Keterbatasan fisik tak selalu menjadi kendala dalam menuntut ilmu. Nilai kehidupan tersebut tertanam dengan baik dalam diri masing-masing anak berkebutuhan khusus di sejumlah sekolah luar biasa (SLB) di Batam. Kolaborasi antara orang tua dan guru di SLB mampu menciptakan suasana kekeluargaan yang mampu mendorong anak-anak berkebutuhan khusus agar lebih giat dalam belajar.
Rifki Setiawan Lubis, Batam
“Jadi, siapa nama tokoh yang ibu ceritakan tadi,” seru Hefrina yang tengah mengajar anak-anak berkebutuhan khusus SLB Putra Kami Batam, Rabu pagi, 11 September lalu.
Guru yang biasa disapa Iin ini terlihat bersemangat sekali. Ia melafadzkan kata-katanya tersebut dengan intonasi seperti seorang anak kecil. Bahasa tubuhnya juga ikut mendukung aksinya tersebut.
“Saya bu, si kancil, ” seru salah seorang anak penyandang autis, Salman.
“Saya bu, saya bu, ” seru anak lainnya yang merupakan penyandang tuna grahita, Grace sambil mengacungkan jarinya tinggi-tinggi agar mendapat perhatian dari Iin.
Grace terlihat sangat ekspresif sekali dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang guru.
“Ya, Salman benar. Oke, kemudian siapa yang mau permen,” kata Iin lagi.
“Saya bu, saya bu, saya bu,” kali ini seluruh murid di kelas serentak menjawab sehingga membuat Iin tersenyum lebar di pagi hari itu.
Ditemui usai mengajar, Iin mengatakan situasi tersebut rutin dialaminya tiap hari. Menurutnya, kegiatan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus sangat menyenangkan.
Ia menyebut nama-nama anak yang menurutnya berkesan. Contohnya Salman. Salman (9) saat ini masih belajar membaca. Anaknya pemalu dan enggan diajak berkomunikasi.
Tapi ia cukup ramah menyapa guru-gurunya. Kemudian, Grace (14) yang sangat ekspresif.
Ia selalu mengacungkan jari kepada pertanyaan apapun yang dilontarkan guru, tidak peduli apakah jawabannya itu salah atau benar. Grace juga suka menolong orang lain.
Kemudian, Jeri (14). Penyandang autis ini mampu menghafal ritme musik dan menari sesuai dengan iramannya.
“Jeri ini sadar musik dan mampu menari sesuai irama, meski tidak sebagus penari benaran,” ujar Iin sambil mengembangkan senyumnya.
Lalu ada Faiq Rayhan (22), penyandang autis yang pintar melukis.
Ia sudah lulus dari SLB Putra Kami. Sekarang ia membantu guru-guru di sekolah tersebut dengan menjadi asisten guru yang membantu anak-anak lainnya belajar.
“Dan terakhir ada juga Syafiq Kurnia, anak autis juga yang sekarang sudah kuliah di Surakarta. Sebelum kuliah, ia sekolah di SMA 3,” ungkapnya.
Capaian Syafiq kembali membuat senyum Iin merekah. Mendidik anak-anak berkebutuhan khusus bukan persoalan mudah. Butuh waktu dan dedikasi untuk melakukannya.
“Jangan mudah marah karena perilaku anak-anak penyandang tuna grahita dan autis itu susah ditebak,” katanya.
Para pelajar di SLB Putra Kami memang sangat senang belajar. Apalagi saat ini, pemerintah tengah menggalakkan program membaca selama 15 menit.
Kebijakan tersebut dimanfaatkan SLB Putra Kami untuk menceritakan dongeng-dongeng yang mengajarkan budi pekerti kepada murid-muridnya sebelum memulai pelajaran.
Tapi yang perlu diketahui, metode untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus tentu saja berbeda dari anak-anak normal.
Sehingga banyak orang tua yang tidak mengerti metodenya akan menitipkan anak-anaknya di SLB.
“Kalau cara mengajarnya biasa saja, maka mereka tidak akan tertarik. Makanya sangat penting guru itu bisa berekspresi. Guru itu harus seperti mereka dalam berbicara agar anak-anak bisa tertarik untuk mendengarkan. Karena hal yang paling sulit itu adalah mengenalkan emosi kepada anak-anak berkebutuhan khusus,” paparnya.
