batampos.co.id – Saya bersama enam kawan bertandang ke Kota Hohhot, Inner Mongolia, Tiongkok (16/9/2019).

Hohhot ialah sebuah kota dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Sejuk.

Setiba di bandara saya membasuh muka. Hiii…. Dingin airnya. Mak nyess gitu.

Keluar dari bandara angin pegunungan menyapa.

Hari itu masih pukul 17.30-an. Langit masih terang. Di kejahuan nampak gunung menjulang.

Bener deh, andai tak harus kembali pulang mau saja lah tinggal di sana. Hawanya itu enak sekali.

Hohhot boleh dibilang kota kecil. Pendudukanya 3 juta jiwa lebih sedikit. Namun fasilitas umumnya wow…. Jalan yang kami lalui lebar-lebar. Setidaknya ada 5 lajur dalam satu ruas jalan.

Ada pula ruas untuk motor, sepeda dan pejalan kaki. Lajur utama tetaplah mobil yang melintasi.

Suasana jalan di Hohhot.

Tak banyak motor yang lalu lalang di sana. Kalau pun ada ialah motor listrik.

Sepeda nampak lebih banyak.

Pemerintah di sana menyediakan angkutan umum yang bagus dan murah. Untuk naik bus, jauh dekat cukup bayar 1 RMB, sekira Rp 2 ribuan gitu.

Bus di sana tidak menggunakan solar tetapi gas alam. Jadi lebih ramah lingkungan dan knalpot tak lagi mengeluarkan asap hitam.

Udara bersih, hawa sejuk… Pas lah. Nyaman untuk tinggal.

Makan malam bersama Ms Qi Muge (berpangku dagu).

Adalah Ms Qi Muge dari Kantor Urusan Luar Negeri Hohhot yang menerima saya dan kawan-kawan.

Ia ialah orang asli Mogolia dimana Hohhot menjadi salah satu kota didalamnya. Ia menjelaskan Inner Mongolia dengan sangat lugas. Termasuk budayanya.

Orang mongol tak memiliki marga.

Sapi di tengah padang rumput.

Orang Mongol beternak kambing dan sapi. Mereka memiliki hamparan padang rumput yang sangat luas untuk menggembala kambing dan sapi. Tentu saja kuda. Sayang, waktu berkunjung ke sana tak lah pas betul. Rumput sudah nampak menguning. Jika tidak rumput di sana bisa setinggi 50 centimeter. Seekor kambing bisa mudah sembunyi diantara rumput.

Kuda Mongol berkaki pendek namun kokoh. Sanggup melakukan perjalanan jauh.

Tak heran kudapan khas di Inner Mongolia ialah kambing dan sapi.

Cukup cocolkan daging itu ke saus yang tersedia. Hmmm….

Dimasak aneka rupa. Ada yang macam disemur dengan kentang, atau macam ditumis gitu.

Sebut saja ini semur ya…

Ada pula yang dibikin semisal hot pot di sini. Kalau di sini hot pot diisi seafood, di Hohhot daging sapi.

Daging sapi fillet ini nikmat setelah direndam di kuah panas.

Yang jelas dimasak apapun semuanya pas di lidah. Beneran deh.

Dua hari di sana tidak pernah lepas dari makan dua penganan itu. Siang dan malam makan kedua daging itu. Tak bosan.

Bahkan di hotel saat sarapan pun jumpa dimsum yang isinya daging kambing. Ada pulau sih semacam pao yang isinya daging kambing.

Untuk sementara saya mengurangi makan nasi diganti makan daging dan sayur saja.

Selain karena rasa pas di lidah, ukuran potong daging keduanya

Pao isi daging kambing.

besar. Tak besar sangat tapi lebih besar dari irisan sate kambing di sini.

Anehnya, rahang tak lelah menguyah.

Dagingnya sangat mudah dikunyah. Entah sebab kualitas daging atau memang mereka punya cara masak yang jitu sehingga tidak hanya rasa tetapi mudah untuk dikudap.

Selain daging kambing dan sapi menu yang terhidang biasanya ada ayam maupun bebek. Ada pula sayur yang ditumis.

Resto halal di Hohhot.

Di tepi jalan terdapat beberapa resto dengan tanda halal di depan. Oleh karenanya tak susah sangat menemukan makanan halal di sana.

Memang ada warga muslim di sana. Masjid pun ada.

Menurut Ms Qi Muge Hohhot berharap ada banyak turis dari Batam. Hohhot punya gunung, Batam memiliki pantai.

Ms Qi Muge sendiri pernah ke Indonesia. Satu hal yang ia terkesan ialah ….. buah alpukat. (ptt)