Jumat, 10 April 2026

Jalin Kerjasama dengan Industri, Ciptakan SDM Andal Hadapi Era Industri 4.0

Berita Terkait

Pelan tapi pasti, tren industri di Batam akan segera beralih dari industri berteknologi rendah menuju industri berteknologi tinggi berbasis 4.0. Kebutuhan terhadap sumber daya manusia (SDM) yang berkompetensi akan semakin meningkat. Batam sudah bersiap untuk itu, karena sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) di kota industri ini sudah menggembleng siswa-siswinya dengan pendidikan vokasi industri yang bermutu tinggi.

Rifki Setiawan Lubis, Batam

Seperti hari-hari biasa, Wildan Maulana masih rutin mengecek rangkaian sistem pneumatik yang dibuatnya beberapa bulan yang lalu.

Saat itu, ia sedang mengatur tekanan udara dari kompresor. Nantinya, udara yang disedot oleh kompresor ini akan memiliki tekanan tinggi dan kemudian tersimpan pada tabung udara.

Dalam kamus teknik, pneumatik adalah sebuah sistem penggerak yang menggunakan tekanan udara sebagai penggeraknya.

Wildan yang merupakan pelajar SMK Negeri 1 Batam itu memang sangat menyukainya dan sering mempraktikkanya di sesi praktikum yang berlangsung hingga pukul 17.00 WIB.

“Pneumatik itu merupakan cakupan materi pembelajaran dari kelas mekatronika. Cakupannya memang luas, tapi itu membuat jurusannya sangat fleksibel karena menguasai banyak hak,” kata Wildan saat ditemui di Kantin SMK 1 Batam, Selasa (1/10/2019) kemarin.

Wildan saat ini duduk di kelas 2 dan sangat menyukai mekatronika. Ia tertarik dengan jurusan tersebut sejak masih SMP.

“Saya sangat penasaran dengan mekatronika. Banyak yang bilang jurusan ini bagus untuk investasi masa depan,” ungkapnya.

Pada awalnya, ia mengaku bahwa mempelajari mekatronika sangat berat.

“Karena sebenarnya mekatronika ini merupakan kombinasi antara mekanika, informatika dan elektronika. Ditambah lagi, di SMK 1, sistem pembelajarannya cukup ketat,” paparnya.

Tapi perasaan berat itu hanya di awal-awal saja. Karena setelahnya, justru Mekatronika menjadi wadah proses pembelajaran yang menyenangkan.

“Cukup menantang dan membuat kami banyak tahu,” katanya pelajar berusia 17 tahun ini.

Karena memiliki cakupan pembelajaran yang luas, maka tak heran jika Wildan mempelajari pemrograman website, mesin bubut, dan kelistrikan dalam satu paket.

Pelajar kelahiran Cianjur, Jawa Barat ini juga ikut mempelajari perkembangan zaman lewat media sosial.

Sebagai kaum milenial, ia mengetahui bahwa mekatronika sangat cocok dikuasai karena saat ini tren industri tengah beralih dari era industri berteknologi rendah menuju era industri berteknologi tinggi yang mengandalkan teknologi digital. Atau bahasa kerennya, era industri 4.0.

“Menurut pendapat saya, era industri 4.0 yang mengandalkan proses otomasi ini membuat kita bersemangat meningkatkan kompetensi kita,” paparnya.

Makanya, ia berpendapat pilihan menekuni mekatronika merupakan pilihan yang tepat.

Jurusan ini membuat lulusannya sangat fleksibel karena menguasai beberapa disiplin ilmu yang berkaitan dengan dunia industri di Batam.

“Peluang kerjanya cukup banyak. Dan Alhamdulillah, lulusan kami nanti sudah ada kontrak dengan industri,” ungkapnya.

Dari sudut pandang kaum milenial seperti Wildan, perusahaan-perusahaan industri di Batam butuh SDM yang fleksibel dan menguasai banyak bidang.

“Peluang mencari pekerjaan juga sangat bagus. Karena kalau belum dapat di industri elektronik, bisa mencari ke industri mekanik,” jelasnya.

Kelas mekatronika merupakan salah satu program pendidikan vokasi industri bersama antara SMK 1 Batam dengan perusahaan industry asal Jepang, PT Epcos Indonesia. Program ini digulirkan sejak tahun 2014.