Tiap pagi, biasanya anak-anak dikumpulkan di lorong-lorong kelas. Kemudian guru pun mulai mendongeng. Setelah itu, anak-anak diminta untuk menceritakan kembali apa yang diceritakan oleh si guru.
Sampai di titik ini, Iin menegaskan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus bukan hanya diajarkan cara membaca saja, tapi juga memahami apa yang dibacanya tersebut.
Pola tersebut mutlak dibutuhkan karena anak-anak berkebutuhan khusus sulit untuk bersosialisasi, khususnya anak autis. Mereka sering merasa minder dengan kekurangannya.
“Memang susah kalau urusan sosialisasi. Jadi ini tantangannya adalah bagaimana melibatkan mereka dalam interaksi,” ungkapnya.
Iin mengaku butuh waktu cukup lama untuk mengajarkannya kepada anak-anak berkebutuhan khusus, karena kecepatan masing-masing anak dalam memahami sangatlah berbeda, terutama bagi anak-anak penyandang tuna grahita yang memang memiliki IQ rendah.
Ketika anak-anak sudah mulai terasah kemampuannya dalam menceritakan ulang dongeng dari gurunya. Maka setelah itu, ia akan diminta untuk tampil di depan anak-anak lainnya.
Iin yakin pola seperti ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak berkebutuhan khusus di depan publik.
Ibu dari dua orang anak ini kemudian menceritakan bagaimana cara mengajar membaca dan berinteraksi untuk anak-anak berkebutuhan khusus sesuai dengan tipenya masing-masing.
Untuk penyandang tunarungu biasanya agak sulit, karena pada dasarnya penyandang tunarungu tidak pernah mendengar bagaimana cara orang di sekitarnya berkomunikasi.
“Agak sulit kalau bicara dengan anak-anak penyandang tunarungu, karena organ bicaranya tidak berkembang secara maksimal. Jadi yang kami lakukan adalah dengan menggunakan bahasa isyarat yang merupakan bahasa mereka dan bahasa verbal yang dibantu dengan alat bantu dengar,” paparnya.
Biasanya anak-anak penyandang tunarungu diminta untuk menuliskan lima kata untuk kategori-kategori yang berbeda, yakni subjek, predikat, objek dan keterangan.
“Tulis lima subjek, lima keterangan, limba objek dan lima kata kerja. Lalu susun kalimat dari kata-kata yang sudah ditulis. Lama-lama, mereka bisa baca walaupun pengucapannya tidak sebaik orang normal dan agak terbata-bata,” ucapnya lagi.
Sedangkan untuk penyandang tuna grahita, Iin mengungkapkan bahwa mereka tidak bisa dipaksa untuk belajar dengan serius.
“Diutamakan bermain peran dan memberikan pujian. Penyandang tuna grahita akan merasa bahagia jika dilibatkan dalam interaksi dan menjadi bintang utamanya,” ungkap Iin yang juga merupakan Kepala Sekolah (Kepsek) SLB Kartini ini.
Penyandang tuna grahita tidak akan suka dilibatkan dengan kegiatan akademik karena terlalu berat bagi pikirannya.
“Kalau di akademik bisa cepat bosan. Mereka lebih suka belajar dengan bermain yang bervariasi,” imbuhnya.
Penyandang tunagrahita dibendakan atas tiga golongan, yakni golongan mampu didik, mampu latih dan mampu rawat. Golongan mampu didik masih bisa dipacu secara akademik, tapi hanya sampai tahapan tertentu saja.
“Contohnya mereka hanya bisa menjumlahkan saja. Kalau berkali, maka penjumlahannya dibuat berulang. Dan mereka hanya bisa untuk memahami satu bidang saja. Makanya selalu diarahkan agar bisa menguasai bidang yang bermanfaat bagi kehidupannya kelak, contohnya laundry,” jelas Iin sambil membetulkan letak kacamatanya.
Sedangkan mampu latih, kemampuan berpikirnya tidak sebaik anak mampu didik, tapi masih dilatih suatu keterampilan. Dan terakhir, untuk anak mampu rawat, Iin menuturkan mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sambil menyeruput secangkir kopi hangat, Iin melanjutkan ceritanya. Untuk penyandang tunanetra, cara terbaik adalah dengan membacakan materi pembelajaran dan kemudian meminta mereka untuk menjelaskannya kembali.
Ada keistimewaan yang dimiliki oleh penyandang tunanetra yakni memiliki pendengaran dan ingatan yang baik. Secara umum, tidak ada masalah berarti dalam mengajar anak-anak tunanetra.
