SEBAGAI kota paling modern di daratan Tiongkok, Shanghai layak disejajarkan dengan kota-kota besar di benua Eropa dan Amerika. Infrastruktur, sistem transportasi, bandar udara, dan pelabuhan laut yang canggih membuat warga Shanghai begitu bangga pada kota mereka.

Simbol modernisasi Tiongkok bahkan tertancap megah di bumi Shanghai. Gedung tertinggi kedua di dunia, Shanghai Tower, adalah lambang kemajuan ekonomi Tiongkok. Shanghai Tower yang memiliki tinggi 632 meter berdiri di Pudong, sebuah kawasan bisnis modern yang dibangun Deng Xiaoping.

Deng adalah Bapak Reformasi Tiongkok, orang yang berjasa besar mengubah haluan ekonomi negara. Kendati secara politik berpaham komunis, namun di sektor ekonomi Tiongkok adalah negara penganut pasar bebas. Untuk yang ini, Deng dikenang dengan ucapannya yang sangat legendaris: kucing boleh hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus. Tiongkok yang komunis, tak mesti tertutup bagi modal asing. Ia boleh memilih sistem ekonomi apa saja, sepanjang bisa mensejahterakan rakyatnya. Sebab, kata Deng, ”menjadi kaya itu mulia.”

Di Shanghai pilihan Deng diuji dan dibuktikan. Kini kota berpenduduk 26 juta jiwa itu berubah jadi megapolitan yang memesona.

Sejak kawasan bisnis Pudong berkembang pesat, Shanghai seolah terbelah dalam dua wilayah. Pertama, Shanghai lama yang didominasi gedung-gedung tua berarsitektur Eropa peninggalan Inggris dan Prancis ketika menduduki Shanghai semasa perang candu. Wilayah kedua adalah Shanghai baru di Pudong yang dihuni bangunan-bangunan pencakar langit dengan arsitektur dan fasilitas terkini.

Kedua wilayah itu dipisahkan oleh Sungai Huang Pu, sungai yang jadi salah satu urat nadi perekonomian Shanghai, tempat hilir mudik kapal-kapal tanker raksasa dan pesiar mewah. Shanghai lama dan Shanghai baru dihubungkan oleh 16 terowongan yang dibangun di bawah Sungai Huang Pu. Keberadaan terowongan-terowongan ini jadi salah satu bukti canggihnya infrastruktur pub-lik di Shanghai.

Pemandangan Shanghai kala malam.
foto: M. Iqbal

Pemandangan Shanghai lama dan Shanghai baru yang dibelah Sungai Huang Pu dapat dilihat dengan jelas dari lantai paling atas Shanghai Tower. View menarik ini, jadi salah satu objek wisata andalan Kota Shanghai. Tiap hari, ribuan wisatawan domestik Tiongkok dan luar negeri antre untuk naik ke puncak Shanghai Tower. ”Mendaki” Shanghai Tower pengunjung sekaligus menempuh sebuah pengalaman baru yakni menaiki lift tercepat di dunia. Dengan kecepatan 73,8 km/jam, dari lantai dasar pengunjung bisa sampai ke lantai 118 hanya dalam waktu 35 detik.

Saat malam hari, pemandangan Shanghai lama dan Shanghai baru lebih menakjubkan lagi. Ini bisa dinikmati dengan mengarungi Sungai Huang Pu menggunakan feri dari dermaga di Shanghai lama. Kerlip cahaya dari gedung-gedung pencakar langit dan bangunan klasik di kedua sisi Shanghai tak pernah membosankan ditatap mata.

Menyusuri Shanghai lama dan Shanghai baru sama asyiknya. Kota ini sangat meng-hargai pejalan kaki dan pengguna sepeda. Hampir di semua ruas jalan tersedia jalur bagi pesepeda dan trotoar yang luas dan bersih bagi pejalan kaki. Nyamannya berjalan kaki sembari berbelanja barang-barang bermerek bisa dilakoni oleh wisatawan yang hobi shopping dengan menjelajahi Nanjing Road. Jalan sepanjang 5,6 kilometer dan lebar sekitar 50 meter ini didesain khusus untuk pejalan kaki. Kiri-kanannya berdiri mal dan toko-toko yang memajang beragam barang-barang mewah. Pengunjung bisa nyaman mengeksplor kawasan ini tanpa khawatir tertabrak kendaraan bermotor.

Ingin mencari oleh-oleh dan suvenir khas Shanghai yang lebih murah? Wisatawan bisa berburu di Pasar Cheng Huang Miao. Kaos i love Shanghai yang ikonik, gantungan kunci, tas, dompet, syal, dan aneka cendera mata dengan harga di bawah 100 yuan berlimpah di sini. Di kawasan ini biasanya sangat mudah berjumpa rombongan wisatawan asal Indonesia.

Shanghai tak hanya menyu-guhkan destinasi modern, pemerintah setempat juga mengelola objek wisata alam. Salah satu yang populer di kalangan pelancong adalah Batu Naga atau Shi Long. Lokasi ini terletak sekitar dua jam perjalanan dari pusat Kota Shanghai melintasi Jem-batan Dong Hai, sepanjang 32,5 kilometer. Jembatan lintas laut terpanjang di dunia ini terbentang di atas Laut Timur Tiongkok dan melewati Pelabuhan Shanghai, yang kini dinobatkan sebagai pelabuhan laut terbesar dunia dengan volume kargo 736 juta ton per tahun.

Jika perut lapar usai menyu-suri Shanghai, mencari makanan halal tidak terlalu sulit. Kini banyak restoran halal berdiri di berbagai pusat perbelanjaan di Shanghai. Atau jika mau lebih mudah, datang saja ke Zhejiang Road. Di sepanjang jalan ini berdiri restoran halal yang mayoritas dikelola oleh Muslim dari Zhinjiang. Menu utama semua restoran halal ini nyaris seragam: daging domba.

Pemerintah Tiongkok gencar mempromosikan keunggulan Shanghai ke luar negara mereka, tidak hanya sebagai daerah tujuan investasi tapi juga sebagai des-tinasi wisata unggulan. Berbagai fasilitas dan objek wisata baru terus dibangun. Perpaduan akar budaya yang kuat terjaga dengan kecanggihan teknologi adalah potret Shanghai hari ini. (bal)