batampos.co.id – “Anda akan mati karena usia tua, saya akan mati karena perubahan iklim”.

Kalimat itu terpampang jelas di spanduk yang dibawa oleh Samra Shehzad. Perempuan 20 tahun itu adalah salah satu peserta Global Climate Strike dari India.

Aksi mogok massal itu digelar di berbagai kota besar di lebih dari 150 negara secara serentak Jumat (20/9/2019).

“Kita harus melakukannya sekarang. Ini adalah masa depan kita,” ujar Shehzad seperti dikutip BBC.

Penduduk India memang patut waswas. Delhi merupakan satu dari 21 kota di India yang diperkirakan akan kehabisan air bawah tanah pada 2020 nanti.

Ibu kota India itu juga masuk dalam daftar kota paling berpolusi di dunia.

Aksi kali ini lebih besar dari Maret lalu. Yang turun juga ke jalan juga bukan hanya para pelajar dan orang tua mereka.

Tapi juga para pekerja. Berbagai kota memberikan toleransi pada sekolah agar siswanya bisa ikut aksi.

Pun demikian dengan perusahaan-perusahan di berbagai belahan dunia. The Guardian misalnya.

Seluruh pegawai di kantor pusat yang terletak di London, Inggris diperbolehkan bergabung dengan massa untuk aksi kepedulian lingkungan.

Patagonia, Ben and Jerry’s, The North Face dan puluhan perusahaan lainnya juga melakukan hal serupa.

Peserta aksi tengah berpose meninggal saat beraksi dalam Global Climate Strike di jalanan Seoul, Korea Selatan, Sabtu (21/9). Aksi ini dilakukan secara serentak di 150 negara. Foto: Yonhap/Reuters

Pemerintah New York, AS jauh hari sudah mengumumkan bahwa para pelajar di kota tersebut boleh bolos sekolah dan ikut aksi turun ke jalan.

Hal serupa dilakukan oleh pemerintah Boston. Ada sekitar 10 ribu massa yang beraksi di kota tersebut. Mereka yang turun ke jalan tidak hanya membawa spanduk.

Ada yang memakai kostum beruang kutub, dinosaurus, globe, dan berbagai hal lainnya.

Jika aksi di berbagai kota besar di dunia dipenuhi dengan ratusan ribu massa, tidak demikian halnya dengan di ibu kota Rusia, Moskow.

Hanya satu orang yang berdiri di tengah kota sambil membawa spanduk tentang perubahan iklim.

Dia adalah Arshak Makichyan. Pria yang berprofesi sebagai pemain biola itu sudah enam bulan ini melakukan aksi mogok Fridays For Future.

Aksi yang diprakarsai oleh aktivis lingkungan Greta Thunberg itu digelar setiap Jumat.

Sejatinya pemuda 24 tahun itu sudah minta izin untuk menggelar aksi yang lebih besar kemarin.

Tapi pemerintah Rusia menolaknya. Aksi protes lebih dari satu orang di pusat kota Moskow harus mendapatkan izin dari pemerintah.

“Saya berusaha mendapatkan dukungan dari pemuda di sini jadi kamu bisa memengaruhi pemerintah untuk bertindak,” tegasnya.

Rusia adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar keempat setelah Tiongkok, AS dan India.

Para ilmuwan mengungkap bahwa Rusia sudah memiliki tanda-tanda perubahan iklim.

Misalnya kebakaran yang terjadi di Siberia dan gedung-gedung yang ambruk karena mencairnya permafrost dan banjir.

Permafrost adalah tanah yang berada di titik beku. Biasanya tanah tersebut membeku sepanjang tahun.

Rusia juga masih aktif mengebor minyak bumi di Artik.
Sementara itu di Jerman, pemerintah sepakat untuk menggulirkan rencana terkait perubahan iklim.

Dilansir Agence France-Presse, Jerman akan mengucurkan setidaknya EUR 100 miliar (Rp 1,5 kuadriliun) hingga 2030 nanti untuk usaha perlindungan lingkungan.

Rencananya anggaran itu dipakai untuk memangkas emisi di sektor industri dan energi, insentif untuk kendaraan listrik dengan nol emisi maupun transportasi publik.

Nantinya tiket pesawat akan naik sedangkan tiket kereta api dibuat jauh lebih murah.(sha/c10/dos/jpg)