Berbeda lagi dengan anak autis. Penderita autisme biasanya sulit dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Dalam situasi tertentu, anak autis bisa berbicara sendiri tanpa menghiraukan sekitarnya, atau malah melakukan sesuatu diluar kendalinya.
Karena itu, maka pola komunikasi harus diubah lantaran anak autis tidak suka ditanya atau diminta untuk menghafal.
Anak autis kata Iin lebih suka meniru dan cenderung monoton, sehingga pola komunikasi diarahkan secara acak agar mereka mampu menarik atensinya dan merespon apa yang dibicarakan.
“Intinya adalah bagaimana membentuk suasana kekeluargaan. Jangan anggap mereka hanya sebagai murid tapi perlakukan seperti anak sendiri. Pada dasarnya mereka itu sama, karena mereka butuh kasih sayang untuk perkembangan psikologisnya,” tambahnya lagi.
SLB Putra Kami juga menggabungkan anak-anak berkebutuhan khusus dari berbagai tipe dalam satu kelas. Tujuannya sederhana yakni memunculkan kepercayaan diri dan saling mengingatkan seperti keluarga.
Dan untuk mengontrol perilaku dari anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya anak autis, Iin mengatakan bahwa SLB Putra Kami juga menerapkan terapi sebelum masuk sekolah dan saat sudah belajar.
Terapi yang dilakukan sebelum masuk sekolah diperlukan unutk melihat kemampuan anak. Ada enam aspek yang dinilai, yakni aspek komunikasi, perilaku emosional, kemandirian, kognitif, fisik motorik dan interaksi sosial.
Terapi awal seperti ini biasanya berlaku sekitar dua minggu dan bisa berlanjut rutin saat anak sudah mulai bersekolah.
“Jika problem utama adalah komunikasi, maka prioritasnya adalah perbanyak kosakata dan interaksi agar bisa komunikasi. Dan kami juga menanamkan aturan main bersekolah disini, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak. Memang butuh waktu, tapi perilaku mereka ketika bersekolah sangat baik,” tegasnya.
Menjadi Sahabat
Menjadi Sahabat. Moto itulah yang dipegang para pengajar di SLB Kartini Batam. Seorang sahabat tentu saja akan selalu setia kepada temannya hingga akhir.
Sehingga menjadi sahabat bagi anak-anak berkebutuhan khusus memainkan peran penting dalam mendidiknya sebagai manusia yang lebih baik lagi.
Wakil Kepala Sekolah SLB Kartini, Elpa Liskar saat ditemui di SLB Kartini baru saja selesai merayakan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia ke-74, 17 Agustus kemarin.
Raut wajahnya tampak sumringah setelah melihat antusias para pelajar di SLB Kartini dalam mengikuti berbagai lomba 17 Agustus.
“Ada lomba makan kerupuk, lomba balap karung dan lainnya. Disini kami hanya memberikan fasilitas agar anak-anak bermain dengan ceria,” kata Elpa sambil tersenyum ramah.
Setelah menghidangkan teh yang dipadukan dengan penganan sederhana, Elpa kemudian melanjutkan ceritanya. ia menjelaskan bahwa SLB Kartini merupakan salah satu SLB tertua di Batam. Dibentuk sejak tahun 1998, kini memiliki 130 anak didik dan 27 guru.
SLB Kartini ini juga mencatatkan sejumlah prestasi. Contohnya grup musik Miracle yang digawangi oleh lima penyandang tunanetra dan dibentuk pada tahun lalu ini pernah menjadi juara dalam dua kompetisi, yakni juara dua pada Festival Open House Sekolah Tunas Muda Berkarya tingkat pelajar dan juara dua pada acara Music Cover Competition yang digelar di Nagoya Citywalk Batam tahun ini.
Perlu diketahui, selain Miracle, seluruh pesertanya merupakan orang-orang normal.
Kemudian, ada Rafli yang merupakan penyandang tunanetra. Sejumlah prestasi Rafli antara lain juara 1 Lomba Catur tingkat Provinsi dan lanjut ke tingkat Nasional di Medan pada Tahun 2017.
Dan tahun sebelumnya, Juara 1 MTQ Tingkat Provinsi Tahun 2017 dan segudang prestasi lainnya.
Selain itu, masih banyak prestasi lainnya. Elpa sangat bangga dengan prestasi yang dicapai anak-anak didiknya di SLB Kartini.
