Tanaman eceng gondok yang menjamur di Dam Duriangkang mengusik hati Isna. Setiap kali melintasi Dam Duriangkang, dirinya kerap berbicara sendiri. Apa yang bisa dihasilkannya dari tanaman dengan mana latin eichhornia crassipes itu.

Dhiyanto, Batam

Puluhan kilo eceng gondok menyesaki halaman rumah Isna yang berada di Bukit Ayu Lestari Blok B1 Nomor 8, Sei Beduk, Kota Batam.

Tanaman yang dianggap gulma oleh kebanyakan masyarakat itu justru memiliki nilai jual tinggi setelah “disulapnya” menjadi aneka barang.

Kepada batampos.co.id, Isna menuturkan, sebelum menjadi pengrajin anyaman eceng gondok, ia berkreasi dengan membuat sepatu dari benang wol.

Ia mengatakan terjun menjadi pengrajin eceng gondok sejak 2017 lalu. Dengan modal awal Rp 500 ribu.

Dari kemampuannya itu pula, akhirnya ibu rumah tangga itu mengubah eceng gondok menjadi berbagai barang berguna. Seperti topi, tempat tisu, keranjang, tas, hingga kursi.

Isna mengatakan, untuk menghasilkan barang yang berkualitas, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan terhadap eceng gondok.

Salah satunya adalah tahap pengeringan. Eceng gondok yang baru diambil dijemur dengan durasi empat hingga lima hari. Dengan catatan cuaca benar-benar panas.

Namun jika musim penghujan, waktu pengeringan bisa lebih lama yaitu delapan hingga sembilan jam.

“Setelah dijemur eceng gondok akan berubah warna dari hijau menjadi coklat. Untuk mengambil eceng gondok ini saya dibantu pak Sugeng Kasi di Dekranasda Kota Batam” jelasnya, Senin (30/9/2019).

Isna (kanan) bersama rekannya memperlihatkan hasil kerajinan tangan berbahan dasar eceng gondok. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Setelah itu kata dia, barulah “benang” eceng gondok dapat dirajut sesuai dengan yang dinginkan.

Dengan kepiawaiannya itu, Isna kini dapat membuat sekitar 100 hingga 150 produk setiap bulannya.

“Saya dibantu sama ibu-ibu di sekitar rumah untuk membuat kerajinan tangan dari eceng gondok,” jelasnya.

Kata dia, benda-benda yang dibuatnya dari eceng gondok tidak jauh beda dengan daerah lainnya. Hanya saja eceng gondok hasil karyanya memiliki rajutan yang menjadi ciir khas Kota Batam.

Kata Isna, perawatan benda-benda berbahan dasar eceng gondok sangat mudah. Hal utama yang dilakukan agar benda tersebut awet adalah menyimpan atau meletakkannya di tempat yang kering.

“Kalau kotor cukup di lap saja dengan kain basah,” jelasnya. Isna menjelaskan dengan perawatan seperti itu benda-benda yang terbuat dari eceng gondok bisa bertahan hingga dua tahun lebih.

Keranjang dari olahan eceng gondok yang dimanfaatkan menjadi tempat tidur kucing. Foto: istimewa untuk batampos.co.id

Menurutnya kerajinan yang dibuatnya itu dibanderol dengan harga mulai Rp 25 ribu hingga Rp 15 juta.

Dari usahanya itu, Isna kini dapat mengantongi omset Rp 9 juta hingga Rp 12 juta per bulan.

Menembus Pasar Internasional

Ternyata Isna tidak hanya memasarkan produk-produknya di dalam negeri saja. Tapi juga ke negara tetangga, Singapura dan ke negara adidaya, Amerika Serikat.

Isna menjelaskan untuk memasarkan produknya tersebut, ia dibantu rekannya yang berada di kedua negara itu.

Katanya masyarakat di dua negara itu sangat senang dengan barang-barang yang terbuat dari alam atau yang dikenal dengan sebutan back to nature.

Sugeng (kiri), Isna (tengah) dan Lurah Seibeduk, Heryawan, berfoto bersama saat mengikuti pameran beberapa waktu lalu. Foto: Istimewa untuk batampos.co.id

Ia mengatakan saat ini ada sekitar 40 komunitas pengrajin eceng gondong di Kota Batam.

Lurah Sei Beduk, Heryawan, mengatakan, sangat bangga dengan hasil karya warganya tersebut.

Selain itu, ia mengapresiasi usaha yang dirintis Isna. Karena selain dapat memperkenalkan Kota Batam dengan produknya, Isna sedikit banyaknya dapat memberikan sedikit lapangan kerja untuk ibu-ibu rumah tangga di sekitar perumahannya.

“Pemerintah akan terus mendukung usaha-usaha dari pelaku UMKM speeri ibu Isna ini,” ujarnya.