Jumat, 10 April 2026

Gagal Penuhi Target Pertumbuhan Ekonomi

Berita Terkait

batampos.co.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah berjanji akan membuat ekonomi Indonesia tumbuh hingga 7 persen dalam kurun waktu lima tahun masa pemerintahannya.

Namun, hingga akhir jabatannya bersama Wapres Jusuf Kalla, be­lum pernah sekalipun pe­merintah berhasil mencapai target pertumbuhan eko­nomi yang direncanakan.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018, sejak 2014 ekonomi nasional hanya mampu tumbuh di level 5,02 persen.

Angka tersebut jauh berbeda dari asumsi dasar yang dipasang pemerintah dalam APBN, yakni sebesar 5,5 persen.

Alih-alih semakin naik, angka pertumbuhan ekonomi nasional pada 2015 malah turun, yakni 4,88 persen.

Angka tersebut turun drastis dan menjadi yang paling rendah sejak enam tahun sebelumnya.

Sedangkan pada 2016, ekonomi nasional yang ditargetkan sebesar 5,1 persen kembali tidak mampu direalisasikan pemerintah.

Tercatat, pertumbuhan ekonomi di tahun itu hanya berada di level 5,02 persen.

Selanjutnya, pemerintah juga tidak bisa merealisasikan pertumbuhan ekonomi di level 5,2 persen pada 2017.

Sepanjang tahun 2017, perekonomian nasional hanya berada tumbuh di angka 5,07 persen.

Terakhir, tahun 2018 pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,17 persen. Angka ini pun lagi-lagi tidak sejalan dengan target yang ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABNP) 2018 sebesar 5,4 persen.

Pemeritah gagal memenuhi target pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen dalam kurun lima tahun terakhir. Terlihat aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Batuampar, Batam, belum lama ini. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Menteri Perencanaan Pem­ba­ngunan Nasional (PPN/Ke­pala Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, untuk sektor ekonomi, komposisi capaian ekonomi selama lima tahun adalah 50:50.

“Untuk pertumbuhan ekonomi, kita lihat rata-rata pertumbuhan ekonomi selama lima tahun ini di seputaran 5 persen. Memang lebih rendah dibandingkan RPJMN lima tahun sebelumnya yang rata-ratanya itu mendekati 5,5-6 persen,” kata Bambang di kantor Presiden, Jakarta, Kamis (3/10).

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN, kata Bambang, mencakup lima sektor yang menjadi target pemerintah.

Yakni perkembangan ekonomi, pembangunan manusia dan masyarakat, pengem-bangan sektor unggulan, pemerataan dan kewilayahan, serta pembangunan politik hukum pertahanan keamanan.

Khusus perkembangan ekonomi, Bambang mengatakan, ekonomi Indonesia pada saat itu dihadapi oleh banyak fenomena global. Sehingga beberapa target dalam RPJMN meleset.

“Akibatnya kita tumbuh di seputar 5 persen yang mungkin dianggap lebih rendah. Tapi paling tidak ini termasuk yang relatif tinggi untuk ekonomi sebesar Indonesia, di bawah negara seperti Cina dan India tapi di atas masih banyak negara lainnya,” jelas dia.

Sedangkan indikator perekonomian yang mencapai target, seperti inflasi, tingkat pengangguran, dan kemiskinan terus turun sesuai target.

“Yang sulit tercapai terkait pertumbuhan ekonomi atau tax ratio yang masih di bawah sasaran atau target,” ungkap dia.

Menurut Mantan Menteri Keuangan ini, tidak tercapainya pertumbuhan ekonomi karena target dalam RPJMN sangat tinggi, yaitu sekitar 7-8 persen.

Hal itu menjadi sangat tinggi setelah fenomena booming komoditas berakhir pada 2014.

“Mengenai target pertumbuhan ekonomi misalkan yang rata-rata 7 persen, bahkan 2019 itu targetnya 8 persen, itu mungkin yang terlalu tinggi dikaitkan dengan dinamika ekonomi global yang arahnya tidak ke situ,” kata Bambang.(jpg)

Update