batampos.co.id – Keseriusan Bupati Lingga Alias Wello mendirikan Politeknik Pertanian di Bunda tanah Melayu ini bukan isapan jempol belaka.

Terbukti, pria yang akrab disapa Awe ini mengundang pakar Politeknik Negeri Padang untuk memberikan masukan sekaligus membantu dari segi administrasi, penyusunan kurikulum, serta hal-hal teknis lainnya.

“Bupati Lingga memang sudah menargetkan akan mendirikan Politeknik Pertanian untuk perkembangan pendidikan khususnya bagi putra daerah,” kata Asisten Ekonomi Kabupaten Lingga, Yusrizal yang memimpin rapat mewakili Bupati Lingga, belum lama ini.

Adapun pakar yang diundang membahas pendirian Politeknik Pertanian adalah Ir. Suhendrik Hanwar, M.Si. serta Ir.Henriyawan Adnan Moodto, M.Kom.

Mereka memberikan presentasi terkait makalah, reformasi kebijakan pembukaan program studi pada perguruan tinggi dan pendirian/perubahan perguruan tinggi swasta tahun 2019.

Rapat tersebut juga dihadiri Kadis Pendidikan, perwakilan OPD terkait, serta tenaga administrasi Politeknik Pertanian Lingga. Acara digelar di Gedung Daerah Dabo Singkep, Jumat (27/9/2019) pagi.

Salah seorang narasumber memberikan pemaparan terkait rencana pembangunan Politeknik Pertanian di Kabupaten Lingga. Foto: Wijaya Satria/batampos.co.id

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, dijelaskan untuk mewujudkan keterjangkauan dan pemerataan yang berkeadilan dalam memperoleh pendidikan tinggi yang bermutu dan relevan dengan kepentingan masyarakat bagi kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan, diperlukan penataan pendidikan tinggi secara terencana, terarah dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek demografis dan geografis.

Undang-Undang ini dijabarkan lagi dengan terbitnya Permenristek Dikti Nomor 51 tahun 2018 tentang pendirian, perubahan, pembubaran perguruan tinggi negeri dan pendirian, perubahan, pencabutan izin perguruan tinggi swasta.

Berlandaskan aturan tersebut, menurut narasumber yang hadir, pendirian perguruan tinggi sangat sederhana karena hanya membutuhkan sumber daya manusia.

Mulai dari ketersediaan dosen, tenaga administrasi dan mahasiswa. Sedangkan untuk sarana prasarana mulai dari ketersediaan ruang kuliah, ruang dosen, kantor dan administrasi, serta perpustakaan, laboratorium dan tempat praktek.

Tentunya, keseluruhan syarat tersebut, mulai dari jumlah dosen, luas lahan dan luas gedung, luas kelas haruslah berdasarkan standar yang sudah ditetapkan.

“Syarat lainnya adalah penyusun kurikulum, karena sesungguhnya roh dan jantungnya Politeknik berada di sini,” ujar salah seorang narasumber yang hadir.(Wijaya)