Faktor cuaca di Batam yang kadang hujan dan kadang panas, ternyata tidak berdampak banyak pada jumlah orang sakit terutama Demam Berdarah Dengue (DBD).

Menurut data yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2013, telah terjadi 112.511 kasus demam dengue di 34 provinsi di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, tercatat ada 871 penderita yang meninggal dunia.

Pada tahun 2014, kasus demam dengue di Indonesia mengalami penurunan.

Menurut data yang dikumpulkan hingga pertengahan Desember 2014, telah terjadi 71.668 kasus dengan 641 orang di antaranya meninggal dunia.

Data di atas menempatkan Indonesia sebagai negara nomor 1 di Asia Tenggara terkait kasus penyakit demam dengue.

Sedangkan di dunia, Indonesia adalah nomor 2 setelah Brazil.
Di Batam sendiri, kesadaran pola hidup sehat cukup baik. Terlihat dari data dari Dinas Kesehatan Kota Batam.

Dimana, Januari hingga Oktober 2017, tidak ditemukan kasus DBD di Kecamatan Sagulung dan Seibeduk.

Padahal sepanjang tahun 2016 kasus tersebut bisa mencapai 112 hingga 141 kasus.

Berbeda dengan Kecamatan Batuaji yang masih menempati posisi kedua dari kasus DBD terbanyak di Kota Batam.

Yakni, terdapat 48 kasus dari 149 kasus yang terjadi sepanjang tahun 2016.

Ilustrasi

Demam Berdarah Dengue atau yang dikenal secara umum oleh masyarakat Indonesia sebagai demam berdarah merupakan penyakit yang dapat membuat suhu tubuh penderita menjadi sangat tinggi dan pada umumnya disertai sakit kepala, nyeri sendi, otot, dan tulang, serta nyeri di bagian belakang mata.

Dokter Umum Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, dr Putri Yuliani, mengatakan, lebih jelas DBD merupakan komplikasi dari demam dengue yang memburuk.

Gejala DBD tergolong parah. Meskipun pada fase ini panas tubuh mengalami penurunan.

”Kerusakan pembuluh darah dan kelenjar getah bening, muntah-muntah yang disertai darah, keluarnya darah dari gusi dan hidung, napas terengah-engah dan pembengkakan organ hati yang menyebabkan nyeri di sekitar perut,” ujar Putri.

Nyamuk aedes aegypti banyak berkembang biak di wilayah padat penduduk, misalnya di kota-kota besar beriklim lembap dan hangat.

Penting memeriksa lingkungan agar nyamuk tidak berkembang biak.

Dokter berjilbab ini menyebutkan beberapa langkah pencegahan. Pertama, setiap hari cek dan ganti air di dalam vas, buang air yang tergenang dalam vas bunga.

”Setiap minggu, bersihkan daun gugur pada selokan. Bersihkan genangan air di sekolakan dan halaman rumah. Setiap bulan bersihkan sumbatan pada saluran air dari genteng. Taburkan serbuk abate pada tangki air,” jelasnya.

Ketika fasilitas air tidak sedang dipakai, sebaiknya tutup semua wadah yang menampung air. Posisikan ember dan wadah lainnya dalam posisi terbalik.

”Bila akan bepergian lama, tutup semua toilet, semua keran air dan semua saluran air,” sebut Putri.

Jika mengalami gejala seperti flu (misalnya sakit kepala dan demam tinggi) selama lebih dari satu minggu, sebaiknya periksakan diri ke dokter.

Terlebih lagi jika gejala tersebut dirasakan setelah berkunjung ke daerah yang sedang dilanda wabah demam dengue.

Dalam penatalaksanaannya, pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk melihat keberadaan virus di dalam aliran darah.

Selain untuk memperkuat diagnosis, pemeriksaan darah juga bisa dilakukan untuk mengetahui dampak infeksi terhadap darah.

Demam dengue bisa ditangani dengan meminum banyak cairan, beristirahat, serta mengonsumsi parasetamol dan acetaminophen.

Jika langkah pengobatan ini diterapkan, biasanya gejala demam dengue akan mulai menunjukkan tanda-tanda pulih dalam waktu 2-5 hari.

Ia menyebutkan, apabila pasien dianjurkan bed rest, sebaiknya terus mengontrol demamnya.

Dengan memilih obat parasetamol, dan menghindari pemberian ibuprofen dan asetaminofen. Selain itu, kompres demam dengan air yang bersih.

”Untuk mencegah penularan, pakailah repellen pada anggota keluarga yang sehat. Gunakan kelambu atau bednet untuk keluarga yang sakit,” tutupnya.(nji)