batampos.co.id – Harapan Presiden RI ke-3, almarhum Baharuddin Jusuf Habibie untuk kembali mendampingi istrinya, almarhumah Ainun Habibie terwujud. Habibie yang wafat pada Rabu (11/9) lalu dikebumikan tepat di samping makam Ainun pada slot 120-121 kompleks Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Kamis (12/9).
Prosesi penguburan ahli pesawat terbang itu dilakukan melalui Upacara Pemakaman Kenegaraan. Jenazahnya tiba di kompleks TMP Kalilbata pada pukul 13.30 WIB. Disambut ribuan pelayat yang terdiri dari berbagai jenis profesi dan strata sosial. Baik yang hadir di dalam maupun di luar kompleks TMP Kalibata.
Selama perjalanan menuju lokasi makam, kalimat selawat dilantunkan rombongan yang mengiringi. Jenazahnya diu-sung 10 anggota TNI. Tampaknya berjalan di belakang peti jenazah, kedua anak, Ilham Akbar Habibie dan Thariq Kemal Habibie beserta sanak keluarganya. Setelah melewati sejumlah rangkaian, jenazah Habibie dimasukkan ke liang lahat pada pukul 14.00 setelah diawali pelepasan oleh Presiden Joko Widodo. Kedua anak Habibie, Ilham dan Thariq tampak turun ke liang lahat untuk mengantar ayahnya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Sebagai anak pertama, Ilham mewakili keluarga untuk menyampaikan pernyataan perpisahan kepada masyarakat Indonesia. Dia mengatakan, perginya Habibie bukan hanya menandai hilangnya sosok bapak atau papa bagi dirinya, namun juga kehilangan sahabat, panutan, inspirator, hingga tokoh negarawan.
Ilham menuturkan, besarnya perhatian yang diberikan publik atas kepergian ayahnya meref-leksikan cinta yang ditebarkan Habibie semasa hidup.
“Sikap bapak adalah terbuka kepada semuanya, merangkul semua pihak, tidak membedakan. Kita selalu mencoba melihat yang baik kepada siapapun dan me-manage yang kurang baik,” ujarnya.
Meski merasa sedih atas kehilangan ayahnya, ada hal lain yang melegakan dirinya. Yakni terwujudnya cita-cita Habibie untuk kembali menemani istri, yang juga ibu Ilham, Ainun. Dia menceritakan, sejak Ainun meninggal sembilan tahun lalu, Habibie selalu merindukan sosok istrinya.
Setiap hari membacakan tahlil, dan hampir setiap pekan berkunjung ke makam Ainun. Dan kini, keduanya bisa kembali bersatu.
“Insya Allah, mudah-mudahan mereka untuk selamanya bersama, berdua di sisi Allah SWT di surga, di akhirat, di alam baka,” tuturnya lantas diamini para pelayat.
Terakhir, Ilham mengajak seluruh bangsa untuk belajar dari apa yang dilakukan Habibie selama ini. Habibie yang selalu terus belajar, mau berfikir dan melakukan segalanya untuk bangsa, serta tidak pernah menyerah dalam mencapai tujuan.
“Di usia yang sangat lanjut ini, menderita penyakit, bapak tetap bersedia hadir di banyak acara, memberi masukan untuk segala macam nasihat yang diperlukan,” imbuhnya.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo dalam dalam sambutannya menilai Habibie sebagai sosok negarawan dan ilmuwan yang seimbang antara dunia dan akhirat.
“Ilmuwan yang meyakini bahwa tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Ilmu, iman, dan takwa harus bersatu,” ujarnya.
Selain itu, kata Jokowi, Habibie merupakan sosok yang visioner. Dia tidak hanya berfikir bangsa Indonesia untuk satu atau dua tahun, melainkan jauh ke depan. Salah satu contohnya adalah pembangunan industri strategis pesawat terbang yang berorientasi ke depan.
“Sejarah yang tertanam, menginspirasi kita untuk percaya diri, untuk menjadikan Indonesia berdiri sejajar dengan negara besar di dunia,” imbuhnya.
