Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan memang bikin sesak. Lambat laun, daerah lain juga kena getahnya.

Sejak beberapa hari terakhir, warga Batam dan sekitarnya nyaris tidak dapat melihat silau matahari. Sang mentari hanya terlihat bulat di angkasa.

Dengan warna agak oranye. Bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang.
Dari kejauhan, gedung-gedung pencakar langit di Serambi ASEAN juga agak samar-samar. Tak semegah seperti biasanya. Hanya tampak sekilas. Tak begitu jelas.

Ini yang saya takutkan. “Serangan” asap tiba juga di Batam. Wajar bikin waswas. Batam dikepung dua pulau dengan titik kebakaran terbesar.

Sumatera dan Kalimantan. Ibarat pepatah, maju kena, mundur kena. Ke manapun angin bertiup, ujung-ujungnya lari ke Batam. Bak buah simalakama.

Entah asap kiriman siapa. Sumatera kah? Kalimantan kah? Intinya sudah sampai Batam.
Ini yang saya takutkan lagi. Pemerintah tunjuk-tunjukkan.

Saling tuding. Minim solusi. Cuma saling menganalisis. Cuma bagi-bagi masker. Belum ada solusi matang. Bagaimana caranya menghilangkan asap.

Jebret. Badan Meteoroligi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga kasih kabar buruk. Mau buat hujan buatan tidak bisa. Alasannya tidak ada awan. Gedubrak….!!!

Artinya, kita hanya menunggu nasib. Kita disuruh pasrah. Sambil berdoa turun hujan. Berusaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Biar asap seger hilang. Hidup pun tenang.

Kalau tidak salah, bencana asap sudah sering terjadi. Entah ada unsur kesengajaan atau tidak. Yang pasti sudah berulang-ulang.

Penanganannya pun juga begitu-begitu saja. Kalau tidak bagi masker, ya imbauan. Itu tok.

Belum ada langkah konkret. Nyaris tidak ada kejelasan soal tindak lanjutnya. Apakah ada upaya hukum?

Atau tindakan tegas lain? Kalaupun ada, kok masih terjadi berkali-kali.
Kalau memang sengaja dibakar, siapa pembakarnya?

Segera ditindak. Biar ada efek jera. Jika tidak ditindak, bencana asap bisa menjadi “agenda” rutin.

Atau jangan-jangan…..

Entahlah. No comment. Kalimat di atas sengaja saya potong agar tidak menimbulkan fitnah. Biar tidak dikira menyebar hoaks.

Cukup saya yang tahu apa maknanya. Kalau Anda memaknai lain, silakan. Hehehehehe.
Tak ada salahnya bagi pemerintah meminta bantuan negara lain untuk mengatasi masalah asap.

Jangan dipendam sendiri. Nanti rakyatnya yang sengsara. Barangkali ada solusi lain.
Setahu saya, Indonesia negara kepulauan. Banyak airnya.

Saya kurang paham, mungkin pertanyaan saya agak aneh dan perlu dikoreksi jika salah. Bisakah air laut dipakai untuk memadamkan api?

Jika bisa, segera lakukan. Jika tidak bisa, ya dipikirkan lagi caranya. Kan sudah ada yang mengurusi. Biar yang berkompeten menyelesaikan. Kalau saya kan bagian sorak-sorak saja. Kwakakakakakak.

Bagaimanapun juga, kita semua berharap bencana asap segera berakhir. Biar tidak ada korban. Karena asap kalau dihirup bisa berakibat fatal.

Bikin penyakit. Sesak napas, ISPA, batuk, paru-paru, dan lainnya. Harus ada langkah pasti. Ja­ngan cuma berdebat, saling tu­ding, atau pasrah.

Ingat, ben­cana asap lebih penting daripada ribut-ribut soal kabinet atau polemik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).(*)