Epcos sendiri merupakan produsen terkemuka di Indonesia yang bergerak di bidang komponen elektronik dan modul otomotif, industri dan teknologi informasi. Pabriknya berada di Kawasan Industri Batamindo, Batam.

Selain Epcos, SMK 1 juga menjalin kerja sama dengan Schneider asal Prancis. Kerja sama SMK 1 dengan Schneider terwujud dalam kelas yang dinamai kelas otomasi industri.

Tiap Sabtu, guru tamu asal Schneider akan datang untuk mengajari teknik industry kepada siswa-siswa di kelas tersebut.

Adapun materi yang diajarkan sudah disesuaikan dengan kurikulum nasional yang diselaraskan dengan kebutuhan industri.

Salah seorang guru tamu yakni Budi Sulistyarto mengatakan kelas otomasi industri ini diciptakan untuk menghasilkan lulusan yang spesialis soal energi listrik.

SDM yang andal di bidang kelistrikan memang dibutuhkan Schneider yang bergerak di bidang produsen alat-alat listrik.

Budi yang juga merupakan Digital Transformation Leader Schneider ini menuturkan bahwa saat ini, Schneider memang tengah beralih menuju era industri 4.0. Industri 4.0 sangat akrab dengan penggunaan robot dalam proses produksi.

Meskipun begitu, Schneider tidak akan mengganti karyawannya dengan robot. Hingga saat ini, jumlah karyawan Schneider berjumlah 3.000 orang.

“Tidak semua proses bisa digantikan otomasi. Lagipula dari skala investasi, keuntungan yang diperoleh melalui padat karya masih lebih bagus daripada menggunakan robot yang berbiaya mahal. Kami hanya menggunakan robot untuk pekerjaan yang benar-benar berat dan critical saja,” ungkapnya.

Menurut Budi, SDM muda di Batam memiliki kompetensi. Hal itulah yang membuat Schneider masih bertahan di Batam dan memutuskan untuk ikut serta dalam mengembangkan SDM muda lewat program vokasi industry di SMK 1.

”Kalau dibandingkan dengan Vietnam yang lebih murah gajinya, masih jauh lebih bagus kita. Bahkan tenaga kerja dari Batam banyak yang dikirim Schneider ke Vietnam untuk membantu kegiatan disana,” paparnya.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tamu dari Schneider selalu mengajarkan basis-basis mengenai dasar teknik indsutri.

“Bagaimana itu proses industri, disiplin manufaktur dan standar keselamatan dan keamanan dalam bekerja,” ungkapnya.

Ketika memasuki kelas dua, maka proses pembelajaran akan mulai mengarah ke otomasi indsutri.

”Nanti yang dipelajari lebih bersifat logika. Semuanya berhubungan dengan pemrograman mesin. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi dua arah. Jadi tidak hanya saya yang berikan materi, tapi saya minta salah seorang siswa menjelaskannya kepada teman-temannya,” jelasnya.

Setelah lulus, maka langkah awal dimulai dengan Schneider memprioritaskan lowongan pekerjaan kepada lulusan SMK 1.

”Dari level SMK akan dimulai dari bagian operator. Kalau mau bagian engineering dan staff bisa lanjutkan ke jenjang berikutnya seperti di Politeknik dan lainnya. Tapi jika skill yang bagus, Schneider biasanya memberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi,” katanya.

Sedangkan Kepala Sekolah SMK 1 Batam, Lea Lindrawijaya Suroso mengatakan selain kelas mekatronika Epcos dan kelas otomasi industry Schneider, SMK 1 juga menjalin kerja sama dengan Axioo.

“Dengan Schneider, buka kelas otomasi industri sejak tahun 2007. Dan dengan Axioo, buka kelas teknik dan komputer jaringan sejak tahun 2015,” kata Lea.

Sejak lama, Lea menyadari bahwa tenaga kerja lokal di Batam kurang berkompetensi dalam bidang industri, padahal Batam berorientasi pada industri.

Atas dasar tersebut, SMK 1 mulai menjalin pendekatan dengan sejumlah industri di Batam.

Langkah awal dimulai dengan mengajukan proposal kerja sama di bidang vokasi industri ke perusahaan-perusahaan industri yang ada di Batam.

