batampos.co.id – Persoalan disparitas harga kebutuhan pokok masih menjadi penyebab utama inflasi di kabupaten Natuna, meski pemerintah sudah menjalankan program subsidi transportasi melalui kapal tol laut.

Ketua Dewan Pimpinan Kota Asosiasi Pengusaha Indonesia Kabupaten Natuna, Cucu, mengatakan, masyarakat dan pemerintah menyambut baik program tol laut untuk Natuna. Namun, masih diperlukan solusi lain.

“Tujuan pemerintah pusat bagus agar tidak menciptakan disparitas harga di daerah,” katanya.

“Tapi kenyataannya, disparitas itu masih terjadi di Ranai. Karena posisi tol laut jauh dari pusat kabupaten,” ujar dia lagi.

Pelabuhan barang Penagi, Natuna masih menjadi primadona bagi pedagang untuk membawa barang dagangan dari Jakarta atau daerah lainnya di Kepri. Foto: Aulia Rahman/batampos.co.id

Cucu melanjutkan, pedagang harus menambah biaya angkut dari pelabuhan Selat Lampa menuju Ranai sebesar Rp 700 ribu per lori.

Sementara dari Pelabuhan Penagi, hanya Rp 120 ribu per lori. Perbandingan upah angkut ini menyebabkan pedagang masih memilih memasok barang dari Pelabuhan Penagi.

“Tambahan biaya angkut lori ini menjadi pertimbangan pedagang,” paparnya.

“Kecuali kapal tol laut bisa merapat di Pelabuhan Penagi. Saya yakin disparitas harga bisa ditekan,” ujarnya lagi.

Sejauh ini, soal harga kebutuhan pokok di Ranai tetap dalam pengawasan pemerintah daerah, dan satgas pangan.

Sehingga ada batasan bagi pedagang untuk menetapkan harga pasaran, terutama ketika muncul gejolak harga pangan.

“Pedagang tentunya sangat berharap, pemerintah dapat memberikan solusi. Agar kapal tol laut dapat sandar di Pelabuhan Penagi. Solusi disparitas harga kebutuhan pokok dapat tercapai,” harapnya.(Aulia)