batampos.co.id – Kebakaran hebat yang menghanguskan 16 rumah di kampung Danau Merah, kelurahan Buliang, Batuaji, Kamis (12/9) lalu menyisahkan kesedihan yang mendalam bagi Roswinda Simamora.

Layaknya korban lain, janda empat anak itu terus diliputi perasaan kalut, karena tidak ada lagi tempat untuk menetap.

Rumah semi permanen yang didominasi kayu dan triplek bekas sebelumnya, telah rata dengan tanah akibat kebakaran.

Dari 15 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban kebakaran, Roswindalah yang paling memprihatin.

Wanita yang telah lama menjanda setelah sang suami meninggal dunia, tak bisa berbuat banyak.

Harta dan barang berharga miliknya telah habis dilahap si jago merah. Jangankan untuk membangun rumah baru, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari saja dia sudah tidak sanggup.

Terlebih dua anaknya yang saat ini masih duduk dibangku skeolah dasar, juga memerlukan biaya untuk melanjutkan pendidikan.

“Saya janda pak. Tak ada kerjaan,” katanya lirih, Rabu (18/9/2019).

Kata dia, selama ini untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keempat anaknya, Roswinda mengandalkan warung kecil di depan ruamhnya.

Namun kini, mata pencahariannya itu hilang bersamaan dengan kediamannya yang ludes terbakar pada Kamis (12/9/2019) lalu.

Roswinda sambil mengendong anaknya melihat melihat puing-puing rumahnya yang rata dengan tanah. Roswinda salah satu korban kebakaran di Danau Merah, Batuaji ini bingung dan tidak tahu harus tinggal di mana setelah kediamannya ludes terbakar. Foto: Eja/batampos.co.id

“Itulah (warung depan rumah,red) yang menghidupkan kami selama ini, tapi semua sudah lenyap,” katanya lagi.

Roswinda juga tidak dapat berkata-kata mana kala mengingat masa depan keempat buah hatinya yang masih kecil.

Ia bahkan mengatakan, apabila masa penampungan berakhir bisa jadi dirinya akan hidup di jalanan.

“Tak sanggup berkata apa lagi, bisa-bisa tinggal di jalanan kami nanti. Mau bangun ulang (rumah) duit dari mana. Hanya baju di badan kami saja yang tersisa,” ujarnya.

Saat ini Roswinda dan tiga anaknya masih bertahan di tenda penampungan yang didirikan Dinas Sosial di dekat lokasi kebakaran.

Makanan, minuman dan pakaian saat ini masih tersedia dari bantuan berbagai pihak. Namun itu tetap tak membuat Roswinda nyaman. Sebab bantuan itu ada batasannya.

Selain tak ada kerabat atau keluarga yang diharapkan, diapun tak ada tabungan sedikitpun.

Warga yang menetap di Ruli di kampung Danau Merah, Batuaji, mencoba memadamkan api. Kebakaran terjadi diduga akibat arus pendek. Foto: Eja/batampos.co.id

Saat masih berjualan, Roswinda mengaku, keuangannya juga sangat pas-pasan. Warung kecil di depan rumahnya hanya cukup untuk kebuthan sehari-hari saja.

“Banyakan jual jajanan anak-anak, berapalah untungnya. Hanya bisa untuk makan dan jajan anak saja, tak ada tabungan sedikitpun,” ujar Roswinda.

Saat ini Roswina benar-benar panik, tak tahu harus berbuat apa. Setiap hari paska kebakaran, dia hanya bisa melihat korban kebakaran lain yang mulai membenahi rumah mereka yang terbakar.

Sementara dirinya, hanya bisa melihat dari kejauhan. Bukan tidak mau membangun ulang rumahnya, tapi dikarenakan dirinya tidka memiliki uang untuk melakukan itu.

Bahkan untuk mendirikan gubuk di atas tanah bekas rumahnya, Roswinda juga tak mampu.

“Mau minta bantu sama orang-orang di sini, sayapun tak tega. Mereka juga bernasib sama. Pokoknya tak tahulah pak mau gimana kedepannya. Pasrah saya,” tuturnya.

Kepada Batam Pos, ibu empat anak itu berharap ada dermawan yang mau meringankan bebannya tersebut.

“Itu saja doa saya saat ini. Semoga ada yang berbelas kasih supaya bisa bangun kembali gubuk kecil saya itu,” harapnya.(eja)