Presiden pertama RI Soekarno setelah era konfrontasi, yang pada awalnya sebagai basis militer.

“Pada era konfrontasi Jenderal Soeharto diutus ke Batam,” kata Habibie saat bertemu dengan para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Batam di Harris Hotel Batam, Jumat (28/4/2017) lalu.

Habibie bercerita, saat itu, Soeharto pertama kali ke Batam untuk memantau Selat Singapura.

“Batam kala itu masih berupa pulau kosong tak berpenghuni, hanya ada kancil, ular piton serta binatang lainnya,” ungkapnya.

Singkat cerita, Habibie kemudian diutus Presiden Soe-harto untuk menyusun lang­kah-langkah strategis dalam menata dan me­ngembangkan Batam. Habibie kala itu baru pulang dari Jerman.

“Saat dipanggil, saya tidak tahu Batam itu di mana,” ujar Habibie.
Habibie mengatakan, kala itu ada sekitar 6.000 orang masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir yang kebanyakan dari mereka adalah nelayan.

Batam kemudian menjadi wilayah industri yang diharapkan bisa berkontribusi pada perekonomian nasional.

Belakangan, Habibie pernah mengusulkan agar Batam jadi provinsi khusus ekonomi. Usulan itu, menurut dia, sudah disampaikan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Saya tidak tahu apakah Presiden Jokowi tahu,” katanya.

Pesan Terakhir untuk Batam

Setelah tak lagi menjadi ketua Otorita Batam, Habibie kerap berkunjung ke Batam. Kamis 27 April 2019 lalu menjadi kunjungan terakhirnya ke Batam sebelum akhirnya ia wafat pada Rabu (10/9) petang.

Dalam kunjungan terakhir itu, Habibie menilai Batam sudah mengalami banyak perkembangan. Batam sudah lebih maju.

Hanya saja, ia menyayangkan masih banyak-nya perdebatan antarpemangku kebijakan di Batam. Menurut dia, situasi ini justru akan merugikan iklim investasi di Batam.

Kata Habibie, semua pihak, khususnya Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemko Batam, harus sama-sama memikirkan bagaimana Batam semakin maju.

Untuk itu, daripada sibuk berdebat, Habibie mengajak semua pihak memperbanyak peran dan sumbangsihnya untuk pembangunan Batam di semua sektor.(leo/ska)