Sabtu, 4 April 2026

Melihat Transformasi Industri di Batam Menuju Era Industri 4.0

Berita Terkait

Pelan tapi pasti, tren industri di Batam akan segera beralih dari industri berteknologi rendah menuju industri digital dan industri manufaktur berteknologi tinggi yang merupakan pilar era industri 4.0.

Rifki Setiawan Lubis, Batam

Kemajuan teknologi semakin tak bisa dihindari. Industri di Batam saat ini tengah bergerak ke arah revolusi industri 4.0. yang ditandai dengan penerapan teknologi dalam sistem operasional industri.

Di Batam sendiri, sudah ada sejumlah perusahaan yang menerapkan teknologi 4.0 dalam operasionalnya, seperti Infineon Technologies, Siix, Ciba Vision, Schneider Electric, Rubycon, Flextronics dan lainnya yang merupakan industri-industri padat karya.

Penerapan teknologi 4.0 dianggap dapat mengakomodir perusahaan industri saat ini, dimana sekarang upah terus meningkat di kisaran delapan persen tiap tahun, tapi produktivitas pekerja menurun.

Secara garis besar, industri 4.0 adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur.

Salah satu industri yang menerapkannya adalah Schneider Electric, perusahaan yang bergerak di bidang elektrik dan berasal dari Prancis. Schneider berlokasi di Kawasan Industri Batamindo.

Direktur Human Resource Development PT Schneider Electric Manufacturing Batam, Susi, mengatakan, bahwa ada beberapa poin yang menjadi dasar perusahaan saat ini bergerak ke arah industri berbasis IoT ini.

“Pertama, kita tidak bisa lari dari perkembangan zaman yang mengharuskan kita untuk ikut ambil bagian dan perubahan revolusi industri 4.0,” kata Susi, Senin (2/9/2019) di Kawasan Industri Batamindo.

Susi mengungkapkan bahwa mengadopsi teknologi IoT akan membuat perusahan industri memiliki daya saing baik dari segi tingkat produktivitas dan efisiensi yang bisa dihasilkan serta daya saing dalam merangkul generasi milenial untuk ikut bergabung.

“Kita bisa analogikan para lulusan universitas dengan kompetensi dan pengetahuan teknologi terdepan akan lebih memilih perusahaan yang sudah modern dan adopsi teknologi terbaru agar tidak tertinggal,” paparnya.

Selain itu, konsep teknologi industri 4.0 mampu memberikan transparansi sehingga keputusan strategis bisa diambil dengan cepat dan akurat.

“Targetnya bukan untuk menggantikan tenaga kerja tapi memberikan tools dan kemudahan dalam operasional perusahaan sehingga lebih produktif dan efisien,” katanya lagi.

Susi kemudian mengupas soal efisiensi penggunaan teknologi industri 4.0. Sekarang banyak perusahaan industri di Batam yang mengandalkan robot yang dikendalikan dari jauh untuk proses yang membutuhkan perlakuan khusus.

“Misalnya di area kritikal seperti di area unsafe atau risk for human. Kemudian juga untuk proses yang related dengan ergonomic, dimana robot digunakan untuk mengangkat barang yang cukup berat dan berulang-ulang,” jelasnya.

Salah satu keunggulan lainnya yakni robot bisa digunakan untuk melakukan suatu pekerjaan yang sama berulang kali tanpa istirahat.

“Dan juga proses yang berhubungan dengan CTQ atau critical to quality yang menghasilkan kualitas sesuai dengan yang diinginkan,” tambahnya.

Seorang karyawan PT Sat Nusapersada sedang mengecek smartphone yang diperoduksi di perusahaan tersebut. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Dengan kata lain, penggunaan robot sangat penting untuk tahapan produksi dari tingkat yang berbahaya hingga yang ekonomis dan efisien seperti mengangkat barang berulang kali. Mereka juga tidak digaji. “Pakai robot lebih terjamin safety-nya,” tambahnya lagi.

Lebih jauh lagi, Susi mengatakan saat ini perusahaan industri sudah berkenalan dengan collaborative robot atau robot yang mampu bekerja sama.

