Entah apa yang merasukimu hingga kau tega menghianatiku…”. Itu salah satu bunyi poster aksi demonstrasi mahasiswa di depan gedung DPR-MPR Selasa (24/9) lalu. Kalimat tersebut memang penggalan lirik lagu yang dipopulerkan DJ Gagak yang sedang hit itu. Tidak heran, poster tersebut sangat viral di linimasa media sosial hari-hari ini.

“Ini salah satu poster yang ka­­mi angkat,” kata Anandes Lang­guana saat ditemui di kan­tornya di lantai 4 kantor Kemen­dikbud di Jakarta, Jumat (27/9/2019).

Pria yang menjabat Kepala Seksi Bidang Informasi Kemendikbud itu menyampaikan, ada yang keliru dalam poster itu secara tata bahasa. Yakni, kata ”menghianatiku”. Seharusnya, papar dia, ejaan yang benar adalah ”mengkhianatiku”.

”Inilah sisi lain dari aksi mahasiswa. Ternyata bisa dipakai sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia,” tutur Anandes. Setelah melalui proses verifikasi, ada lima poster yang diunggah dalam akun Instagram (IG) Kemendikbud. Poster lain bertulisan ”Negara sudah darurat sampai introvert rela ikut demo”. Yang dikoreksi dalam kalimat itu adalah kata ”introvert”. Ejaan yang benar adalah ”introver” karena sudah diserap bahasa Indonesia.

Selain itu, ada kalimat ”Jangan matikan keadilan, matikan saja mantan ku”. Kesalahan kalimat tersebut terletak pada kata ”mantan ku”. Anandes menjelaskan, setiap menunjukkan kata ganti milik (”-ku”), tulisannya selalu digandeng. Karena itu, tulisan yang benar adalah ”mantanku”.

Ada juga kalimat lain. ”Pak Rektor, kami izin kuliah dijalan”. Yang dikoreksi adalah kata ”dijalan”. Penulisan yang benar adalah ”di jalan”. Sebab, ”di” dalam kalimat tersebut menunjukkan kata depan (preposisi) sebagai keterangan tempat.

Tidak semua dimasukkan ke slide posting-an di Instagram. Tim Kemendikbud juga mempertimbangkan sisi etis sebuah poster. Sebab, ada juga poster yang gambarnya tidak etis dipublikasikan. ’’Itu menjadi pertimbangan juga untuk di-posting,” ujar pria 39 tahun tersebut.

Ide untuk mengoreksi poster bikinan mahasiswa muncul secara tiba-tiba. Ide itu kali pertama diusulkan Desliana Maulipaksi, anggota tim komunikasi Kemendikbud. Desliana mengatakan, kegiatan yang disebut patrol tata bahasa itu baru pertama diadakan.

”Ide muncul spontanitas karena melihat keseruan aksi mahasiswa,” tuturnya.

DARI kiri, Desliana Maulipaksi, Anandes Langguana, Shahwin Purnomo Aji, dan M. Khosi dari Tim Komunikasi Kemdikbud.
F. Umar Wirahadi/Jawa Pos

Dia tergelitik dengan maraknya poster-poster yang bertebaran di media sosial. Desliana mengungkapkan, poster aksi mahasiswa kali ini terbilang unik dan berbeda. Sisi kreativitas muncul dari kalimat yang ditulis dalam poster.

”Sindirannya mengena ke sasaran,” ujarnya.

Salah satunya, ”Itu DPR atau lagunya Afgan? Kok Sadis”. Tulisan dalam poster sesuai dengan karakter milenial yang suka mengikuti tren. Ingin menjadi bagian dari perubahan dan menyukai hal-hal kekinian.

”Poster-poster itu khas milenial. Ini berbeda sekali dengan demo-demo yang menonjolkan kalimat-kalimat perlawanan,” tutur alumnus Universitas Padjadjaran (Unpad) itu.

Bagaimana hasilnya? Unggahan tersebut sukses memancing reaksi warganet. Hingga kini, total 211.933 akun menyukai posting-an dengan 8.913 komentar.
Komentar pun beragam. Namun, sebagian besar menyambut positif posting-an tersebut.

’’Baru tahu demo ternyata bisa menjadi media pembelajaran bahasa Indonesia. Terima kasih Kemdikbud,” tulis netizen dengan akun bernama rahayuastuti077. Ada yang men-support dengan komentar ’’naikkan gaji admin,” tulis akun atas nama ibu_elis.

Selain komentar positif, banyak pula yang komentar negatif dan sinis. Banyak komentar tersebut yang menohok. Misalnya, ’’Hasil kerja demonstran diperbaiki, hasil kerja pejabat diabaikan,” tulis Sebastian_Campbel.

Ada pula komentar ”Jangan cuma bisa mencari kesalahan mahasiswa. Cari juga kesalahan para koruptor,” tulis akun TimorLeste 01. Ada juga yang seperti ini: ”Kemdikbud hanya jago mengoreksi mahasiswa. Giliran DPR dan pemerintah yang salah diam saja,” tulis akun Yudi Kurniawan.

Membaca komentar-komentar miring tersebut, Desliana Maulipaksi mengaku tidak emosi. Dia mengatakan, seluruh tim komunikasi Kemendikbud yang membawahkan pengelolaan admin IG Kemendikbud tidak marah. Sebab, itu bagian dari aspirasi mahasiswa.

’’Prinsipnya, kami tidak boleh baper (bawa perasaan, red). Pro-kontra itu biasa,” imbuhnya.

Sikap sabar admin terlihat dari tanggapan atas akun-akun yang melayangkan protes miring. Setiap pernyataan miring dijawab dengan sabar.

Misalnya, ’’Admin mengapresiasi perjuangan mahasiswa yang berjuang dan membuat poster-poster yang kreatif. Bahasa adalah bagian dari pendidikan dan kebudayaan. Di Kemdikbud juga ada unit kerja bernama Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. Salam literasi,” tulis admin.

Tim Komunikasi Kemendikbud lainnya, Shahwin Purnomo Aji, menuturkan bahwa tim awalnya ragu mem-posting poster-poster mahasiswa tersebut. Ada kekhawatiran akan menambah suasana semakin panas. Maklum, aksi mahasiswa pada 24 September lalu, misalnya, terbilang mencekam dan berlangsung hingga larut malam.

’’Ini adalah patroli tata bahasa. Tujuan kami memang untuk media pembelajaran. Buktinya, respons netizen juga bagus,” tuturnya.

Sejak konten tersebut tayang pada 24 September, follower akun Kemendikbud terkerek naik signifikan. Selama empat hari hingga Jumat (27/9) lalu, ada penambahan follower sampai lebih dari 10 ribu. Saat ini follower IG Kemendikbud menjadi 876.000.

”Ini juga bentuk komunikasi yang kreatif. Jangan sampai institusi pemerintah dicap kaku,” imbuh Shahwin Purnomo Aji.

Aksi demonstrasi mahasiswa di gerbang DPR-MPR benar-benar menyedot perhatian warganet di media sosial. Di Twitter, misalnya. Data dari Indonesia Indicator sepanjang tanggal 22–26 September menyebutkan, percakapan tentang demo mahasiswa yang menolak revisi UU KPK, RUU KUHP, dan RUU kontroversial lainnya mencapai 572.951 kali.

Dari jum­lah itu, 87,5 persen warganet yang merespons adalah ke­lompok milenial. (*/c10/oni)