Kamis, 16 April 2026

Mandiri, Berani Ajukan Cerai

Berita Terkait

batampos.co.id – Tingginya angka perceraian yang datang dari gugatan pihak istri tak terlepas dari kondisi psikologis mereka. Tak hanya di Batam, fenomena ini juga marak terjadi di daerah lain di Indonesia.

“Pada prinsipnya, keberanian para wanita menggugat karena merasa sudah lebih man­diri secara ekonomi. Berbeda dengan wa­nita zaman dulu, yang bergantung hidup ke­pada prianya (suami),” ujar psikolog Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, Riko Jaya Saputra.

Ketika prinsip itu tertanam, lanjutnya, maka jalan pintas melalui perceraian pun mudah dilakukan meski dipicu dengan alasan-alasan yang sederhana. Selain faktor ekonomi, gaya hidup juga bisa memicu para perempuan menggugat cerai suaminya.

Apalagi di era digital sekarang ini, siapa saja bebas dan mudah mengakses media sosial.
Riko menjelaskan, melalui media sosial, seseorang dapat dengan mudah menemukan teman lama, atau bahkan mantan pacar. Berangkat dari situ, para istri bisa terpengaruh untuk mengakhiri biduk rumah tangganya demi bisa kembali ke pelukan sang mantan.

ilustrasi

Kalau sudah begini, Riko menyarankan agar mereka konsultasi ke orang yang tepat. Baik psikolog maupun rohaniawan sehingga perceraian bisa dihindari.

“Sayangnya hal ini tidak menjadi habit di masyarakat kita, sehingga yang berkonsultasi tidaklah banyak,” sebutnya.

Selama 10 tahun ia bertugas di RSAB Batam sebagai psikolog, alumni UI ini mengaku pasien dalam kasus perceraian kebanyakan dari wanita (istri), yang sengaja datang berkonsultasi sendiri. Menurutnya, wanita dalam kondisi tertentu akan lebih gampang terbuka dan emosionalnya mudah terluapkan saat berbicara empat mata.

“Dalam kondisi itulah, pandangan dari psikolog-nya akan mudah dicerna. Setidaknya, untuk membantu agar rumah tangga tetap dapat dipertahankan, terutama yang sudah memiliki anak,” ungkap Riko.

Hal senada di sampaikan pengacara dari Ambrastha Waskitha Justice Lawfirm, Alfi Ramadania. Menurut dia, seorang istri berani menggugat cerai suaminya karena memiliki pendapatan yang lebih besar dari sang suami.

Baru-baru ini, ia menangani kasus di mana si istri penghasilannya lebih besar dari sang suami. Keduanya sama-sama bekerja. Si istri merasa bebas bergaul di lingkungan kerjanya, menjadi perempuan independen. Sementara si suami, karena penghasilannya lebih rendah dibandingkan istri, merasa rendah diri.

“Bukannya memperbaiki diri atau mengajak istri berbicara dari hati ke hati, malah sang suami mencari pelarian dengan mencari wanita idaman lain. Kalau ketahuan, ya istrinya mengajukan cerai,” katanya.

Menurut pengacara yang akrab disapa Nia ini, kalau pasangan suami istri saling terbuka, saling melengkapi mencari solusi atas hubungan rumah tangga yang mereka jalani, perceraian akan bisa dihindari.

“Komunikasi terbuka paling penting. Itu selalu saya tekankan,” ujar Sekretaris DPC Peradi Sai Batam ini.

Sementara psikolog anak RSAB Batam, Maryana, mengatakan perceraian akan selalu berdampak pada anak. Bahkan kerap menimbulkan trauma pada anak.

“Mau pada usia anak masih kecil atau anak sudah dewasa, tetap akan menimbulkan trauma itu,” ucap Maryana.

Sebagai orang tua, perceraian yang membutuhkan proses panjang itu dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi anak agar tidak mengalami trauma mendalam karena orang tuanya berpisah.

Edukasi itu dapat diterapkan dengan memberikan pemahaman dan pendekatan yang tepat sesuai usia anak, sehingga mudah dimengerti anak.

“Orang tua wajib untuk jujur kepada anak bahwa mereka bercerai. Anak tidak boleh dibohongi,” tegasnya. (nji)

Update