Collaborative robot ini dapat bekerja berdampingan dengan tenaga kerja. Robot-robot ini sudah mendapatkan sertifikat keamanan untuk bekerja di area terbuka bersama tenaga kerja di shop floor,” paparnya.

Schneider merupakan industri terkemuka di dunia yang bahkan sudah ditetapkan sebagai 10 percontohan industri 4.0 tingkat dunia, berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) pada Annual Meeting of The New Champions di Tiongkok, 3 Juli lalu.

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, juga mengaku bangga atas prestasi Schneider ini.

“Indonesia juga mulai bersiap masuk ke dalam dunia baru revolusi industri. Dan hebatnya lagi perusahaan manufaktur Schneider yang ada di Batam masuk percontohan tingkat dunia,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri saat ditemui di Kawasan Industri Batamindo.

Nama perusahaan di Batam tersebut bersaing dengan perusahaan kelas dunia lainnya seperti Group Renault asal Prancis, Nokia dari Finlandia, SAIC Maxus dari Tiongkok dan lainnya.

Tipikal industri 4.0 yang mengadopsi sistem digital ini akan mampu menarik lokomotif industri pendukung lainnya lebih optimal.

Tapi, di sisi lain, karena sistemnya sudah otomatis, maka perusahaan industri akan mengandalkan robot dan hanya sedikit merekrut tenaga kerja. Itupun hanya tenaga kerja yang terampil di bidang teknologi industri 4.0.

Memang bagi sejumlah pihak, mereka memandang revolusi industri 4.0 menjadi ancaman pengurangan lapangan pekerjaan.

Namun, Tjaw menilai bahwa revolusi industri 4.0 dapat dipandang sebagai kesempatan melahirkan peluang pekerjaan baru yang berpotensi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Perlunya menyiapkan tenaga kerja yang terampil dengan perubahan yang fundamental terhadap pendidikan dan pelatihan vokasi. Dari tenaga kerja tak berskill menjadi fullskill,” jelasnya.

Schneider dipilih karena program yang mereka jalankan yakni Batam Digital Transformation Journey yang dimulai sejak 2017.

Program tersebut menitikberatkan transformasi digital dalam beberapa tahap dari tata kelola manajemen hingga pengembangan kompetensi digital dalam perusahaan.

Penggunaan robot memang tengah dicoba oleh kalangan industriawan di Batam. Mengingat lebih efisien karena tidak membutuhkan gaji.

Polemik kenaikan upah minimal kerja (UMK) tiap tahun dianggap mengganggu kelancaran usaha.

Tjaw mengungkapkan bahwa revolusi industri 4.0 ini memang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena berbagai lini kehidupan sudah mulai menerapkannya.

Mulai dari sistem pendidikan, pemerintahan, sistem transaksi jual beli, pelayanan kesehatan dan lainnya.

“Saat ini berbagai macam kebutuhan manusia telah banyak menerapkan dukungan internet dan dunia digital sebagai wahana interaksi dan transaksi,” ungkapnya lagi.

Khusus untuk Batam, salah satu faktor utama penyebab peralihan teknologi adalah efektivitas waktu dan biaya.

“Selalu terjadi ketidakseimbangan antara kenaikan upah dan penguatan produktivitas dan keterampilan kerja (BLK). Lalu sering juga terjadi unjuk rasa,” katanya.

Dalam jangka panjang, era digitalisasi ini berpotensi memberikan peningkatan net tenaga kerja hingga 2,1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025 di seluruh dunia.

Disamping itu, revolusi industri 4.0 yang berbasis digitalisasi ini jauh lebih ramah lingkungan.

“Terdapat potensi pengurangan emisi karbon kira-kira 26 miliar metrik ton dari tiga industri yakni elektronik sebenayak 15,8 miliar, logistik sebanyak 9,9 miliar dan otomotif sebanyak 540 miliar,” paparnya.

Tuntutan industri di era global memang meminta Batam untuk segera beralih ke industri 4.0.

Tipikal industri seperti ini akan mampu menarik lokomotif industri pendukung lainnya lebih optimal.

Tapi, di sisi lain, karena sistemnya sudah otomatis, maka perusahaan industri akan mengandalkan robot dan hanya sedikit merekrut tenaga kerja. Itupun hanya tenaga kerja yang terampil di bidang teknologi industri 4.0.

