batampos.co.id – Subdit IV Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri mengejar Sya-iful, otak pelaku tindak kejahatan Subscriber Identification Module (SIM ) Swap Fraud.
Diduga komplotan ini tak hanya sekali saja beraksi membobol SIM milik masyarakat.
Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Ike Krisnadian, menduga, para pelaku telah memiliki pengalaman yang cukup.
Hal ini terlihat dari pola pembobolan. ”Memang untuk pembuktiannya harus ditangkap dulu S (Syaiful),” katanya, Rabu (25/9/2019).
Walaupun Syaiful belum berhasil diamankan, Ike mengaku mencoba berkoordinasi dengan beberapa unit cyber crime dari wilayah lainnya di Indonesia.
Koordinasi ini bertujuan mencari tahu, apakah ada korban lain dengan modus yang sama dilakukan oleh Syaiful dan komplotannya.
”Kami coba tanyakan (ke Polda-Polda lainnya di Indonesia), apa ada laporan SIM Swap Fraud ini,” terangnya.

Selain itu, ia juga menduga pemilihan korban dilakukan secara acak. Setelah memiliki nomor ponsel, para pelaku membobol SIM dengan meminta korban menyebutkan nomor OTP (One Time Password).
Setelah mendapatkan OTP ini, barulah para pelaku leluasa mengakses dan menggasak mobile banking korbannya.
”Mereka ini tidak datang ke gerai-gerai milik provider SIM tapi melalui website saja,” katanya.
“Lalu, ada OTP dikirimkan ke nomor korban, dan pelaku menelpon korban menyatakan dari provider dan meminta korban menyebutkan kode OTP,” sebut Ike lagi.
Padahal, lanjutnya, OTP tersebut tidak boleh disebutkan atau diberitahu ke siapapun.
”Jadi, ketika nomor OTP ini diberikan, maka saat itulah pelaku ini leluasa dan berhasil menggasak mobile banking milik korbannya,” jelasnya.
Ike berharap ke depan masyarakat lebih bijak menerima setiap permintaan kode OTP yang terkirim ke ponsel.
”Kadang mereka mengatasnamakan dari provider yang menyatakan sedang melakukan perbaikan data atau mengaku sebagai pihak bank. Kuncinya ingat, OTP itu hanya boleh diketahui diri kita sendiri,” tuturnya.
Ia juga mengingatkam kerahasiaan kode password mobile banking atau sejenisnya haruslah dijaga dengan baik dan benar.
Password juga harus diganti secara berkala, dan menggunakan kombinasi yang rumit.
”Jangan nomor ulang tahun, nama anak atau yang gampang ditebak. Buatlah serumit mungkin, itu menghindarkan diri dari pembobolan online,” ujarnya.
Selain itu, Ike juga berpesan agar masyarakat jangan menggunakan satu akun email untuk semua aktivitas mereka di dunia maya.
”Harus bedakan akun email untuk Facebook, Twitter, Shopee, mobile banking atau aplikasi lainnya,” pungkasnya.(ska)