Dari sekian banyak perusahaan yang coba diajak bekerja sama, Schneider adalah perusahaan pertama yang tertarik dengan penawaran tersebut.

“SMK itu kan harus hasilkan lulusan yang siap kerja karena di Batam itu juga orientasi ke industri. Nah berarti kami dan industri itu harus memiliki hubungan yang erat,” ungkapnya.

Gaung vokasi industri, khususnya pendidikan otomotif sudah lama dikumandangkan di Jawa. Dalam hal ini, Batam agak sedikit tertinggal.

Makanya SMK 1 Batam mulai coba beradaptasi dan percobaan pertama dengan Schneider berjalan lancar.

“Kami tawarkan rekayasa elektronik kepada Schneider dan mereka tertarik. Lalu terlibat dalam diskusi panjang sampai kelas industri pun terealisasi,” paparnya.

Pada awalnya, nama kelas industri ini yakni kelas listrik industri. Alasannya karena Schneider merupakan produsen alat-alat listrik terkemuka di dunia. Pabriknya sendiri berada di Kawasan Industri Batamindo, Batam.

Namun seiring perjalanan waktu, nama kelas akhirnya diubah demi mengikuti tren perkembangan industri. Sehingga saat ini namanya menjadi kelas otomasi industri.

Untuk membantu proses pendidikan, Schneider secara berkala sering memberikan bantuan berupa peralatan praktikum.

“Komitmen yang kami jalin dengan Schneider ini, yakni saat anak-anak lulus, maka Schneider akan mengutamakannya ketika ada lowongan kerja. Tapi itu tergantung juga dari kondisi perusahaan.

Schneider juga industri, ada saatnya naik dan ada saatnya turun. Jadi disesuaikan dengan kebutuhan,” tuturnya.

Kelas otomasi industri Schneider hanya satu kelas. Jumlah siswanya ada 25 orang.

Siswa SMKN 1 Kota Batam sedang praktikum di kelas mekatronika. Foto: SMKN 1 Batam untuk batampos.co.id

Untuk bisa masuk ke kelas ini, tentu melewati proses yang tidak mudah, dimulai dari proses administrasi, psikotes serta tes-tes umum seperti Matematika, Bahasa Inggris dan lainnya.

Sedangkan dengan Epscos, kerja sama dimulai lima tahun yang lalu. Kelasnya juga hanya satu dan diisi oleh 20 siswa.

Keunggulan kelas mekatronika Epcos ini yakni lulusannya bisa kerja di Epcos, minimal dua tahun.

“Ditambah lagi tiap bulan selama proses pendidikan diberikan uang bulanan Rp 300 ribu untuk biaya pendidikan,” jelasnya.

Kelas mekatronika Epcos ini mengadopsi konsep pendidikan dari Jerman, yakni Duale System.

Konsep ini menekankan siswa agar separuh waktu belajarnya dilakukan di sekolah dan separuhnya lagi bekerja di industri.

Disamping penanaman kompetensi dalam dunia industri, SMK 1 Batam juga menekankan pendidikan karakter kepada siswa didiknya.

“Soal etika ini penting. Sikap yang baik dari karyawan akan membuat pengusaha nyaman. Dua-duanya punya hak dan kewajiban, karyawan bekerja dapat gaji. Makanya selama mau jadi karyawan harus tunduk pada peraturan perusahaan,” paparnya.

Cara penanaman etika dimulai dari disiplin. Jadwal belajar dimulai pada pukul 07.00 WIB. Kalau lewat pukul 07.00 WIB, maka pagar akan ditutup.

Setelah itu, maka sekitar 1.800 siswa SMK 1 Batam akan disuruh berbaris dalam lima menit. Tujuannya untuk melatih perilaku disiplin sejak dini.

Di perusahaan industri, waktu adalah uang. Karyawan harus tunduk dan patuh mengikuti jadwal kerja perusahaan. Lea ingin siswa-siswa SMK 1 Batam memahami hal tersebut.

Selain dengan tiga perusahaan yang sudah disebut yakni Epcos, Schneider dan Axioo, SMK 1 Batam juga menjalin kerja sama dengan 120 perusahaan industri yang ada di Batam.

Tapi bentuk kerja samanya bukan melalui kelas vokasi industri, melainkan perusahaan menerima anak magang dari SMK 1.