“Kalau industri manufaktur kita mau naik kelas, suka tidak suka harus beralih ke industri 4.0. Saat ini, mayoritas masih gunakan teknologi revolusi industri 1.0 hingga 3.0. Tapi teknologi industri 4.0 akan meningkatkan produktivitas, tenaga kerja dan memperluas pasar,” ungkapnya.

Memang bagi sejumlah pihak, banyak yang memandang revolusi industri 4.0 menjadi ancaman pengurangan lapangan pekerjaan.

Namun, Tjaw menilai bahwa revolusi industri 4.0 dapat dipandang sebagai kesempatan melahirkan peluang pekerjaan baru yang berpotensi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Perlunya menyiapkan tenaga kerja yang terampil dengan perubahan yang fundamental terhadap pendidikan dan pelatihan vokasi. Dari tenaga kerja tak berskill menjadi fullskill,” jelasnya.

Industri 4.0 berbasis kepada pengoperasian sebuah mesin dari jarak jauh menggunakan fasilitas Internet of Things (IoT).

”Kalau sudah fullskill, bisa saja pengoperasian sebuah mesin hanya dilakukan dari jarak jauh ke sejumlah pabrik dengan menggunakan IoT, artificial intelligence (AI) dan sampai tahapan komputasi,” paparnya.

Memang dalam beberapa tahun terakhir ini, jumlah perekrutan sudah mulai menurun. Sebagai contoh, perekrutan tenaga kerja buruh di Batamindo pada tahun 2017 mencapai 12.367 orang.

Tapi pada tahun 2018, menurun menjadi 4.891 orang. Faktor utama memang karena penurunan ekonomi Batam yang disebabkan lambannnya perekonomian global. Tapi faktor revolusi industri 4.0 juga ikut berkontribusi.

Pada umumnya, perusahaan akan merekrut ribuan tenaga kerja ketika ada peningkatan order atau ada ekspansi.

Tapi perusahaan yang berekspansi pun tidak terlalu banyak merekrut tenaga kerja. Rubicon di Batamindo yang melakukan ekspansi hanya merekrut 250 tenaga kerja, Sat Nusapersada yang mendapatkan limpahan investasi dari Pegatron juga hanya merekrut 200 tenaga kerja.

Kemudian perusahaan asal Jepang, Maruho hanya merekrut 70 orang dan Simatelex dari Hongkong yang hanya merekrut 120 orang.

Selain industri padat karya, investor-investor yang mengandalkan teknologi digital juga sudah menyatakan minat untuk menanamkan modalnya di Batam.

Contohnya Pasifiktel Indotama (Paktel) dan Styles Theory. Presiden Direktur Paktel, John Lester mengatakan perusahaannya tertarik merelokasi antena satelit ke Batam karena lokasinya yang strategis.

“Kami butuh ruang untuk merelokasi 11 antena satelit tersebut. Lahan yang kami butuhkan kurang lebih satu hektar. Untuk relokasi tentunya butuh banyak persiapan, khususnya akses transportasi. Batam memiliki kemudahan tersebut,” ujarnya, Selasa (9/7/2019) di kantor BP Batam.

Lester menyebut penyebab relokasi karena pemilik lahan tempat antena satelit yakni Asia Satelite Internet Exchange Limited (ASIX) di Hongkong memutuskan untuk menjual lahannya.

Lester juga menyebut selain Batam, ternyata mereka juga berminat ke Filipina dan Malaysia.

Tapi, Batam merupakan pilihan pertama yang telah disepakati oleh perusahaan yang bergerak di layanan jaringann telekomunikasi ini.

“Kami pilih Batam karena minim gedung pencakar langit yang dapat menghalau akses ke satelit di luar angkasa,” jelasnya.

Selain itu, Batam memiliki fasilitas yang dibutuhkan seperti genset listrik, gedung, pusat jaringan kontrol, infrastruktur IT, serta menampung peralatan stasiun satelit di darat.

“Apabila bisnis ini terlaksana, maka Paktel akan menyerap 50-100 tenaga kerja yang terdiri dari insinyur dan teknisi,” ucapnya.

