batampos.co.id – Penunjukan deputi-deputi baru yang akan mendampingi Wali Kota Batam sebagai ex officio Kepala BP Batam akan diberikan tugas khusus, yakni memprioritaskan pengoptimalan aset-aset milik BP Batam.

Tujuannya untuk mencari laba. Meski begitu, pengoptimalan aset merupakan wacana BP Batam sejak awal kepemimpinan Edy Putra Irawadi mulai Januari lalu.

”Batam itu memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sebagai kawasan perekonomian,” kata Kepala BP Batam Edy Putra Irawadi, Rabu (18/9/2019).

“Selain itu, Batam ditetapkan sebagai jembatan digital ke Singapura,” ujarnya lagi.

Keunggulan komparatif bisa dilihat dari status Batam sebagai kawasan free trade zone (FTZ) sehingga barang bisa masuk dan keluar secara bebas.

”Ditambah lagi dengan SDM dengan skill middle skill labour. Jadi punya keunggulan komparatif,” jelasnya.

Sedangkan keunggulan kompetitifnya dapat dilihat dari beragam insentif seperti bebas pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak pertambahan nilai barang mewah (PPnBM) dan lainnya.

”Selain itu jaraknya hanya 20 kilometer dari akses niaga internasional yakni Singapura dan Malaysia,” ungkapnya.

Kantor BP Batam. Foto: Putut Ariyotejo/batampos.co.id

Tapi saat ini, potensi-potensi tersebut belum mampu dioptimalkan karena berbagai kendala yang disebut Edi sebagai kewenangan tak terlihat (invisible authority, red).

Makanya agar tidak ketinggalan ”kereta”, BP mencoba optimalkan aset-aset miliknya di Batam, seperti bandara, pelabuhan, rumah sakit, dan lainnya.

Sejumlah cara sudah dilakukan dimulai dari modernisasi infrastruktur dan kemudahan perizinan.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Cara itu berhasil untuk Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam.

PNBP yang dikumpulkan hingga Maret 2019 mengalami peningkatan jika dibanding periode sebelumnya di 2018, yakni naik dari Rp 13,1 miliar menjadi Rp 25,3 miliar.

Untuk pelabuhan masih dalam tahap adaptasi. Hingga Maret 2019, PNBP dari pelabuhan turun dari periode sebelumnya, yakni dari Rp 117,7 miliar menjadi Rp 115,7 miliar.

Sedangkan bandara juga turun dari Rp 66,1 miliar menjadi Rp 50 miliar, tapi penyebab utamanya karena harga tiket yang sempat melambung pada awal tahun.

Meskipun begitu, capaian PNBP secara total hingga Maret 2019 jauh mengalami peningkatan hingga 32 persen, yakni dari Rp 259,7 miliar menjadi Rp 342,2 miliar.

Edy mengakui bahwa sektor jasa akan dioptimalkan. Selain tentu saja mengandalkan investasi yang saat ini sudah masuk pipeline.

Output kita belum maksimal. Selalu output kita sampai sekarang dengan investasi dari berbagai macam atraksi seperti lahan, insentif, FTZ dan PTSP belum maksimal,” paparnya. (leo)