TIDAK. Saya tidak akan menulis apa saja yang saya bicarakan dengan Konsul Jenderal Singapura Mark Low, saat kami berdiskusi tiga hari lalu, di sebuah gerai kopi di Batam. Sebab, selain isinya kebanyakan off the record, Pak Low meminta tajuk diskusinya yang ri­ngan-ringan saja. Nothing’s special. Anda pasti percaya. Sebab, meskipun Pak Low ada­lah seorang pejabat perwakilan negara asing, yakni seorang kepala di konsulat, bo­leh disebut represent of the nation, tapi kan yang diajak diskusi orang awam seperti saya?
Sejak awal, ketika stafnya mengubungi untuk saya menginformasikan bosnya ingin ngopi bareng, saya sudah bertanya.

“Dalam kapasitas apa saya diundang? Sebagai apa?” selidik saya. “Sebagai Candra Ibrahim,” jawab Tari, staf Konjen, sekenanya, seraya bergurau, tentu saja.

Saya dan Mbak Tari memang sudah kenal lama. Sudah tiga Konjen Singapura dia dampingi. Sebelumnya, Konjen Singapura hanya ada di Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau.

Namun setelah Kepri berpisah dari Riau dan menjadi provinsi sendiri, Singapura kemudian mendirikan konjen sendiri untuk Kepri, berkedudukan di Batam. Sebelumnya saya kenal Mbak Alfa Nonie, staf Konjen di Pekanbaru. Dengan keduanya, kebetulan saya cukup akrab.

Ketika memenuhi undangan peringatan Hari Kemerdekaan Singapura, bulan lalu, di sebuah hotel di Batam, saya berpapasan di lokasi dengan Mbak Tari. Saat itulah dia menawarkan apakah saya bersedia bertemu Konsul Mark Low sambil ngopi? Ya, saya jawab maulah, secara saya bukan siapa-siapa. Sementara Pak Low adalah pejabat di bawah Kedubes Singapura. Tetangga paling dekat Indonesia, selain Malaysia.

Memang, setelah Konsul Singapura berganti dari Raj Khumar ke Gavin Chay, lalu kemudian ke Mark Low, saya jarang sekali memenuhi undangan mereka ke acara-acara peringatan kemerdekaan negaranya. Bukan apa-apa, kebanyakan karena kesibukan saja, apalagi saya pernah empat tahun tugas bolak-balik Tanjungpinang-Batam (PP).

Pernah sekali saya hadir di sebuah hotel di bilangan Nagoya. Padahal, saya salah satu alumni SCP yang ada di Kepri. SCP itu sebuah program kursus singkat bahasa Inggris yang difasilitasi Singapura untuk para jurnalis dan umum di Riau dan Kepri. Di Kepri, mungkin sudah puluhan orang alumni SCP dari berbagai profesi. Riau juga begitu.

Saya “angkatan” 2008. Setahun sesudahnya, saya “melanjutkan” ke Amerika selama satu bulan lebih, ke tujuh negara bagian, dalam program IVLP 2008/2009. Di Amerika, sebetulnya bukan kursus, tapi mempelajari public service, hospitality, tourism, dan pemerintahan.

Kembali ke pertemuan saya dengan Konsul Mark Low, rasanya kami cepat menjadi akrab. Dia orangnya ramah, murah senyum, pembawaannya mirip namanya, low profile. Bahasa Indonesia-nya juga lancar, meskipun kadang-kadang saya yang lebay karena menggunakan bahasa Inggris di sela-sela pembicaraan. Sudah lama tidak latihan spik-spik Inggris. Hahaha…

Tentu, saya tak akan menuliskan apa saja yang kami bicarakan. Komitmen awal tetap off the record, dan saya menghormati permintaannya. Namun, lazimnya representasi sebuah negara, Pak Low bertanya banyak hal. Dia lebih banyak mendengarkan, sambil sesekali menimpali. Penge-tahuannya tentang Batam dan Kepri cukup baik. Terutama pengetahuan tentang ekonomi, bisnis, pemerintahan, dan politik. Banyak diskusi, banyak pembahasan. Satu jam terasa kurang, dan saya tahu apa yang harus saya sampaikan. Namun demikian, tentu saja diskusi petang itu bukanlah ngopi politik. Hehe!

Satu yang cukup penting yang saya catat dari diskusi petang itu adalah bahwa mulai 2022 mendatang, untuk beberapa entry point bagi warga Indonesia ke Singapura, akan diberlakukan cop passport dengan sistem digital secara luas. Tidak lagi harus antre berlama-lama di checkpoint, namun cukup memindai passpor pada alat yang sudah disediakan atau bahkan memindai mata dan atau memindai di ponsel yang aplikasinya dapat di-install. Ini yang paling menarik.

Soal lain, Pak Low berkata, “Singapura dan Indonesia, khususnya Batam (Kepri), adalah sahabat dekat. Kita saling membutuhkan. Kita selalu saling melengkapi, bukan bersaing,” ucap Low. Well, good point, Mr Low… (*)