Menanggapi minat Paktel tersebut, Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra Irawadi mendukung bisnis Paktel di Batam.

Sekadar diketahui, BP Batam merupakan pemilik hak pengelolaan lahan (HPL) di Batam dan berwenang memberikan izin investasi kepada perusahaan-perusahaan asing.

Ada tiga rekomendasi yang diberikan BP Batam kepada Paktel untuk berbisnis di Batam. Pertama, BP Batam akan mengalokasikan lahan untuk Paktel.

Kedua, Paktel dapat menggunakan bangunan yang dimiliki BP Batam yang telah dilengkapi peralatan dan tower.

“Dan terakhir, menggunakan fasilitas IT Center BP Batam. Masing-masing dari pilihan ini tentunya menguntungkan dari sisi yang berbeda,” jelansya.

Selain Paktel, investor Singapura Styles Theory juga merencanakan berbisnis di Batam. Perusahaan ini bergerak di usaha penyewaan baju lewat aplikasi digital.

Perusahaan digital asal Singapura, Styles Theory berniat untuk membuka bisnis di Batam. Styles Theory ingin berbisnis di bidang pemeliharaan terhadap produk berupa baju bermerk.

Co Founder CEO Styles Theory, Christopher Revandus Halim, mengatakan, perusahaan yang dirintisnya ingin mengetahui lebih detail tentang tata cara berinvestasi di Batam, khususnya mengenai ekspor dan impor barang dari dan ke kawasan perdagangan bebas Batam.

Styles Theory menyediakan aplikasi sewa baju bermerk yang pertama kali diluncurkan di Singapura dan mulai masuk ke Indonesia pada November 2017,” katanya.

Lewat aplikasi digital buatannya, kegiatan menyewa pakaian bermerk tersebut dapat dilakukan tanpa batas.

Aplikasi ini memberikan kesempatan pada para penggunanya untuk bergaya sesuai pilihan konsumen.

“Kami tertarik untuk membuka bisnis pemeliharaan terhadap produk berupa pembersihan, perbaikan, perawatan barang. Setelah melakukan pemeliharaan di Batam, maka produk-produk tersebut akan diekspor kembali ke Singapura,” paparnya.

“Untuk kegiatan rental dilakukan di Singapura. Disana kita punya gudang sendiri. Pengiriman dilakukan ke Batam hanya untuk pemulihan saja, kemudian dikirim lagi ke Singapura untuk disimpan lagi,” jelasnya lagi.

Batam Jadi Pusat Produksi Produk Digital

Perusahaan perakit iPhone asal Taiwan, Pegatron, sudah mulai beroperasi di Batam, tepatnya di PT Sat Nusapersada.

Sesuai kontraknya, perusahaan ini akan beroperasi selama empat tahun dan akan merekrut pekerja hingga 2.000 orang.

Presiden Direktur Sat Nusapersada Abidin mengatakan, kontrak Pegatron di Sat Nusapersada selama tiga tahun dan akan diperpanjang selama satu tahun. Perusahaan ini akan merakit produk non iPhone berupa produk smarthome.

“Kerja sama dengan Pegatron itu benar sekali, tidak ada salahnya. Kita produksi alat-alat smarthome. Nanti akan ekspor perdana tanggal 24, dan akan kami undang media kalau disetujui pihak Pegatron,” kata Abidin pada awal Januari 2019 di pabrik Satnusa Persada.

Adapun produk smarthome yang akan diproduksi Pegatron yakni modem, gateway, speaker, kamera, webcam, IP Cam, dan produk lainnya.

Produk-produk ini merupakan produk berbasis internet of technology (IoT) yang merupakan cikal bakal industri 4.0 yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber, dimana pekerjaan bisa dilakukan dari jarak jauh untuk mempermudah kerja manusia.

“Sebagian dari perakitan ini bersifat service molting technology (SMT) oleh Pegatron dan sebagian lagi Sat Nusa,” ucapnya.

Pegatron akan beroperasi di pabrik 12 yang memiliki enam lantai. Luas lahannya 2.560 meter persegi dengan luas bangunan kurang lebih 16.639 meter persegi.