Untuk mencapai semua itu, proses awalnya tidak mudah. Dilempar sepatu, ditendang, diludahi atau dipukul merupakan sarapan sehari-hari Elpa dan guru-guru lain saat mengajar. Tapi semuanya disikapi Elpa dengan kesabaran.
“Mengajar di SLB itu butuh hari dan kesabaran serta mampu menerima perilaku mereka yang kadang sulit untuk dikontrol,” ungkapnya.
Menurut Elfa, kendala keterbatasan fisik tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti belajar. Justru malah membuat seorang anak berkebutuhan khusus menjadi lebih kreatif dalam memanfaatkan situasi.
Tapi dengan syarat, suasana kekeluargaan harus diciptakan agar bisa mendukung kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus.
“Sekolah adalah keluarga kedua bagi siswa. Kami sebagai guru harus memperlakukan siswa kami seperti anak-anak kami sendiri,” katanya mantap.
Di SLB Kartini ini, program membaca selama 15 menit juga digalakkan. Dalam kesempatan tersebut, guru-guru di SLB Kartini memanfaatkan momen tersebut untuk menceritakan kisah Nabi Muhammad dan para sahabatnya, seperti Abu Bakar, Umar Bin Khottob dan lainnya.
“Kami ingin menanamkan sifat-sifat nabi dan sahabatnya seperti jujur dan amanah kepada siswa kami. Meski dalam keadaan bersalah sekalipun, jujur adalah emas. Dari kisah-kisah nabi juga banyak yang mengajarkan agar selalu menelusuri dulu informasi baik-baik sebelum mencernanya agar tidak termakan hoax,” tegasnya.
Di SLB yang dibentuk oleh adik dari mendiang Presiden Ketiga Indonesia BJ Habibie, Sri Soedarsono ini, penyandang tunanetra seperti Rafli banyak yang berprestasi bagus.
Meski tidak bisa melihat, tapi mereka bisa mendengar lebih baik dan juga meraba. Untuk mengajari penyandang tunanetra baca tulis, pihak SLB juga masih menyertakan peralatan sederhana seperti reglet dan stylus.
Reglet digunakan untuk mengajarkan huruf braille kepada penyandang tunanetra. Namun sistem ini sudah mulai jarang dipakai di SLB.
Makanya sekarang, SLB Kartini juga menggunakan teknologi digital untuk membantu anak-anak penyandang tunanetra baca dan tulis.
Teknologi digital yang dimaksud adalah Program Braille, dimana komputer yang digunakan oleh tunanetra dilengkapi dengan software pembaca layar sehingga tiap tampilan pada monitor dapat diterjemahkan dan dibaca dalam bentuk suara yang mudah dipahami oleh tunanetra.
“Kalau sistem operasinya berbasis Windows, maka digunakan software screen radar JAWS. Cara kerjanya seperti buku yang bersuara. Dengan begitu, maka anak tunanetra dapat mendengar dan menghafalnya.Cara itu cukup baik karena anak tunanetra sangat kuat ingatannya,” ungkapnya.
Sedangkan anak autis dari pengalaman Elpa, banyak yang pintar Bahasa Inggris, matematika dan jago bermain alat musik. Contohnya adalah Lydia dan Aura.
Lydia pernah menjuarai kompetisi penyanyi solo, sedangkan Aura hafal beberapa juz Al-quran dan pintar bermain keyboard . Beberapa diantaranya juga pernah diterima di sekolah reguler.
“Ada manfaat karena diterima sekolah reguler. Manfaat itu biasa didapat karena mereka ikut bergaul dan diterima. Dari anak-anak normal, akan timbul empati untuk menolong dan memperhatikannya. Dan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, maka akan timbul rasa percaya diri akan dirinya sendiri,” paparnya.
Mengajari anak-anak berkebutuhan khusus merupakan kepuasan batin tersendiri bagi guru-guru di SLB Kartini. Disini mereka belajar untuk memupuk rasa kasih sayang kepada yang mereka yang tidak sempurna.
Berperilaku lemah lembut dan tidak pernah marah akan membuat seorang anak berkebutuhan khusus sangat dihargai.
“Mereka mengerti siapa-siapa saja yang berhati tulus. Diajak berkawan, dijadikan sahabat agar bisa dekat dengan hati mereka,” tegas ayah dari dua orang anak ini.