Di luar itu, jasa Habibie yang sangat terasa adalah meletakkan fondasi demokrasi Indonesia yang bebas dan bisa dinikmati hingga saat ini. Jokowi mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan almarhum agar mendapat tempat yang baik di sisi Allah.
“Selamat jalan Mr Crack, selamat jalan sang pionir. Kami akan selalu ingat pesanmu: Jangan terlalu banyak diskusi, jangan cengeng, tapi terjunkan ke proses nilai tambah secara konsisten, pasti Indonesia akan terkemuka di Asia Tenggara dan dunia,” kata Jokowi menirukan Habibie.

F. Bay Ismoyo/AFP
Selama hidupnya, Habibie memang meninggalkan banyak sekali peninggalan. Mantan Hakim MK Mahfud MD mengenang salah satu legacy penting dari Habibie adalah Pemilu 1999. Menurut dia, Habibie bukan hanya berjuang untuk kepentingannya, namun juga mengorbankan seluruh miliknya untuk kepentingan bangsa.
Mahfud menuturkan, pada 1998 Habibie membuat sebuah keputusan penting. Yakni, menyelenggarakan pemilu 1999.
’’Kalau beliau (Habibie) mau bertahan, secara konstitusi beliau bisa jadi presiden sampai 2003,’’ terangnya.
Tapi Habibie malah memutuskan menggelar pemilu. Bahkan, dia menolak dicalonkan sebagai presiden setelah pertanggungjawabannya soal Timor-Timur ditolak MPR.
Di sisi lain, Kepala BPPT Hammam Riza berbicara panjang lebar soal Legacy Habibie. Salah satunya BPPT. Selain pendiri, Habibie adalah Kepala BPPT pertama.
’’Cita-cita pak Habibie itu ingin kita membangun industri Indonesia,’’ ujarnya saat dikonfirmasi kemarin. Bagi Habibie, Indonesia tidak cukup hanya menjadi negara agraris yang tergantung kepada kekayaan alam.
Agar pembangunan nasional bisa tercapai, maka Indonesia harus banyak membangun industri nasional. Yang dilihat Habibie saat itu, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara lain berlomba menjadi maju dengan melakukan industrialisasi. Dan di saat bersamaan Indonesia belum punya industri.
Banyak industri yang ingin dibangun Habibie. Namun, dia memprioritaskan industri strategis. Industri yang berbasis teknologi. Maka dibangunah Industri Pesawat Terbang Nurtanio (Sekarang PT DI). Kemudian ada PT Pindad, Len, PT INTI, PT INKA, PT PAL, PT Dahana, dan beberapa industri lainnya.
Tidak hanya membangun industri. Legacy terpenting dari Habibie sesungguhnya adalah investasi di bidang SDM. Industri-industri yang dibangun oleh Habibie selalu disertai upaya alih teknologi. Ribuan putra terbaik bangsa dikirim untuk belajar teknologi di berbagai negara.
Mereka digadang-gadang menjadi bagian pengembangan industri Indonesia. ’’Bahkan anak-anak lulusan SMA itu dicari yang terbaik dan dikirim belajar ke luar negeri,’’ lanjut Hammam, yang juga menjadi bagian dari orang-orang yang dikirim untk belajar itu.
Khusus untuk dirgantara, Habibie menginginkan sebuah lompatan. Maka, dia bekerja sama dengan Cassa. Habibie menuntut para putra Indonesia untuk mengop-rek teknologi yang dibawa Cassa. Sehingga menghasilkan pesawat CN 212 dan 235. Dan pada akhirnya, lahirlah pesawat N-250 Gatotkoco. ’’N-250 itu nggak ada C-nya lagi kan, berarti full dari kita,’’ tuturnya.
Sayang, dalam proses menuju komersial itu, resesi ekonomi terjadi dan Indonesia terkena imbasnya. Jadilah istilah yang disebut ’’Berawal di akhir, berakhir di awal.’’ Habibie sangat kecewa, tapi itu tidak membuatnya menye-rah. Kini, harapan tertuju pada pesawat R80 yang sedang sedang dilanjutkan oleh Ilham Habibie. (far/byu/lyn/rng/yui/gie)