PT Pegatron membuka usahanya di Kawasan Industri Batamindo, Kota Batam. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Gedungnya sudah mulai dibangun sejak April 2018 dan akan selesai bulan ini. Anggaran pembangunannya mencapai kurang lebih Rp 148 miliar.

Pegatron menjadi salah satu perusahaan terbaru yang berinvestasi di Satnusa. Sebelumnya ada lima perusahaan ponsel pintar (smartphone) yang hijrah ke Sat Nusapersada.

Yakni Asus dan Nokia yang masuk pada 2017, Xiaomi, Huawei, serta Honor pada 2018. Sat Nusapersada merupakan pemegang tunggal hak merek dan akan memproduksi semua tipe smartphone yang diproduksi oleh merek-merek tersebut.

“Terima kasih kepada pemerintah yang telah menerapkan kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) khusus smartphone,” ucapnya.

Kebijakan ekonomi TKDN mewajibkan smartphone asal luar negeri untuk menggunakan konten lokal sebanyak 35 persen dalam produknya agar bisa berjualan di Indonesia. Konten tersebut bisa dalam bentuk kotaknya, casingnya, buku manual, LCD, dan lainnya yang diproduksi oleh mitra lokal.

Namun dalam kasus Sat Nusapersada, mereka dipercaya untuk merakit smartphone yang siap untuk dipasarkan.

Pasarnya ini selain lokal, juga akan diekspor keluar negeri. Tujuan utamanya adalah India, Jerman, dan Prancis.

Ia berharap ke depannya, pemerintah juga menerapkan TKDN kepada produk lainnya seperti laptop, televisi, kulkas, dan produk lainnya.

“Laptop itu pertahun impornya naik 41 persen tahun lalu. Tiap tahunnya kebutuhan di Indonesia capai 3 juta unit pertahun. Jika di-TKDN, maka bisa ciptakan 80 ribu lowongan tenaga kerja,” paparnya.

TKDN dianggap dapat mengurangi impor, menggairahkan industri lokal, menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan negara.

“Selain itu, kita akan bangga karena di kotak produk ada tulisan Made In Indonesia,” tegasnya.

Untuk target produksi, jumlahnya mencapai jutaan tiap bulannya.“Untuk target, tiap bulannya akan memproduksi 3 juta unit smartphone.

Dan porsi terbesar dari Xiaomi yang memang pasarnya sedang tinggi. Tapi target tersebut juga tergantung dari respon pasar,” katanya.

Asus diberitakan sebelumnya menargetkan 2,5 juta unit smartphone per tahun. Sedangkan Xiaomi menargetkan 6 juta unit smartphone per tahun.

Dengan kata lain, secara keseluruhan target Sat Nusa mencapai 36 juta unit per tahun pada 2019.

Target 36 juta smartphone pada 2019 ini jauh meningkat dari capaian pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2016, produksi smartphone di Sat Nusa mencapai 1.171.297 unit. Kemudian 2017 naik menjadi 2.926.647 unit dan 2018 mencapai 11.291.964 unit.

Selain merayu perusahaan yang memproduksi smartphone, Abidin dan rekan-rekan pengusaha dari Batam juga pernah mempromosikan Batam di hadapan 24 perusahaan pemasok komponen smartphone Xiaomi.

Selain itu, smartphone merek Lenovo juga akan mulai diproduksi di pabrik milik Sat Nusa.

”Bulan ini sudah dimulai, kita produksi Lenovo tablet yang diekspor ke Amerika. Ini untuk yang pertama kalinya,” kata Abidin saat ditemui  di Hotel Nagoya Hill, Batam, Kamis (15/8/2019).

Abidin belum menjelaskan secara detail mengenai nilai investasi Lenovo ini. Namun yang pasti, setiap bulannya Sat Nusa akan mengeskpor 100 ribu tablet Lenovo ke Amerika.

Selain Lenovo, jam pintar (smartwatch) merek Imoo juga akan diproduksi di pabrik Sat Nusa.

Berbeda dengan Lenovo yang sudah mulai produksi, Imoo baru akan mulai diproduksi di Sat Nusa pada September mendatang.

”Imoo itu mulai datang bulan depan untuk produksi. Untuk tenaga kerja, kita butuh di dua bidang itu ratusan saja. Jadi, kita doakan saja ya, biar tercipta lapangan kerja baru untuk Batam,” kata Abidin sambil berlalu.

