Minggu, 3 Mei 2026

Memanfaatkan Teknologi 4.0 demi Menekan Kebocoran Air

Berita Terkait

Pada layar monitor nampak tekanan air tak merata. Di beberapa titik tekanan normal akan tetapi menyusut di titik lain bahkan menghilang.

Messa Haris, batampos.co.id

Hari itu, Selasa (20/8/2019) mulai pukul 20.00 WIB, PT. Adhya Tirta Batam (ATB), pengelola air bersih di Kota Batam memeliharaan Trafo 2.500 KVA di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang.

IPA Duriangkang merupakan tulang punggung suplai air bersih di Batam. IPA Duriangkang menyuplai sekitar 70 persen pelanggan ATB yang ada di Batam. Selain IPA Duriangkang ATB pun mengelola lima IPA lain yakni

  • IPA Mukakuning
  • IPA Sei Ladi
  • IPA Sei Harapan
  • IPA Tanjung Piayu
  • IPA Nongsa

Rabu (21/8/2019) sesuai jadwal sekira pukul 04.00 WIB pekerjaan rampung. Tidak itu saja, bersamaan perbaikan trafo ATB berhasil merelokasi pipa distribusi utama DN 600 mm. Tepat waktu.

“Sekira pukul 05.00 petugas ATB mendapati pressure air melemah. Ada pipa bocor nih,” kisah Head of Corporate Secretary ATB Maria Jacobus.

Petugas lapangan PT ATB melakukan perbaikan kebocoran pipa DCIP 600 mm di Duriangkang. Foto: Humas PT ATB untuk batampos.co.id

Pipa ini ditanam 3 meter didalam tanah. Tak mudah menemukan titik mana yang bocor.

Namun normalisasi suplai kepada pelanggan mengalami keterlambatan akibat terjadinya kebocoran pipa di lokasi Duriangkang, tepatnya di depan perumahan Winner.

Alat berat didatangkan untuk menggali. Petugas teknis penyambungan pipa berjibaku menyambungulang.

Hari semakin siang. Air tak mengalir ke kawasan Batam Center, Tanjung Uncang dan sebagian wilayah Batuaji.

Di Batam, warga tidak memiliki sumur, sehingga warga tak memiliki cadangan untuk kebutuhan hari itu.

Maria menuturkan bagi ATB tak susah untuk mengetahui kebocoran besar yang terjadi kala itu.

Mereka telah melengkapi diri dengan SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition), sebuah aplikasi untuk memonitor kinerja produksi dan distribusi air.

“Ya nampaklah, level air tak naik-naik,” sahutnya saat ditanya apakah layar SCADA memantau kebocoran hebat tersebut.

Sejak tahun 2011, ATB menerapkan konsep Smart Water Company. Caranya, ya, melalui penerapan inovasi teknologi. Mereka menyebut, ATB Smart Water Management System. Layaknya sebuah aplikasi teknologi sistem ini senantiasa bertransformasi.

ATB melengkapi diri dengan teknologi

  • GIS (Geographic Information System),
  • MMR (Mobile Meter Reading),
  • LMS (Leakage Monitoring System),
  • PMS (Pressure Management System),
  • Mobile Apps,
  • AMR (Automatic Meter Reading),
  • AIRS (ATB Integrated System)
  • SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition)

Teknologi SCADA yang mereka miliki menjadi kebanggaan. Anda bila berkunjung ke ATB akan disuguhi layari lebar yang berisi indikator kinerja pelayanan air bersih oleh ATB Batam

Awalnya layar itu berupa sehelai kain lebar yang mendapat sorotan gambar kiriman dari komputer. Kini, mereka menggatinya dengan layar LED. Gambar pun lebih jernih.

Monitor dalam ukuran lebih kecil pun ditempatkan di beberapa titik dimana tim ATB membutuhkan.

Penerapan teknologi dan sistem terintegrasi dalam pengelolaan air menjadikan ATB mampu menekan tingkat kehilangan air secara signifikan. Foto: PT ATB untuk batampos.co.id

“ATB SCADA 4.0 terintegrasi tidak hanya di unit produksi tetapi juga ke semua unit sistem yang ada di ATB, termasuk sistem pelayanan pelanggan,” terang Maria.

Tak hanya itu, petugas di lapangan dapat dimonitor secara real-time setiap proses yang berkaitan dengan pengelolaan air hingga layanan yang diberikan ATB sehingga kualitas produk dan jasa terjaga sesuai dengan standarisasi yang telah ditetapkan.

“Sebuah kebanggaan karena sistem ini dibangun dan dikembangkan oleh sumber daya internal ATB dan saat ini sedang dalam proses hak paten,” lanjut perempuan berdarah Manado ini.

Salah satu manfaat besar dari penerapan teknologi terintegrasi ialah, ATB berhasil menekan kebocoran alias non reveue water (NRW).

Sebagai gambaran sempat ada kebocoran pipa di ruas jalan layang di Batam pada Juni 2019 lalu. Air merembes hingga ke permukaan jalan. ATB mengklaim rugi sekira Rp 70 juta per bulan.

ATB mengaku bahkan harus merogoh biaya berkisar Rp 1 miliar untuk penurunan satu persen kebocoran air.

Hasilnya, tingkat kehilangan air ATB berada di angka 16,6 persen. Bahkan, angka kehilangan air ATB pernah menyentuh angka 11,9 persen pada Mei 2016.

Adapun rata-rata kebocoran PDAM secara nasional masih diatas 35 persen.

ATB sentiasa mengontrol angka kebocoran secara terintegrasi melalui sistem 4.0 yang ia bangun.

“Tingkat kebocoran jadi ukuran kinerja perusahaan air,” tegas Maria Jacobus, Head of Corporate Secretary ATB. “Jadi pengelolaan air lebih efisien, produktif dan efektif sehingga layanan ke pelanggan lebih optimal.”

ATB Integrated System 4.0 ini memiliki kemampuan memasukkan Big Data Analytic dari seluruh komponen operasi yang dipadukan dengan sistem ERP (Enterprise Resource Planning). Hasilnya tidak hanya mampu membantu tim teknis dan operator lapangan saja, namun juga merambah ranah business intelligence untuk memberikan insight bagi manajemen dalam mengambil keputusan bisnis dengan cepat dan tepat.

Pemetaan tekanan air bersih dengan menggunakan sistem terintegrasi merupakan upaya optimalisasi jaringan dan efisiensi suplai air bersih untuk mengontrol nilai persentase kebocoran. Ini dilakukan melalui skema sistem yang terkoneksi ke seluruh unit terkait untuk memudahkan melakukan pemeriksaan dan perbaikan. Semakin cepat ditangani, air yang terselamatkan akan semakin banyak.

Contoh kasusnya ya sepenggal kisah diatas tadi. (*)

Update