Sabtu, 11 April 2026

YIACI: SKM Bukan Diperuntukkan Bagi Balita

Berita Terkait

batampos.co.id – Stunting atau kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya masih menjadi persoalan yang harus ditangani pemerintah.

Di Provinsi Kepri sendiri, penanganan gizi buruk termasuk bagus dengan angka kurang dari 13 persen.

Sementara di Batam memiliki prevalensi stunting sebanyak 23,5 persen. Di semester pertama 2019, penderita stunting di Batam meningkat di angka 5,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 1,35 persen. Penyebabnya adalah kurangnya asupan nutrisi anak.

Selain itu, faktor geografi terhadap layanan kesehatan serta rendahnya pengetahuan ibu menjadi pemicu meningkatkan stunting anak.

Dari peningkatan itulah Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), bersama pengurus pusat muslimat NU menjalin kerjasama edukasi bijak mengkonsumsi makanan yang bernutrisi.

Ilustrasi Susu Kental Manis (SKM). (Pixabay)

Ketua Harian YIACI, Arif Hidayat, mengatakan, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum paham dalam memberikan nutrisi kepada anaknya.

Seperti misalnya memberikan anak untuk mengkonsumsi susu kental manis (SKM). Padahal kata dia, dalam produk SKM tak ada sama sekali kandungan susu sapi.

“Yang ada hanya krimer dan gula saja. Itu salah satu kebiasaan masyarakat atau orangtua masih ada memberikan balitanya SKM sebagai pengganti asi,” katanya, Kamis (3/10/2019).

“SKM bukan diperuntukkan bagi balita,” katanya lagi.

Menurutnya, masyarakat sudah terlalu lama termakan iklan yang menyesatkan terkait SKM.

“Karena itu perlu pengawasan terhadap promosi dan penggunaan SKM oleh masyarakat,” paparnya.

“Kita (YAICI) ingin mengedukasi dengan melakukan intervensi langsung kepada masyarakat bahwa SKM itu tidak baik untuk balita dan bisa menyebabkan diabetes, gizi buruk dan juga stunting,” jelasnya.(gas)

Update