Minggu, 19 April 2026

Sosok Almarhum BJ Habibie di Mata Karyawan Senior BP Batam

Berita Terkait

batampos.co.id – Sosok yang visioner dan sangat peduli dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) lewat ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Seperti itulah gambaran umum seorang BJ Habibie di mata karyawan se­nior di Badan Pengusahaan (BP) Batam yang dahulu dike­nal sebagai Otorita Batam (OB).

Kepala Kantor Lahan BP Batam Imam Bachroni me­nuturkan, ia tertarik ke Batam setelah mendengar ceramah Habibie di Wisma Batam pada tahun 1992. Ia dulu bekerja di konsultan LAPI ITB selama enam bu­lan. Kemudian diajak ke Wisma Batam untuk mendengar ceramah Habibie mengenai Batam ke depan.

“Pada awalnya saya hanya enam bulan saja di Batam, terus jadinya ingin nambah lagi karena tergugah untuk membangun Batam,” katanya saat ditemui di Gedung BP Batam, Kamis (12/9).

Menurut Imam, Habibie adalah sosok pemimpin yang melindungi anak buahnya. Misalnya saat terjadi permasalahan dalam proses pem­bangunan Jembatan Ba­relang pada 1992. Sebagai pimpinan, Habibie siap pasang badan untuk membuat anak buahnya tetap bekerja dengan tenang.

“Beliau itu seorang pemimpin, guru, dan orang tua yang egaliter serta bertanggungjawab. Ba­ginya kesalahan itu hal yang bia­sa karena merupakan bagian dari proses belajar,” paparnya.

Sosok visioner juga dengan jelas tergambar saat Habibie mam­pu mengubah Batam yang pada awalnya hanya merupakan gu­dang logistik Pertamina menjadi kawasan industri dan investasi yang disegani.

“Itu merupakan visi yang sangat radikal, dimana dulu di Batam hanya buat kandang sapi dan gudang logistik dan juga sebagai gudang suku cadang. Tapi sekarang warisan yang ditinggalkan itu yakni Batam sebagai kawasan investasi terkemuka,” ungkapnya.

BJ Habibie (kiri) menyalami Purnomo Andiantono yang saat ini menjadi Direktur Sarana dan Prasarana BP Batam, saat berkunjung ke Batam, beberapa tahun lalu. Terlihat Kepala Kantor Lahan BP Batam Imam Bachroni (tengah) ikut menyambut.
F. Dokumentasi Purnomo Andiantono

Karena menjabat sebagai Ketua OB periode 1978-1998, Habibie banyak mengajak insinyur-insinyur muda untuk membangun Batam. Dan dengan karisma serta visi ke depan, banyak yang mau.

“Padahal di Jakarta itu dulu banyak pekerjaan. Sedangkan kalau ke Batam hanya jumpa buldozer dan tanah merah saja. Ini mampu mengubah mindset banyak orang saat itu sehingga mengembangkan wilayah jadi mudah karena banyak yang punya persepsi yang sama,” paparnya.

Saat ini, mimpi Habibie yang belum terealisasi adalah mewujudkan Batam sebagai kawasan industri dirgantara. Mimpi tersebut akan diteruskan oleh anak-anaknya bersama BP Batam.

“Kita sudah ditinggali Batam dan lagi siapkan pengem-bangan industri dirgantara. Insya Allah terwujud. Lion sudah buka di sini dan pesawat R80 juga bakal dirakit di Bandara Hang Nadim,” ucapnya.

Dengan pengembangan seperti itu dan dukungan pemerintah, maka Imam yakin akan terwujud. “30 persen pesawat di Indonesia diperbaiki di Indonesia, sisanya di luar negeri. Coba bayangkan jika terwujud, berapa banyak pesawat lalu lalang di sini. Sehingga gengsi kita pun akan naik tentunya,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Lalu Lintas Barang BP Batam Tri Novianto; dan Direktur Sarana dan Prasarana BP Batam Purnomo Andiantono mengaku sebagai murid-murid langsung dari Habibie.

Andiantono mengatakan, ia dan Novi dulunya direkrut Habibie untuk masuk ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Setelah itu, keduanya disekolahkan ke luar negeri dengan tujuan pengembangan kompetensi.

“Saya di BPPT itu pada awalnya karena Pak Habibie. Kami ini generasi anak didik beliau. Novi disekolahkan ke Jerman, Belanda, Jepang, dan Amerika untuk kursus nuklir. Saya ke Inggris belajar teknik sipil. Itu jasa-jasa Pak Habibie. Semua disekolahkan karena misi beliau adalah membangun SDM,” katanya.

Dalam sudut pandang Andiantono, Habibie adalah bapak pembangunan Batam. “Beliau itu inspirasi teknik sipil di Indonesia. Beliau membangun enam jembatan Barelang.”
Enam Jembatan Barelang merupakan laboratorium hidup karena dibangun dengan teknologi yang berbeda-beda. Seperti jembatan pertama yang dibangun dengan konsep kabel, dan jembatan kedua yang dibangun dengan konsep busur.

“Sehingga enam Jembatan Barelang jadi tempat belajar bagi insinyur-insinyur sipil Indonesia,” jelasnya.

Sedangkan Novi mengatakan, saat dulu bekerja di bawah asuhannya, Habibie merupakan orang yang disiplin dan tegas.

“Beliau selalu on time. Kami tak bisa main-main dalam bekerja karena progresnya dicek terus sama sosok visioner seperti Pak Habibie,” tuturnya.
Selain jembatan, warisan yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Batam hingga saat ini yakni waduk dan jalan-jalan dengan ROW yang lebar.

“Dam-dam di Batam itu beliau semua yang bangun. Singapura meniru itu. Sedangkan di Indonesia, jadi referensi untuk pembangunan dam di daerah lainnya,” paparnya.

Baru kemudian jalanan di Batam. Jalan dengan ROW-nya sampai 100 meter ke atas cuma ada di Batam.

“Pak Habibie melihat pengem-bangan itu untuk lalu lintas barang dan manusia. Itu konsentrasinya,” imbuhnya.

Menurut Novi, dulu banyak yang mencibir konsep pembangunan di Batam yang sangat lebar. Bahkan banyak yang mengatakan jalan-jalan lebar di Batam saat itu untuk lalu lintas monyet. Maklum, saat itu Batam masih sepi, dan di kiri kanan jalan raya masih berupa hutan belantara.

“Tapi lihat sekarang, luar biasa kan. Jadi kalau wali kota mau lebarin, takkan ada masalah,” ungkapnya.

Paradigma yang diciptakan Habibie yakni mempersiapkan infrastruktur sebelum ditempati menjadi model rujukan untuk pembangunan kawasan industri.

“Di sini, dulu infrastruktur dibangun baru ditempati. Sedangkan di kota-kota lain, penduduknya ada dulu baru dipikirin dibangun infrastruktur sesuai kebutuhan,” paparnya.

Dan satu lagi harapan Habibie yang belum terealisasi, yakni menjadikan Batam sebagai provinsi khusus dengan kekhususan di bidang ekonomi.

“Apa yang dia bayangkan waktu itu adalah Batam dapat menjadi suatu daerah khusus di bawah pemerintah dengan kekhusususan ekonomi,” ujarnya. (leo)

Update