Ekspor perdana Satnusa sendiri sudah dimulai pada Februari lalu, dimana Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla sendiri yang meresmikannya.

Adapun produk yang diekspor yakni produk smarthome router besutan Pegatron.

Smarthome router yang diproduksi di Sat Nusa merupakan router dengan teknologi fast router wireless wave 2 dengan kecepatan transfer data seratus kali lebih cepat dari router biasa.

Abidin mengatakan nilai ekspor perdana produk smarthone router ini mencapai 3,7 juta dolar Amerika.

Wireless router ini dapat mendukung terwujudnya koneksi smarthome yang membutuhkan bandwidht data yang tinggi,” ucapnya.

Abidin berharap agar semakin banyak produk-produk berteknologi tinggi yang diproduksi di Indonesia sehingga mampu mendorong Indonesia memasuki era industri 4.0 dan mewujudkan konsep smart city di Indonesia.

Pertumbuhan investasi yang sedemikian pesat mendorong Satnusa yang merupakan industri padat karya ini dalam melakukan perekrutan tenaga kerja.

Saat ini jumlah pekerja di Sat Nusapersada mencapai 7.000 orang. Dengan adanya peluncuran produk smarthome ini, maka akan menambah 2.000 lowongan kerja baru.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengapresiasi prestasi yang telah dicapai Sat Nusapersada.

“Saya apresiasi Abidin dan lainnya karena dua hal, yakni tetap berada di jalur teknologi dan tetap setia di Batam,” paparnya.

Orientasi kepada produk smartphone sangat tepat karena pasarnya menjanjikan dan terus tumbuh. Di Indonesia saja kebutuhan smartphone terus tumbuh karena daya beli masyarakat terus membaik.

“Dari Batam ke daerah pabean lainnya tidak ada lagi bea masuk seperti dulu. Ini bisa kita tingkatkan,” ujarnya.

Pemerintah memang tengah berupaya menggenjot ekspor dengan menerapkan kebijakan TKDN sehingga membuat perusahaan berteknologi tinggi hijrah ke Batam.

“Dunia ini nanti akan digerakkan teknologi, kalau tidak maka kita akan ketinggalan. Nanti kita hanya jadi konsumen teknologi saja,” ucapnya.

Selain itu, dengan TKDN maka dapat meningkatkan devisa negara. Setelah itu, angka ekspor akan tetap terjaga dan terus bertumbuh serta menciptakan lapangan pekerjaan.

Pemerintah saat ini, kata JK, tengah memanjakan industri berteknologi tinggi agar terus berkembang.

Caranya dengan memberikan sejumlah insentif dan memberdayakan tenaga kerja lokal dengan pelatihan kompetensi yang memadai.

Selain itu, juga akan mempersiapkan infrastruktur pendukung yang handal. Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan dengan regulasi TKDN, maka akan terjadi penghematan karena angka impor bisa ditekan.

Ke depan sangat baik untuk mendongkrak neraca perdagangan RI yang kini masih rendah.

“Produksi elektronik merupakan bagian utama mendorong ekspor. Sekarang kita masih defisit impor. Tapi dengan bagian dari policy Taiwan yang ekspansi ke Batam, maka target 68 juta Dolar Amerika bisa dicapai,” katanya.

Vice Chairman Pegatron Corporation Taiwan, Jason Cheng mengatakan Batam memiliki lingkungan yang bagus sebagai basis produksi Pegatron.

“Di sini lingkungannya bagus dan menjadi langkah pertama untuk berkembang,” paparnya.

Pegatron terus meraih keuntungan di ekonomi global dengan mengirim produknya ke berbagai belahan dunia lainnya seperti Cina, Mexico, Amerika, dan Eropa.

“Ini merupakan langkah awal. Kami akan maju terus berekspansi. Kami butuh dukungan dari teman-teman di sini,” harapnya.

Selain membuka pabrik di Satnusa Persada, Pegatron juga membuka pabrik di Kawasan Industri Batamindo.