Bukan hanya proses magang saja, 120 perusahaan industri itu juga membuka kesempatan lowongan kerja kepada lulusan SMK 1 Batam.

Bulan Agustus lalu, perusahaan Panasonic baru saja membuka bursa kerja di sekolah negeri tersebut.

“Tiap bulan itu, selalu ada perusahaan yang berbeda-beda yang mencari rekrutmen baru disini. Sudah tiga tahun terakhir ini, Panasonic percaya dengan performa anak-anak didik kami,” ungkapnya.

Selain Panasonic, Sumitomo yang bergerak di bidang produksi kabel harness untuk peralatan otomotif dan elektronik juga sering mencari rekrutan karyawan baru dari SMK 1 Batam.

Anak-anak SMK 1 memang bukan hanya memiliki skill yang bagus, tapi juga karakter yang baik.

Tiap bulan, ada sekitar 50 siswa SMK 1 yang direkrut perusahaan-perusahaan industri di Batam

“Sesuai kompetensi yang ada, mereka sebenarnya lebih mengutamakan sikap. Karena sebagus apapun skill kalau susah disuruh, tidak ada gunanya,” jelasnya.

Hingga saat ini, SMK 1 Batam memiliki 57 kelas yang diisi oleh 1.836 siswa. Total jurusan ada enam yang terdiri dari mekatronika, otomasi industri, elektronika industri, permesinan, teknik komputer jaringan dan pengelasan. Jumlah guru ada 102 yang dibantu oleh 41 staff pegawai.

Kerja sama dengan sejumlah perusahaan industri memang sudah berlangsung belasan tahun.

Langkah SMK 1 Batam juga semakin mudah dengan terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing SDM Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, jumlah angkatan kerja selalu berfluktuasi, Pada tahun 2014, jumlah tenaga kerja mencapai 537.914 jiwa.

Kemudian meningkat pada tahun 2015 menjadi 558.038 jiwa dan meningkat lagi pada tahun 2017 mencapai 605.518 jiwa tapi menurun pada tahun 2018 menjadi 604.831 jiwa.

Dari jumlah tersebut, lulusan SMA dan SMK yang bekerja hanya 20 persen saja. Contohnya pada tahun 2014, ada 201.239 lulusan yang bekerja.

Lalu menurun menjadi 194.210 lulusan yang bekerja. Pada tahun 2017, terus menurun menjadi 179.024 lulusan dan mengalami peningkatan kembali menjadi 190.737 lulusan pada tahun lalu.

Untuk meningkatkan kompetensi dan serapan kerja dari lulusan SMK sederajat, vokasi industri memang penting.

Pasalnya, kemajuan teknologi di sektor industri semakin tak bisa dihindari. Industri di Batam saat ini tengah bergerak ke arah revolusi industri 4.0. yang ditandai dengan penerapan teknologi dalam sistem operasional industri.

“Era digitalisasi ini berpotensi memberikan peningkatan net tenaga kerja hingga 2,1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025 di seluruh dunia,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hoeing.

Revolusi industri 4.0 ini memang tak bisa ditolak, karena berbagai lini kehidupan sudah mulai menerapkannya.

Mulai dari sistem pendidikan, pemerintahan, sistem transaksi jual beli, pelayanan kesehatan dan lainnya.

Di Batam sendiri, sudah ada sejumlah perusahaan yang menerapkan teknologi 4.0 dalam operasionalnya, seperti Infineon Technologies, Siix, Ciba Vision, Schneider Electric, Rubycon, Flextronics dan lainnya.

Tipikal industri seperti ini akan mampu menarik lokomotif industri pendukung lainnya lebih optimal.

Tapi, di sisi lain, karena sistemnya sudah otomatis, maka perusahaan industri akan mengandalkan robot dan hanya sedikit merekrut tenaga kerja.

Itupun hanya tenaga kerja yang terampil di bidang teknologi industri 4.0.

“Kalau industri manufaktur kita mau naik kelas, suka tidak suka harus beralih ke industri 4.0. Saat ini, mayoritas masih gunakan teknologi revolusi industri 1.0 hingga 3.0. Tapi teknologi industri 4.0 akan meningkatkan produktivitas, tenaga kerja dan memperluas pasar,” tegasnya.(*)

Update