batampos.co.id – Kafe memang selalu identik dengan tempat nongkrong yang asik. Dengan suasana yang nyaman dan dekorasi yang inovatif, kafe kerap menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda.

Begitu juga de­ngan Cafe Langit. Sebuah kafe yang dikelola Pondok Pesantren Mif­tahul Huda, pesantren gratis un­tuk anak-anak yatim dan duafa di Mega Legenda, Batam Centre, Batam.

Sesuai dengan namanya, warna cat di Cafe Langit didominasi war­na biru langit. Memasuki pagar, pe­ngunjung akan langsung berhadapan panggung yang di tengahnya dipenuhi meja dan kursi kayu rakitan.

Ada juga tong plastik yang dipercantik dengan hiasan cat dan dijadikan tempat duduk.
Di sudut kanan depan dari pintu masuk, menjadi area layanan pembeli dan kasir.

Di bagian berbentuk letter L itu juga tersusun peralatan meracik kopi untuk dilakukan barista. Tersedia juga daftar menu makan dan minuman yang jumlahnya memang terbatas.

Hanya ada nasi liwet, bubur ayam Cianjur, ayam penyet, serta minuman kopi, teh, jus, dan minuman standar lainnya. Sementara di sisi kiri, terpajang empat etalase tinggi yang berisikan beragam camilan kering.

Camilan itu berlabel Camila Snack

Di balik bagian tengah itu, nyatanya masih ada ruang-ruang lain yang menjadi kesatuan Cafe Langit.

Ada percetakan kaos dan suvenir, agen perjalanan umrah dan haji plus, dan laboratorium komputer.

Sementara ruang salat dan belajar ada di bagian atas. Kemudian dapur serta beberapa ruang bersekat dijadikan kamar untuk para santri.

Pemiliknya, Tika Kusdianti, mengatakan, proses pem­ba­ngunannya sudah dari setahun yang lalu.

Diangsur dengan memanfaatkan material dari sisa reruntuhan bangunan. “Dulu, nekat ngutang ambil kavelingnya dari teman.

Aktivitas ara santri Ponpes Miftahul Huda di Cafe Langit, Selasa (10/9/2019) malam. Selain ilmu agama dan pelajaran umum, mereka juga dilatih menjadi wirausahawan. Foto: Febby Anggieta Pratiwi/Batam Pos

Dapat ukuran 20 x 20 meter persegi. Saya baru mulai kembangkan setahun lalu, dijadikan Cafe Langit ini dan pondok pesantren gratis,” ujar Tika, Selasa (10/9) malam.

Ia bercerita, hatinya begitu terketuk dengan nasib anak-anak dari kaum duafa dan yatim. Ia meyakini, anak-anak tersebut punya potensi untuk meraih mimpi dan hidup lebih baik, seperti halnya anak-anak lainnya.

Hingga akhirnya, dengan dukungan sang suami, Tika membangun Pondok Pesantren Gratis Miftahul Huda yang berlokasi di Dapur Enam, Galang.

Lokasi pinggiran yang jauh dari perkotaan Batam. Bahkan listrik pun belum sampai ke sana.

Tantangan dan perjuangan ia lewati seiring niat tulusnya membina dan menghidupi anak-anak kurang mampu tanpa memungut biaya dari para santri maupun mengajukan proposal.

Tahap demi tahap, pondok pesantrennya berkembang hingga dibuka di wilayah Batam Center (di Cafe Langit).

Ia membaginya, untuk tingkat SD dan SMP berada di Galang, dan tingkat SMA di Batam Center.

“Pondok pesantren ini resmi terdaftar sebagai sekolah berijazah negeri dari Kementerian Agama, terhitung dari dua tahun lalu. Yaitu SD Salafiyah Ula, SMP Salafiyah Wustho, dan SMA Salafiyah Ulya,” sebut Tika.

Total santrinya saat ini 130 anak, dimana 35 anak berada di Cafe Langit. Mereka tidak ha­nya berasal dari Batam, tapi juga dari pulau-pulau dan daerah luar Batam seperti Pekanbaru dan Dumai.

Khusus di Cafe Langit, mereka tidak hanya belajar tapi juga ditempa untuk jadi anak-anak man­diri. Mengingat usia me­reka yang segera beranjak dewasa.

Layaknya pondok pesantren, pendidikan ilmu agama menjadi pelajaran utama di Ponpes Miftahul Huda. Khususnya tahfiz Alquran, mengaji kitab kuning, dan ilmu entrepreneur.

“Anak-anak dikembangkan untuk berani berwirausaha, sesuai kemampuan yang benar-benar disenangi,” terangnya.

Tika kemudian menjelaskan aktivitas harian para santrinya. Setiap hari, mereka bangun pukul 03.00 WIB untuk salat tahajud dan belajar.

Usai salat Subuh, para santri berpencar. Bagi yang berani berinteraksi langsung dengan masya-rakat, mereka berkeliling ke permukiman warga untuk menjajakan aneka produk Camila Snack.

