batampos.co.id – Polusi udara akibat kabut asap kiriman dari kebakaran hutan masih pekat di Kabupaten Natuna. Menyikapi ini orangtua diimbau membatasi anak bermain di luar rumah. Bahkan masyarakat diimbau menggunakan masker saat melakukan aktivitas di luar rumah.
Menurut prakiraan Stasiun Meteorologi Ranai, Pulau Natuna yang berada di tengah laut Natuna Utara di perbatasan laut Cina Selatan terpapar langsung polusi asap kebakaran yang terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air. Bahkan di Pulau Kalimantan terdeteksi ada 1.106 titik panas kebakaran hutan dan lahan. Sementara di Natuna sendiri tidak terpantau munculnya titik panas akibat kebakaran.
Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti mengatakan, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan, selama munculnya polusi udara akibat kabut asap kiriman. Kabut asap ini dapat mengganggu pernapasan dan berdampak buruk pada kesehatan.

Ngesti mengatakan, orangtua sangat diimbau membatasi anak untuk bermain di luar rumah. Mengingat tingkat polusi udara saat ini sangat parah, dan dapat berlangsung lama. Karena banyak wilayah di luar Natuna terjadi kebakaran.
“Natuna ini menerima dampak polusi udara dari kebakaran hutan. Orangtua harus batasi anak bermain di luar, dan harus gunakan maskes pelindung jika berada di luar rumah,” imbau Ngesti, Kamis (12/9).
Ngesti yang sekaligus Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Natuna mengatakan, PMI bersama Puskesmas Ranai sebelumnya sudah membagikan 1.500 masker kepada pengguna jalan sebagai imbauan kepada masyarakat untuk melindungi kesehatan dari dampak polusi udara saat ini.
“Masyarakat harus sadar, tingkat kesehatan udara di Natuna saat ini sangat buruk. Dampaknya bisa tidak sekarang, tapi bisa muncul nanti beberapa tahun lagi, paling rawan adalah anak-anak,” ujar Ngesti.
Namun hingga saat ini pemerintah daerah belum mengumumkan kepada masyarakat seberapa parah tingkat polusi udara di Natuna akibat kabut asap, ditambah asap kendaraan. (arn)
