HAMPIR saja saya absen menulis catatan kecil untuk hari ini kalau saja Kapolda Kepri Irjen Pol Andap Budhi Revianto tidak mengingatkan saya tentang itu. Soalnya, bukan karena apa-apa. Saya lupa bahwa setiap Jumat harus menurunkan tulisan atau tepatnya “catatan kecil” di harian ini. Tentang apa saja. Itu juga janji saya kepada Pemred Batam Pos M Iqbal, ketika pertama “konsultasi” rubrik jenis apa sebaiknya saya isi di harian ini.

Ya, usai mendampingi Kapolda Andap dan Wakapolda Brigjen Pol Yan Fitri Halimansyah, beberapa pejabat utama (PJU) Polda Kepri, utusan TNI AL, TNI AD, dan beberapa perwakilan forkominda (forum komunikasi pimpinan daerah) dan sponsor melepas Tim Jelajah Negeri Sahabat Polri (JNSP) yang akan berkeliling Indonesia, Selasa (10/9), Kapolda mengingatkan saya pentingnya literasi. Kepenulisan. Kepembacaan. Bukan hanya bagi pembaca, terlebih lagi bagi si penulis, untuk terus mengasah kemampuan intuisinya. Kepekaannya terhadap lingkungan sekitarnya.

“Menulis saja terus, Mas. Apa saja. Kritisi apa saja, siapa saja yang menurut Mas Candra patut untuk dikiritik,” kata Kapolda, di ruang kerjanya.

Saat itu, hanya saya dan kapolda di ruangan yang dilengkapi peralatan multimedia itu. Kapolda ini memang termasuk pejabat Polri yang “gila” IT, aktif di medsos, rajin mengirim video-video pendek dan ucapan-ucapan selamat, serta flyer informasi seputar kamtibmas. Setali tiga uang dengan Wakapolda Yan Fitri. Maka tak heran, saat saya berada di sisi kiri meja kerjanya, Kapolda sempat menegur seorang polwan yang me-nurutnya “lelet” menyiapkan rekaman ucapan HUT Polwan yang jatuh pada hari kemarin, Kamis (12/9).

Tapi bukan soal pertemuan itu yang akan saya tulis kali ini. Soal ancaman terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat Kepri, dimana wilayahnya 96 persen terdiri dari lautan, dan hanya 4 persen daratan. Artinya, wilayah Kepri yang dikelilingi lautan yang sangat luas, menyebar dari Sumatera ke laut internasional berbatasan dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Cina, ini sungguh pintu masuk empuk bagi bermacam gangguan. Sebut saja narkoba, yang hampir setiap hari masuk ke wilayah Kepri. Itu yang tertangkap aparat. Yang tidak?

Ancaman lain yakni illegal fishing (penangkapan ikan secara tidak sah) oleh nelayan asing. Lainnya lagi, woman traficking alias perdagangan wanita, penyelundupan, lalu ingat juga soal kemungkinan ancaman infiltrasi asing yang tidak boleh dianggap isu sepi. Di sisi lain, besarnya ancaman itu belum diimbangi dengan ketersediaan personel dan alutsista yang memadai. Jumlahnya masih jauh dari cukup. Di sisi lain, anggaran negara untuk memenuhi itu semua masih terbatas. Masih banyak pula sektor lain yang menunggu dibangun dan dikembangkan.

Waktu saya dan rombongan PWI Kepri ke Pulau Kasu, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, untuk sebuah kegiatan peresmian pos bhabinkamtibmas hibah masya-rakat oleh Wakapolresta AKBP Mudji Supriyadi di salah satu pulau terluar Indonesia itu, saya membayangkan betapa rumitnya menjaga laut perbatasan. Pulau yang tersebar di sana begitu banyaknya. Ada yang berpenghuni, banyak pula yang masih kosong. Di setiap jengkal tanahnya, bisa jadi tempat persembunyian kapal yang membawa barang haram sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera atau ke Jawa. Celakanya, barang-barang terlarang itu kerap berasal dari Malaysia. Mengapa bisa lolos dari negeri serumpun itu masuk ke wilayah perairan Indonesia?

Ini jenis ancaman yang sangat serius. Narkoba adalah ancaman laten yang di setiap era mengalami modernisasi, baik dari sisi jenis maupun modus memasukkannya. Anak-anak kita, kaum remaja kaum milenial adalah sasaran peredarannya. Generasi masa depan Indonesia terancam jadi generasi teler. Generasi sakit. Tak mampu berpikir. Kemudian hilang harapan. Bisa juga bahkan menjadi the lost generations (generasi yang hilang). Jika itu terjadi, siapa lagi yang akan meneruskan keberlangsu-ngan bangsa ini ke depan? Jika lemah, mudah sekali dicaplok oleh asing. Tidak harus dengan kekuatan senjata. Dengan pemerkosaan terhadap sektor-sektor ekonomi, cukup buat suatu negara menguasai negara lain.

Sebab itu, tak ada pilihan lain, negara harus lebih concern memerhatikan wilayah perbatasan. Kepri ini banyak sekali kabupaten dan kota yang dapat terpapar ancaman-ancaman tadi. Ada Batam, Natuna, Anambas, Bintan, dan Karimun. Meskipun aparat keamanan, apakah itu TNI maupun Polri sudah berhasil menurunkan ancaman tersebut, namun bukan berarti pekerjaan boleh kendor. Tidak boleh!

Negara harus terus menaikkan anggaran alutsista ini. Penambahan personel wajib dilakukan terus mendekati indeks PBB. Sementara itu upaya-upaya diplomasi harus terus dimainkan di meja-meja perundingan bilateral maupun multilateral. Pelibatan masyarakat dalam sistem hankamrata hanya akan efektif jika masyarakat benar-benar dianggap ada dan dianggap berperan. Masyarakat di perbatasan dan pesisir tak boleh hanya jadi pagar betis ketika ada ancaman, namun ditinggalkan dari hiruk-pikuk pembangunan. (*)