batampos.co.id – Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu (APEGTI) Provinsi Kepulauan Riau, Nurbaini Bagindo, menduga gula rafinasi banyak beredar di Kepri.
Gula dengan pemurnian tinggi ini dijual bebas di pasar-pasar tradisional. Selain dijual murni, sejumlah oknum tak bertanggung jawab juga mengoplosnya dengan gula biasa.
”Gula rafinasi tersebut berukuran lebih halus dibanding gula biasa. Bila dicampur relatif sulit diketahui,” ujar Nubaini, Jumat (27/9/2019).
Berdasarkan pantauan APEGTI, distributor lebih suka menjual gula rafinasi atau yang oplosan dengan gula lokal karena harganya lebih murah, sekitar Rp 5.500-Rp 6.000 per kilogram (kg).
Sementara harga gula biasa atau gula lokal mencapai Rp 12.500 per kg.
”Dan ada juga pedagang yang menjual gula rafinasi seharga yang sama dengan gula biasa,” jelasnya.
“Sehingga keuntungan yang didapatkan tentunya juga akan lebih besar,” katanya lagi .
Ia menegaskan, perbuatan yang dilakukan oleh para oknum pengusaha importir gula rafinasi telah melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 7 tahun 2014 pada pasal 7 tentang Perdagangan.

Atau pasal 142 junto pasal 39 UU Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan dan Pasal 62 UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman lima tahun penjara.
Untuk itu, APEGTI Kepri menyarankan kepada pemerintah untuk segera membentuk tim monitoring pendistribusian gula. Tim ini tentunya untuk memantau peredaran gula rafinasi di Kepri, khususnya di Batam.
”Tim semestinya terdiri dari berbagai pihak instansi terkait. Karena gula rafinasi tersebut banyak didatangkan dari luar negeri, sehingga pintu masuk harus dijaga, baik pelabuhan resmi maupun tidak resmi,” tuturnya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat juga berperan aktif dalam memberantas gula rafinasi karena sangat berbahaya bagi tubuh jika di konsumsi secara langsung dan terus menerus.
Diketahui, gula rafinasi atau gula kristal putih merupakan gula mentah yang telah mengalami proses pemurnian untuk menghilangkan molase.
Sehingga gula rafinasi berwarna lebih putih dibanding-kan gula mentah yang lebih berwarna kecokelatan.
Gula rafinasi banyak digunakan hanya untuk kebutuhan industri seperti pembuatan sirup, roti, gula merah dan industri makan lainya dan bukan untuk di konsumsi langsung karena mutu gula rafinasi lebih tinggi.(gie)
