batampos.co.id – Pasar Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang menempati gedung Pasar Grand Niaga Mas, Batam Kota, bakal dipenuhi distributor yang menjajakan dagangannya dengan harga jual standar distributor.
”Yang akan masuk datanya sudah ada. Khusus beras, ada 17 perusahaan (distributor),” kata Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok (Bapok) Batam Aryanto, Kamis (12/9/2019).
Tidak hanya itu, distributor minyak, telur, daging dan lain-lain juga bergabung. Untuk distributor daging, sebanyak empat distributor menyatakan bergabung di pasar tersebut.
”Distributor daging join dalam satu kios. Kalau beras join dalam dua kios,” terangnya.
Ia mengatakan, kelak pihaknya akan menolak pembelian dalam partai besar dengan tujuan untuk dijual kembali dengan harga yang mahal.
Pasar ini sesuai namanya, memang bertujuan untuk mencegah inflasi dikarenakan harga jual yang mahal dan cenderung tidak terkendali.
”Kami tak akan kasih (partai besar untuk dijual kembali), kami hindari,” tegasnya.
“Kalau begitu, bisa-bisa inflasi lagi nanti Batam, tujuan kita (tekan inflasi) tak dapat jadinya,” ucapnya lagi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, mengatakan, semua distributor bahan pokok bergabung.
Ia menerangkan, pasar ini diperuntukkan bukan untuk pedagang yang akan menjual kembali, namun masyarakat umum.
”Kami harap masyarakat dapat memanfaatkan ini, untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Kami batasi hanya untuk konsumsi pribadi, dengan ini dapat membantu masyarakat ekonomi ke bawah,” imbuhnya.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Batam, akan melibatkan petani lokal untuk mengakomodir kebutuhan cabai di Pasar TPID Batam yang akan diresmikan pada 21 September 2019 mendatang.
”Kami ditugaskan untuk menyediakan cabai keriting. Sudah ada koperasi yang diajak kerja sama, termasuk hasil tani lokal yang di Barelang,” kata Kepala DKPP Batam Mardanis, Kamis (12/9/2019).
Harga cabai keriting adalah harga distributor dan lebih murah dari harga pasar. Ia mengakui saat ini harga pasar merupakan harga pedagang sehingga sulit mengontrolnya.
”Setiap pasar beda harga. Karena pedagang yang pegang kendali. Nanti di pasar TPID harga lebih murah dari pasar,” sebutnya.
Mengenai harga kebutuhan pokok yang masih tinggi, menurut mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil ini, tidak lepas dari ongkos pengiriman barang dari daerah asal ke Batam.
”Sudah turun, tapi masih tinggi. Kalau kembali ke normal sepertinya sulit,” imbuh Mardanis.
Seperti cabai rawit setan yang harganya saat ini masih tinggi. Karena daerah asalnya jauh, harga di pasar juga tinggi.
Saat ini, cabai setan didatangkan dari Mataram dan Jogja.
”Biaya pengiriman yang menjadi faktor harga tinggi. Petani kita tak ada pula mengembangkan cabai jenis ini,” tambahnya.
Mardanis mengakui saat ini petani yang ada belum sanggup memenuhi kebutuhan. Petani lokal lebih cenderung memproduksi cabai hijau dari pada cabai merah.
”Yang ini tak bisa dipaksa pula. Karena cabai merah butuh waktu lebih lama untuk panen. Selain itu juga serangan hama mengintai,” tutupnya.(iza/yui)