Doa Orang Tua Sangat Penting
Namanya Rafli, usianya 15 tahun. Sejak usia 2 tahun dia mengalami kebutaan. Dia pernah menjadi salah satu peserta didik berkebutuhan Khusus Sekolah Luar Biasa (SLB) Kartini Batam.
Meskipun buta, Rafli memiliki segudang prestasi. Ia yakin prestasi yang diraihnya tersebut tidak lepas dari dukungan dan doa orang tua.
Pasalnya, sejauh ini peserta didik d SMA Kartini ini telah mendulang prestasi lintas akademik baik dari segi musik maupun seni.
“Kekuatan doa orang tua memang menjadi salah satu bekal yang saya bawa untuk mengikuti sejumlah lomba. Baik itu di tingkat Provinsi, dan tingkat Nasional. Selain itu, kita tetap berusaha sekuat tenaga,” ujarnya pada Minggu, 18 Agustus kemarin.
Prestasi yang pernah diraih Rafli antara lain menjadi juara 1 Lomba Catur tingkat Provinsi dan lanjut ke tingkat Nasional di Medan pada Tahun 2017.
Dan tahun sebelumnya, Juara 1 MTQ Tingkat Provinsi Tahun 2017 dan lanjut ke Tingkat Nasional di Surabaya, lalu juara II Lomba Menyarikan Buku tingkat Provinsi Tahun 2018.
Selain itu, Rafli juga mengikuti berbagai lomba yang diadakan di sejumlah kota di Indonesia salah satunya adalah lomba Jambore IT.
Dan pernah mengikuti kegiatan Lomba Menulis Surat Kepada Walikota Batam dan mendapat apresiasi sebagai peserta terfavorit pada tahun lalu ini.

“Selain menjuarai berbagai ajang lomba, saya juga aktif berkarya lewat musik. Sebab sejauh ini saya bercita-cita ingin menjadi erenjer (editing musik),” ulasnya.
Tahun lalu Rafli bersama guru dan sejumlah temannya juga telah menerbitkan buku dengan judul “3 Cahaya Menembus Semesta”.
Lalu, di tahun ini, buku kedua yang berjudul “Village Moon-Kampung Rembulan” juga akan diluncurkan.
Peserta didik yang tinggal di Tiban Masyeba Permai Tahap 3 Nomor 18 ini juga menceritakan, bahwa kondisinya sekarang bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan terjadi setelah lahir.
Kebutaan yang menyebabkan tidak bisa melihat total sekarang ini terjadi karena ia pernah terkena demam tinggi saat usianya dua tahun.
Akan tetapi menurutnya, kondisinya yang sekarang bukanlah halangan agar tetap berprestasi. Rafli, tetap semangat melakukan kegiatan yang ia sukai, sehingga apa yang ia cita-citakan nanti bisa diraih dengan mudah.
“Mungkin nanti setelah menyelesaikan pendidian di tingkat SMP ini, saya akan melanjutkan ke jenjang penjurusan yang lebih spesifik. Saya berkomitmen untuk terus bergelut di bidang musik. Sebab kemampuan saya yang lebih dominan di musik dan komputer, ya sejenis programmer
gitu,” harap Rafli.
Ibunya Rafly, Mariana juga bangga akan prestasi putranya tersebut. Rafli menjadi inspirasi dan motivasi bagi dirinya untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi.
Dari kecil, ia selalu menekankan kepada Rafli bahwa menuntut ilmu itu merupakan hal yang penting. Rafli juga ditekankan untuk belajar mengaji sedari kecil agar keseimbangan antara ilmu dan iman juga tercapai.
“Rafli pernah ikut pendidikan santri di At Thoiyyibah Batam. Makanya dulu sering dijemput ustadz. Ustadznya baca, dia mendengarkan kemudian dihafalkan. Makanya sekarang ia hafal juz’amma. Dulu ia tiap hari mengulang-ngulang apa yang sudah didengarkannya dari ustadz hingga lancar hafalannya,” tutur Mariana.
Rafli juga sangat suka bersosialisasi. Tujuannya sederhana yakni untuk mendapatkan ilmu. Makanya sekarang ia sering bermain-main dengan laptop khusus yang dilengkapi program JAWS agar bisa terus menimba ilmu.
“Rafli ini modelnya begini, dia terus yang memberikan motivas kepada saya. Kalau Rafli semangat dalam bersekolah, saya pun bersemangat jadinya,” kata Mariana menutup pembicaraan dengan pewarta media ini.(*)
