batampos.co.id – Meskipun operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) telah sukses beberapa kali menurunkan hujan, asap belum sepenuhnya efektif dihalau.
Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di enam provinsi, karhutla masih tinggi dalam kategori berbahaya (lebih dari 300).
Bahkan di Provinsi Jambi, warga dicemaskan dengan langit yang tiba-tiba berubah menjadi merah seperti menjelang malam hari.
Sebagaimana yang dilaporkan oleh Jambi Express (grup Batam Pos), warga di dua desa yakni Desa Pulau Mentaro dan Desa Mekarsari di Kabupaten Muaro Jambi menyaksikan langit mereka yang berubah menjadi memerah.
Romi, warga Desa Pulau Mentaro menuturkan bahwa langit memerah dan cuaca menjadi remang terjadi pada Sabtu (21/9/2019) selepas Zuhur.
“Cuacanya seperti malam hari,” katanya sebagaimana dituturkan pada Jambi Express.
Lagit memerah setidaknya disaksikan oleh warga di 2 kecamatan yakni Kumpe Ulu dan Kumpe Ilir.
Rino mengatakan bahwa meskipun siang hari, warga harus mengidupkan lampu karena kondisi gelap. Untuk keluar rumah pun, kadang butuh dibantu dengan senter.
Berdasarkan citra satelit, BMKG melaporkan memang ada konsentrasi hotspot yang cukup banyak dan titik api yang cukup besar di sebelah timur kecamatan Kumpe.

Sekitar 18 kilometer di sebelah selatan Taman Nasional Berbak. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Muaro Jambi, Muhammad Zakir, mengungkapkan bahwa pada Sabtu (22/9/2019), kondisi sudah mulai normal meskipun kabut asap masih dirasakan cukup pekat.
Pemadaman berkali-kali terhenti karena tiupan asap menyerang petugas.
“Tergantung angin. Kalau angin menuju ke kami kami mundur kelu-ar lahan dulu. Karena mata perih. Nggak kuat,” tuturnya kepada Jawa Pos, Minggu (22/9/2019).
Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Hary Tirto Djatmiko, mengungkapkan bahwa fenomena memerahnya langit di Muaro Jambi pada dasarnya memang disebabkan konsentrasi hotspot dan titik api yang cukup rapat.
“Hasil analisis citra satelit Himawari-8 tanggal 21 September di sekitar Muaro Jambi, ada banyak titik panas dan sebaran asap yang sangat tebal,” jelasnya.
Namun, tak semua ketebalan asap memicu warna merah. Hary menjelaskan, fenomena ini dikenal dengan nama hamburan mie atau mie scattering.
Pemicunya adalah kebakaran yang sangat besar, konsentrasi asap yang rapat dan kecepatan angin yang tinggi.
Mie scattering terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari radiasi matahari.
Panjang gelombang merah berada pada 0,7 mikrometer. Yang berarti polutan dominan di daerah tersebut berukuran sekitar 0,7 mikro-meter atau lebih.
Sehingga ketika terlihat oleh mata manusia, penampakan langit berada pada spektrum warna kuning hingga merah.
Hary mengungkapkan, pada 2015 di Palangkaraya dirinya pernah beberapa kali menga-lami langit berwarna oranye akibat kebakaran hutan dan lahan, yang berarti ukuran aerosol lebih kecil dari kasus ini.
“Tentunya butuh aerosol yang berkonstrasi tinggi dan luas untuk dapat membuat langit berwarna merah,” jelas Hary.
Sementara itu, operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) menyasar wilayah Jambi hari ini. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta TNI-AU akan menggunakan pesawat Hercules C130 dari Pekanbaru untuk mengurai kepekatan asap dan menyemai awan.
Ramai di media sosial mengenai langit merah yang terjadi di kecamatan Kumpe Ilir, Muaro Jambi.
”Berdasarkan pantauan tim hingga sore memang masih sangat kering kondisinya,” ucap Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT Tri Handoko Seto kepada Jawa Pos, kemarin.(tau/han/lyn/jpg)