Kue semprong jadi produk andalan mereka. Sementara bagi anak yang tidak begitu berani berkomunikasi, memilih mengembangkan kafe.

Ada yang masak, membuat kue, atau menjadi barista. Dan bagi yang senang dengan dunia multimedia ikut bergabung di percetakan atau membuat berita-berita promosi untuk media sosial.

“Semuanya bergerak. Jika harus dikursuskan, mereka saya kursuskan,” lanjut Tika.

Sebelum Zuhur, tepatnya pukul 11.00 WIB, anak-anak diwajibkan sudah kembali ke pondok atau kafe.

Terkecuali jika ada kendala di luar. Proses belajar mengajar dimulai dari pukul 11.00 WIB itu hingga sore hari.

Ada delapan guru yang mengajar para santri. Empat orang di pesantren yang di Galang, dan empat di Batam Center.

Gaji para guru ini juga tidak terlalu tinggi. Sesuai kemampuan pengelola pesantren. Tak jarang Ponpes Miftahul Huda menerima relawan un­tuk mengajar di pondok pe­santren gratis itu. Tika me­nyebut relawan itu para pejuang.

Ketika malam hari, selain yang melayani pembeli di kafe, para santri disibukkan dengan kegiatan kewirausahaannya.

Yakni bisnis camilan dan kue kering. Mulai dari pe­ngemasan hingga menatanya di etalase. Aktivitas para santri ini biasanya berakhir di pukul 23.00 WIB setiap hari.

Tika yang merupakan jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan titel sarjana teknik ini menuturkan, pondok pesantrennya bukanlah panti asuhan.

Ia kembali menegaskan tidak pernah memungut biaya dari para santri. Bahkan untuk mengajukan proposal pun tak pernah ia lakukan, kecuali ada pihak-pihak yang memintanya.

“Saya cukup memperkenalkan kepada relasi dan ketika diminta ajukan proposal, baru kami buat. Seperti 21 unit komputer yang kami dapatkan dari Bank Indonesia (BI) ini, sehingga kami punya laboratorium untuk ujian nasional sendiri bahkan bisa menjadi tempat kursus umum,” ucap ibu tiga anak itu.

Wanita 42 tahun itu mengaku, prinsip yang dipakainya adalah berbisnis dengan Allah dan ia percaya dengan keajaiban sedekah.

Membaca, juga menjadi terapan ilmu yang ditekankan. Prinsip itupun yang ditanamkan kepada para santrinya.

Hasilnya tak sia-sia. Tidak ada santri yang mengeluh atau meminta pulang. Semua tampak riang menjalani aktivitas sehari-hari bersama di Cafe Langit.

Hasil penjualan Camila Snack maupun Cafe Langit dan usaha pendukung lainnya, tidak hanya digunakan untuk operasional pesantren.

Melainkan juga dinikmati para santri. Sehingga mereka bisa menabung bahkan belanja dari hasil jerih payah mereka sendiri.

Sedangkan soal makan harian, Tika tetap menyiapkan makanan bergizi untuk disantap tiga kali sehari. Sarapan, makan siang, dan makan malam.

“Kalau dihitung-hitung rinci biaya operasionalnya, sangat di luar logika. Namun alhamdulillah, rezeki itu tetap ada tanpa anak-anak harus kekurangan,” ujar Tika sembari tertawa.

Menurut para santri, Tika yang biasa dipanggil Ummi oleh para santri adalah sosok luar biasa.

“Saya dari MTsN 1 Bengkong, tapi pindah ke sini karena selain terkendala biaya, saya juga ingin mendalami ilmu agama,” kata salah satu santri, Apriliani Gebiya Putri, santi asal Batuampar, Batam.

Gebi, begitu ia dipanggil, mengaku senang dengan menulis. Cita-citanya ingin menjadi jurnalis.

Selain budaya membaca yang juga menjadi aktivitas wajib di 15 menit sebelum dimulainya pelajaran di Pesantren Miftahul Huda, santri 16 tahun ini mendalami ilmunya dengan gemar membaca atau menonton berita.

Ia pun mempraktikkannya dengan mengisi tulisan di medsos maupun mengisi artikel di laman daring.

“Semangat ini muncul ketika saya berada di Cafe Langit. Karena Ummi selalu mendorong kami untuk punya mimpi, punya wawasan luas. Kata Ummi, iqra (membaca), iqra, iqra, dan praktik. Tidak terbayang jika tidak ada Ummi,” ungkapnya lirih.

Ya, rasa cinta para santri terhadap Ummi-nya begitu besar. Bahkan saat mendengar kata ‘Ummi sakit’ menjadi kekhawatiran terbesar mereka.

Budaya yang ditanamkan sang Ummi menjadi tumpuan para santri untuk meraih mimpi. Mereka tidak hanya bercita-cita untuk sukses sendiri, tapi juga ingin membahagiakan keluarga.(Febby)