Pegatron meresmikannya pada 9 Februari lalu. Untuk tahap awal, Pegatron di Batamindo baru memiliki 60 karyawan operator, tapi jika proses renovasi sudah usai, maka secara bertahap akan merekrut hingga 1.800 karyawan operator yang akan bekerja dalam tiga shift.

“Kami harap bisa merekrut 1.800 orang karena Pegatron itu industri berteknologi tinggi. Kami juga bahagia akan segera proses operasional,” kata Jason Cheng.

Pabrik Pegatron di Batamindo adalah pabrik kedua di Batam. Sebelumnya, pabrik pertama ada di Satnusa Persada.

Nilai investasi Pegatron di Batamindo mencapai Rp 560 miliar. Di Batamindo, Pegatron menggunakan gedung yang dulu ditempati PT Sanmina yang tutup total.

Pegatron di Batamindo memproduksi komponen-komponen produk smarthome. Setelah itu, baru dikirim ke Satnusa untuk proses akhir. Baru kemudian diekspor ke Amerika dan Eropa.

Jason mengatakan proses produksi komponen smarthome di Batamindo akan menggunakan konsep service molding technology (SMT) atau injeksi molding.

“Target kami adalah memproduksi produksi smarthome sebanyak 1,2 juta unit per bulan,” ungkapnya.

Jason menjelaskan pihaknya akan melihat perkembangan Pegatron dalam tempo dua atau tiga tahun kedepan.

Jika perkembangannya positif, bukan tak mungkin perusahaan asal Taiwan ini melakukan ekspansi usaha.

Pegatron sebagai pemasok komponen juga berencana mengujicobakan produksi komponen iPhone di Batam.

Jika berhasil, maka proses ujicoba akan berlanjut dengan produksi nyata.

Di tempat yang sama, Presiden Direktur Satnusa Persada, Abidin Hasibuan, berharap kegiatan Pegatron di Batam bisa berjalan lancar dan tanpa hambatan.

“Jangan sampai ada keluhan apa-apa. Doakan dan jangan diganggu,” jelasnya.

Target Pegatron di Batamindo adalah merekrut 1.800 karyawan dalam setahun. Karyawan sebanyak itu diperlukan karena target ekspor yang besar menuju pasar dunia.

“Pegatron di Batamindo akan langsung operasional hari ini. Mari kita jaga kondusifitas iklim usaha di Batam,” tuturnya.

Salah satu produk smarthome yang diproduksi Pegatron adalah smarthome router. Pegatron di Batamindo memproduksi komponennya dan Pegatron di Satnusa melakukan proses finishing.

Smarthome router yang diproduksi Pegatron merupakan router dengan teknologi fast router wireless wave 2 dengan kecepatan transfer data seratus kali lepah cepat dari router biasa.

Di tempat yang sama, Gubernur Kepri, Nurdin Basirun menyambut positif kehadiran Pegatron di Batam.

“Kita tahu dunia sudah bergeser ke era teknologi tinggi. Jadi ini bukan untuk mengembangkan ekonomi saja, tapi juga sebagai peralihan pengetahuan,” jelasnya.

Sedangkan Walikota Batam, Rudi mengatakan sangat mendukung investasi Pegatron di Batam.

“Izin apapun selama tidak melanggar, akan kami antar ke perusahaan. Intinya kita kembangkan industri lebih cepat sehingga bisa selesaikan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Mengenai tenaga kerja, karena sudah ada peraturannya, ia berharap Pegatron mematuhinya.

“Kalau tenaga ahli boleh dari luar. Tapi selebihnya dari lokal. Sudah ada aturannya. Jadi kita doakan saja semoga tidak ada yang diganggu lagi,” paparnya.

Dan Kepala BP Batam, Edy Irawadi Putra mengatakan ia mengapresiasi Abidin Hasibuan yang membawa Pegatron ke Batam.

“Mengapa Pegatron pilih disini, karena ada perbedaan komparatif dan kompetitifnya,” jelasnya.

Di Batam, sumber daya manusia SDM-nya sudah terbiasa mengerjakan produk elektronik. Disamping itu kebijakan yang ada juga mendukung investasi.

“Hal yang paling penting yakni investasi harus dijaga. Dan harus diberikan keyakinan agar betah dan berkembang,” harapnya.(*)

Update