batampos.co.id – Kualitas udara yang tidak sehat akibat kabut asap bisa menimbulkan beragam penyakit. Tidak hanya ISPA, efek dari kabut asap juga berujung pada kanker paru maupun jantung.

Dokter Spesialis Paru RSAB Batam, dr Widya Sri Hastuti, Sp.P, FCCP, FAPSR, mengatakan, kabut asap mengandung unsur berbahaya yang biasa disebut radikal bebas.

Di antaranya, terdapat gas karbon monoksida, nitrogen oksida, karbon dioksida, dan beragam endapan-endapan lainnya.

”Dalam paparan jangka panjang, hal itu dapat memicu terjadinya penurunan fungsi paru-paru yang bisa menyebabkan kanker paru maupun perburukan penyakit jantung,” ujar Widya, Rabu (18/9/2019).

Namun secara teori, lanjutnya, untuk menjadi kanker paru butuh paparan karsinogen dalam waktu panjang dan berkelanjutan.

Seperti pada seorang perokok. Sedangkan dalam kasus kabut asap, warga tentunya tak lagi terpapar karsinogen jika bencana kabut asap berakhir.

Sejumlah kapal feri melintas di perairan Batam Centre di tengah kepungan asap tebal. Kabut asap mengandung unsur berbahaya yang biasa disebut radikal bebas dan dapat memicu kaker. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

”Tubuh memiliki kemampuan untuk membersihkan kembali ketika menghirup udara segar,” jelasnya.

“Jadi kalau sekarang menghirup udara kotor, lalu besoknya menghirup udara bersih (segar) maka pembersihan tubuh akan bekerja,” terang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Sementara dalam jangka pendek, selain ISPA, kabut asap juga menyebabkan iritasi pada selaput lendir, mudah terserang infeksi, rasa perih dan tidak nyaman pada tenggorokan.

Serta menyebabkan sakit kepala hingga mual. Pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronik, akan mudah terserang asma, pneumonia, dan bronkitis.

Untuk mengantisipasi itu, Widya menyarankan agar mengurangi aktivitas di luar rumah dan hindari menambah polusi di dalam ruangan.

Seperti merokok dan menyalakan lilin. Ia menganjurkan menggunakan AC dengan mode recirculate, menggunakan air purifier dan air cleaner, dan lebih banyak mengonsumsi makanan tinggi antioksidan yang terdapat pada sayur dan buah.

”Ketika di luar ruangan, maka penggunaan masker sangat dianjurkan. Termasuk mengkonsumsi lebih banyak air putih,” sebutnya.(yui/eja/cr1/she/nji)